Rangers vs Celtic: Old Firm di Perempat Final Piala Liga

Rangers vs Celtic akan tersaji di perempat final Piala Liga Skotlandia musim ini. Duel Old Firm itu menjadi hadiah bagi Rangers setelah berhasil menyingkirkan juara bertahan Premier Sports Cup, St Mirren, dengan kemenangan telak 5-1. Hasil undian ini sekaligus memastikan Derek McInnes langsung menghadapi ujian besar di awal kariernya sebagai manajer Rangers.

Laga ini menjadi sorotan utama karena mempertemukan dua raksasa sepak bola Skotlandia di babak delapan besar, jauh sebelum partai final. Bagi McInnes, laga ini akan menjadi pengalaman pertamanya merasakan atmosfer Old Firm di bangku kepelatihan. Tidak mengherankan jika publik sepak bola Skotlandia langsung menantikan pertandingan yang digelar di kandang Rangers ini.

Rangers vs Celtic: Duel Old Firm yang Paling Dinanti

Rangers akan tampil sebagai tuan rumah saat menjamu Celtic di babak delapan besar. Tiket tersebut didapat setelah anak asuh Derek McInnes menghajar juara bertahan St Mirren dengan skor 5-1 pada Minggu lalu. Kemenangan itu tercatat sebagai kemenangan perdana McInnes bersama Rangers sekaligus modal berharga menjelang laga berat melawan Celtic.

Hasil undian ini membuat Rangers vs Celtic menjadi laga yang paling banyak menyita perhatian di perempat final. Kedua tim tentu mengincar tiket ke semifinal, tetapi gengsi Old Firm membuat pertandingan ini terasa lebih dari sekadar perebutan tempat. Berikut hasil undian lengkap perempat final Piala Liga Skotlandia:

  • Rangers vs Celtic
  • Stenhousemuir vs Heart of Midlothian
  • Ross County vs Hibernian
  • Kilmarnock vs Aberdeen

Jalan Menuju Perempat Final Piala Liga

Kilmarnock menjadi tim pertama yang memastikan tempat di delapan besar setelah menaklukkan rival sekotanya, Ayr United, dalam laga yang berakhir dengan torehan lima gol. Pertandingan itu berlangsung sengit hingga menit akhir dan menjadi salah satu laga paling menarik di babak sebelumnya. Sementara itu, Aberdeen melaju mulus setelah menang 3-0 atas Dundee di Pittodrie pada Sabtu.

Ross County juga memastikan langkahnya ke perempat final setelah mengalahkan Dunfermline dengan skor 2-1. Celtic tampil paling garang dengan membantai Dundee United 4-0 di Tannadice, sekaligus memberi sinyal bahwa mereka datang dalam performa terbaik. Satu kejutan terbesar datang dari Stenhousemuir yang menyingkirkan Motherwell melalui babak perpanjangan waktu.

Debut Old Firm Derek McInnes Bersama Rangers

Kemenangan telak 5-1 atas St Mirren membuat McInnes memulai masa baktinya sebagai manajer Rangers dengan hasil positif. Namun tantangan sesungguhnya baru akan dimulai, karena ia harus menghadapi Celtic yang merupakan rival terbesar Rangers. Laga ini akan menjadi ajang pembuktian pertama bagi McInnes di tengah tekanan besar dari para pendukung.

Menariknya, laga Old Firm pertama McInnes sebagai manajer Rangers sebenarnya dijadwalkan berlangsung di Celtic Park pada Minggu, 20 September. Namun dengan adanya undian ini, pertemuan itu justru lebih dulu digelar di seberang kota, tepatnya di kandang Rangers. Dengan begitu, McInnes berkesempatan menjalani debut Old Firm-nya di hadapan pendukung sendiri.

Jadwal dan Konteks Laga Perempat Final

Seluruh pertandingan perempat final akan dimainkan pada akhir pekan 12-13 September. Stenhousemuir, yang tampil mengejutkan setelah menyingkirkan Motherwell, akan menjamu runner-up Liga Skotlandia musim lalu, Hearts. Ross County, di sisi lain, akan menerima kunjungan Hibernian di Dataran Tinggi Skotlandia.

Kilmarnock vs Aberdeen menjadi laga lain yang mempertemukan dua tim dari kasta tertinggi sepak bola Skotlandia. Pertandingan ini diprediksi berjalan ketat karena kedua tim memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda. Adapun laga Ross County kontra Hibernian juga patut dinantikan, dengan faktor kandang yang bisa menjadi pembeda bagi Ross County.

Dampak Duel Rangers vs Celtic bagi Kedua Tim

Bagi Rangers, laga ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan bahwa era baru di bawah McInnes mampu bersaing dengan tim terbaik. Kemenangan 5-1 atas St Mirren menunjukkan lini serang Rangers tajam, tetapi ujian sesungguhnya adalah menghadapi Celtic yang baru saja mencetak empat gol. Keunggulan bermain di kandang sendiri menjadi modal yang tidak bisa disia-siakan.

Bagi Celtic, hasil telak di babak sebelumnya membuat mereka datang dengan rasa percaya diri tinggi. Namun laga tandang di markas Rangers selalu memiliki atmosfer yang berbeda dan penuh tekanan. Pertandingan ini pun bisa menjadi penentu kepercayaan diri kedua tim dalam persaingan musim ini.

Secara keseluruhan, perempat final Piala Liga Skotlandia musim ini menyajikan beberapa laga menarik, dengan Rangers vs Celtic sebagai laga yang paling dinantikan. McInnes mendapat kesempatan langka untuk merasakan atmosfer Old Firm lebih awal sekaligus membuktikan kapasitasnya sebagai manajer Rangers. Semua mata kini tertuju pada akhir pekan 12-13 September, ketika delapan tim berjuang merebut tempat di semifinal. Satu hal yang pasti, duel dua raksasa Glasgow ini akan menjadi pembicaraan hangat hingga hari pertandingan tiba.

Gosip Transfer: Suzuki ke Villa, Arsenal Buru Osimhen

Gosip transfer musim panas kembali memanas dengan sederet kabar mengejutkan. Aston Villa dikabarkan sedang bernegosiasi untuk merekrut kiper Jepang Zion Suzuki dari Parma. Langkah ini muncul setelah rencana pemain berusia 23 tahun itu bergabung dengan Paris St-Germain gagal di menit-menit akhir.

Di sisi lain, ketertarikan Villa pada Suzuki disebut-sebut membuka peluang Juventus untuk memboyong Emiliano Martinez. Situasi ini menjadi bagian dari hiruk-pikuk bursa transfer yang melibatkan klub-klub besar Eropa seperti Arsenal, Barcelona, hingga Manchester City. Kabar-kabar ini tentu membuat para penggemar menantikan pergerakan klub kesayangan mereka pada bursa musim panas ini.

Gosip Transfer Kiper: Suzuki ke Villa, Martinez ke Juventus?

Aston Villa disebut tengah bernegosiasi dengan Parma untuk mengamankan jasa Zion Suzuki. Kiper Jepang berusia 23 tahun itu sebelumnya dianggap bakal bergabung dengan Paris St-Germain. Namun kesepakatan tersebut batal dan membuka jalan bagi Villa untuk masuk ke dalam persaingan mendapatkan pemainnya.

Ketertarikan Villa terhadap Suzuki rupanya berdampak pada masa depan Emiliano Martinez. Juventus disebut makin optimistis bisa merekrut kiper Argentina berusia 33 tahun tersebut dari Villa. Martinez sendiri merupakan salah satu kiper terbaik di Premier League, sehingga tak mengherankan jika banyak klub besar Eropa meminatinya.

Rodri Jadi Target Utama Barcelona

Barcelona kabarnya percaya diri bisa mendapatkan Rodri dari Manchester City pada bursa transfer musim panas ini. Klub asal Katalan itu telah mengajukan tawaran ketiga senilai 70 juta euro atau setara £59,8 juta untuk gelandang asal Spanyol tersebut. Manajemen Barca meyakini angka tersebut cukup untuk membujuk City melepas Rodri yang kini berusia 30 tahun.

Rodri selama ini dikenal sebagai salah satu gelandang bertahan terbaik di dunia. Ia menjadi tulang punggung permainan Manchester City sejak didatangkan dari Atletico Madrid. Kehilangan pemain sekaliber Rodri tentu bukan perkara mudah bagi City, apalagi jadwal kompetisi musim depan yang padat menuntut kedalaman skuad yang mumpuni.

Arsenal Wajib Bayar Lebih demi Osimhen

Arsenal harus mengeluarkan dana lebih dari £60 juta jika ingin membawa pulang Victor Osimhen dari Galatasaray pada musim panas ini. Striker asal Nigeria berusia 27 tahun itu memang menjadi salah satu target utama The Gunners untuk memperkuat lini depan. Galatasaray tidak akan melepas Osimhen dengan harga murah, mengingat kualitasnya yang sudah teruji di berbagai kompetisi.

Osimhen sebelumnya bersinar di Napoli dan membawa klub tersebut meraih gelar scudetto sebelum akhirnya berkarier di Galatasaray. Ketajamannya di depan gawang membuat banyak klub besar Eropa meliriknya. Arsenal sendiri sangat membutuhkan striker tajam untuk menemani lini serang mereka musim depan.

Perburuan Striker Lain: Jackson, Gakpo, dan Delap

Chelsea membanderol Nicolas Jackson dengan harga £60 juta. Striker asal Senegal berusia 25 tahun itu menarik minat sejumlah klub, termasuk Aston Villa, Tottenham, dan Atletico Madrid. Chelsea tampaknya tidak mau melepas Jackson dengan harga murah mengingat kontribusinya yang cukup apik di lini serang.

Di sisi lain, Cody Gakpo dikabarkan sudah menyampaikan keinginannya untuk meninggalkan Liverpool dan bergabung dengan Tottenham. Pemain depan asal Belanda berusia 27 tahun ini merasa perlu mencari tantangan baru setelah beberapa musim di Anfield. Sementara itu, Liam Delap yang berstatus pemain Chelsea justru ingin bertahan di Premier League meskipun ada tawaran dari Como.

Newcastle dan Everton kabarnya terus memantau situasi Delap. Pemain berusia 23 tahun itu tampaknya lebih memilih bertahan di kompetisi terketat Inggris dibandingkan pindah ke Serie A. Keputusan akhirnya tentu akan bergantung pada negosiasi antara Chelsea dan klub-klub peminat.

City dan Newcastle Berebut Gelandang

Manchester City sedang bernegosiasi untuk merekrut Ayyoub Bouaddi dari Lille. Gelandang asal Maroko berusia 18 tahun ini menjadi salah satu talenta muda paling menjanjikan di Eropa. Lille mematok harga minimal £85 juta untuk melepasnya, angka yang terbilang besar untuk pemain seusianya.

Newcastle United juga tidak mau ketinggalan dalam perburuan gelandang. Klub asal Inggris utara itu dikabarkan kembali menghidupkan pembicaraan untuk merekrut Joao Palhinha dari Bayern Munchen. Gelandang asal Portugal berusia 31 tahun itu juga diminati oleh Aston Villa dan Benfica, sehingga persaingannya dipastikan sengit.

Inter Incar Curtis Jones, Benfica Buru Tosin

Inter Milan berencana melepas Luis Henrique untuk mendanai perekrutan Curtis Jones dari Liverpool. Winger asal Brasil berusia 24 tahun itu disebut akan dijual agar Inter punya dana segar. Jones, gelandang asal Inggris berusia 25 tahun, diperkirakan dibanderol sekitar 40 juta euro atau £34 juta.

Dalam gosip transfer lainnya, Benfica dikabarkan tertarik merekrut Tosin Adarabioyo dari Chelsea. Bek asal Inggris berusia 28 tahun ini kehilangan tempat di skuad utama Chelsea musim ini. Situasi tersebut membuat klub asal Portugal itu melihat peluang untuk membawanya pindah ke Liga Portugal.

Penutup

Bursa transfer musim panas selalu menghadirkan kejutan, dan deretan kabar di atas menunjukkan betapa dinamisnya pergerakan klub-klub Eropa dalam membentuk skuad. Mulai dari perombakan lini kiper di Villa hingga perburuan striker oleh Arsenal dan Chelsea, semuanya masih bisa berubah sewaktu-waktu. Yang jelas, penggemar sepak bola akan terus disuguhi drama transfer yang menarik hingga bursa resmi ditutup.

Perlu diingat bahwa kabar-kabar ini masih sebatas rumor dan belum ada yang resmi dikonfirmasi oleh klub maupun pemain terkait. Negosiasi bisa berlanjut, gagal, atau berubah arah dalam hitungan hari. Tetaplah menantikan perkembangan selanjutnya dari gosip transfer ini.

Brian Madjo Catat Debut Impresif untuk Aston Villa

Brian Madjo akhirnya mencatatkan debut yang mengesankan bersama Aston Villa, meskipun timnya harus menelan kekalahan 2-1 dari Paris Saint-Germain pada UEFA Super Cup di Salzburg, Rabu. Penyerang berusia 17 tahun itu langsung menunjukkan kualitasnya setelah delapan bulan tidak bisa tampil dalam laga kompetitif. Ia bahkan mencetak gol penyeimbang sebelum akhirnya PSG memastikan kemenangan lewat gol Desire Doue di babak kedua.

Perjalanan Madjo menuju laga ini tidak mudah. Pemain yang didatangkan dari Metz pada Januari dengan nilai transfer £10 juta itu harus menunggu 212 hari sebelum akhirnya diberi kesempatan membela Villa. Ia sebelumnya diblokir FIFA untuk didaftarkan, sampai Villa memenangkan banding di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) hanya delapan hari sebelum pertandingan di Austria.

Penantian 212 Hari Brian Madjo dan Pertarungan Regulasi FIFA

Villa sebenarnya sudah berjuang sejak awal tahun untuk mendapatkan izin mendaftarkan Madjo yang bertinggi 6 kaki 4 inci. Masalahnya, pemain di bawah 18 tahun tidak bisa menyelesaikan transfer internasional secara normal. Klub asal Birmingham itu berargumen bahwa Madjo lahir di London sehingga seharusnya dikecualikan, meskipun ia sempat mencatatkan tiga caps untuk Luksemburg di laga persahabatan.

FIFA memang membuka pengecualian untuk pemain di bawah umur, termasuk jika pemain berusia 16 atau 17 tahun pindah di dalam Uni Eropa. Inggris sendiri tidak lagi menjadi bagian dari Uni Eropa, sehingga kasus Madjo harus diselesaikan melalui jalur hukum. Villa membawa kasusnya ke CAS pada Juli, dan kemenangan akhirnya datang delapan hari sebelum laga melawan PSG.

Setelah izin itu turun, Madjo langsung dimasukkan ke skuad yang terbang ke Salzburg. Padahal sebelumnya ia tidak tercantum dalam daftar awal pemain. Keputusan itu terbukti tepat karena ia mampu memberi kontribusi nyata di laga besar.

  • Madjo bergabung dari Metz pada Januari dengan nilai transfer £10 juta.
  • Ia menunggu 212 hari untuk debut kompetitif bersama Aston Villa.
  • Villa memenangkan banding CAS delapan hari sebelum laga kontra PSG.

Penampilan Madjo saat Lawan PSG

Dalam laga ini, Emery memilih menurunkan Madjo sebagai ujung tombak. Ollie Watkins diistirahatkan setelah menjalani tugas Piala Dunia, sementara Tammy Abraham memulai laga dari bangku cadangan. Madjo, yang sudah mencetak empat gol pramusim, bersama penyerang muda lain George Hemmings diberi kesempatan tampil, dan ia membayar kepercayaan itu dengan mencetak gol penyama kedudukan, memanfaatkan umpan silang John McGinn dan menahan tekanan bek timnas Ekuador, Willian Pacho, sebelum melepaskan voli.

Sebelum golnya, Madjo sebenarnya sempat membuang dua peluang emas. Ia menyundul bola melewati gawang dari jarak tiga yard dan melepaskan tembakan yang melebar. Namun ia terus merepotkan lini belakang PSG, termasuk bek tengah dan kapten Marquinhos yang sudah 11 kali juara Ligue 1. Golnya sendiri bisa dibilang peluang terberat dari tiga peluang yang ia miliki di babak pertama.

Gol Madjo membatalkan keunggulan PSG yang lebih dulu dicetak Khvicha Kvaratskhelia. Sayangnya, PSG memastikan kemenangan lewat Desire Doue di babak kedua setelah melalui pemeriksaan video assistant referee (VAR). Madjo tampil cakap menggantikan Watkins sebelum akhirnya digantikan oleh Abraham pada 18 menit terakhir.

Pujian Unai Emery dan Dion Dublin untuk Madjo

Manajer Aston Villa, Unai Emery, memuji performa Madjo bukan hanya karena golnya. Menurut Emery, Madjo tampil karena telah menunjukkan kapasitas kerja dan tuntutan tinggi dalam latihan. “Ini bukan hanya soal mencetak gol, tapi juga bertahan dan bagaimana dia memiliki komitmen serta disiplin taktikal. Dia melakukan itu,” kata Emery.

Emery juga menegaskan ingin memberi kesempatan kepada pemain muda untuk berkembang. Madjo sebelumnya sudah mencetak gol di laga pramusim melawan Walsall dan Real Sociedad. Pelatih asal Spanyol itu menekankan bahwa para pemain muda harus tetap konsisten dan tampil di level yang sama jika ingin terus dipercaya.

Mantan penyerang Villa, Dion Dublin, juga memberikan pujian setelah melihat mentalitas Madjo. Dublin menilai pemain 17 tahun itu berani kembali ke posisi mencetak gol setelah gagal memanfaatkan peluang. “Dia senang memikul tekanan di pundaknya. Di usia 17, dia tampak melakukannya dengan mudah,” ujarnya kepada BBC Radio 5 Live.

Dampak untuk Lini Depan Villa dan Saga Transfer

Ketersediaan Madjo kini memberi Emery opsi dan dilema jelang laga pembuka Premier League melawan Brighton pada 23 Agustus. Villa sebelumnya dikabarkan mencari penyerang anyar, dengan Nicolas Jackson dari Chelsea menjadi target musim panas. Kehadiran Madjo yang tampil impresif bisa mengubah rencana belanja klub, setidaknya dalam jangka pendek.

Villa juga tengah aktif di bursa transfer musim panas ini. Mereka sudah menjual Morgan Rogers ke Chelsea dengan rekor £117 juta dan Youri Tielem

Bursa Transfer Arsenal: Siapa Pemain Incaran Berikutnya?

Bursa transfer Arsenal pada jendela transfer kali ini berjalan campur aduk. Klub London Utara itu gagal dalam perburuan publik terhadap winger Real Madrid, Vinicius Jr, tetapi berhasil memboyong kapten Newcastle United, Bruno Guimaraes, dengan nilai transfer £75 juta. Kini, publik menanti langkah berikutnya yang akan diambil Arsenal sebelum tenggat waktu penutupan bursa.

Kehadiran Guimaraes menegaskan ambisi Arsenal untuk menang sekarang, mengikuti jejak perekrutan Martin Zubimendi dan Viktor Gyokeres pada musim panas lalu. Gelandang asal Brasil itu diharapkan langsung meningkatkan level dan persaingan di skuad besutan Mikel Arteta. Situasi makin mendesak karena dua bek andalan, Jurrien Timber dan William Saliba, dipastikan absen di awal musim akibat cedera, sehingga Arsenal harus bekerja keras untuk mempertahankan gelar juara mereka.

Bursa Transfer Arsenal: Gagal Dapatkan Vinicius Jr, Sukses Boyong Guimaraes

Kegagalan mendatangkan Vinicius Jr menjadi salah satu kisah paling ramai dalam bursa transfer Arsenal. Klub asal London Utara itu sempat terang-terangan mengejar pemain sayap Real Madrid tersebut, tetapi langkah mereka akhirnya kandas. Vinicius justru memperpanjang masa baktinya di Santiago Bernabeu dengan menandatangani kontrak baru berdurasi enam tahun.

Namun, Arsenal tidak larut dalam kekecewaan. Mereka bergerak cepat mengamankan tanda tangan Bruno Guimaraes dari Newcastle United dengan mahar £75 juta. Guimaraes menjadi bukti nyata bahwa Arsenal serius bersaing di papan atas dan ingin menambah kualitas instan ke dalam skuad.

Arteta sendiri masih membuka pintu untuk rekrutan baru sebelum bursa ditutup. “Kami sedang mencoba melakukannya. Jika ada pemain yang tepat di pasar dan bisa membuat kami jauh lebih baik, kami akan mengambilnya,” ujar manajer asal Spanyol itu. Dengan jadwal padat dan tuntutan mempertahankan gelar, kehadiran pemain-pemain baru menjadi kebutuhan yang mendesak.

Opsi Pemain Sayap yang Masih Tersedia untuk Arsenal

Mencari winger sekelas Vinicius Jr memang bukan perkara mudah, apalagi dengan angka produktivitas yang setara. Direktur olahraga Andrea Berta harus jeli membaca pasar untuk menemukan pemain yang tepat, dan ia selalu memastikan setiap kesepakatan memberi nilai bagi klub. Arsenal sejatinya memasuki bursa transfer dengan rencana menambah satu hingga dua penyerang, dengan syarat pemain tersebut mampu membawa klub ke level berikutnya.

Arsenal sebenarnya sudah mendatangkan Christos Tzolis dari Club Brugge sebagai pengganti Leandro Trossard yang hengkang. Pemain berusia 24 tahun itu mencatatkan 22 gol dan 29 assist di semua kompetisi musim lalu, angka yang luar biasa untuk ukuran seorang pemain sayap. Meskipun sulit untuk mengulang catatan tersebut, Tzolis tampil sebagai salah satu pemain paling bersinar selama pramusim Arsenal.

Selain Tzolis, Arsenal sempat menjajaki kemungkinan mendatangkan Bradley Barcola dari Paris Saint-Germain. Namun, PSG mematok harga di atas £100 juta untuk winger asal Prancis itu, dan Liverpool juga ikut dalam perburuan. Sementara itu, Morgan Rogers sempat menjadi target Arsenal sebelum akhirnya pindah ke Chelsea dari Aston Villa dengan nilai £117 juta, dan Arsenal tidak bersedia melewati batas £80 juta untuk pemain asal Inggris tersebut.

Arsenal sebenarnya masih memiliki opsi internal untuk mengisi pos sayap kiri. Eberechi Eze dan Noni Madueke bisa dimainkan di peran tersebut, dan Eze sempat tampil dari sisi kiri dalam beberapa laga besar Arsenal pada akhir musim lalu. Ketersediaan pemain menjadi pertimbangan besar bagi Arteta, sehingga opsi internal ini tetap relevan untuk dipertimbangkan.

Kenan Yildiz dan Nico Williams: Kandidat Kuat Sayap Kiri

Salah satu nama Eropa yang masuk daftar incaran Arsenal adalah Kenan Yildiz dari Juventus. Pemain berusia 21 tahun itu tampil impresif di musim 2025-26 dengan mencetak 11 gol dan 10 assist dari 47 penampilan di semua kompetisi. Kemampuannya bermain di berbagai posisi lini depan membuatnya semakin menarik di mata Arteta.

Catatan Yildiz juga didukung oleh data Opta. Hanya Bruno Fernandes (98) dan Romano Schmid (77) yang menciptakan lebih banyak peluang open-play daripada dirinya di lima liga top Eropa musim lalu. Selain itu, hanya Vinicius (43) yang lebih unggul dalam menciptakan peluang setelah membawa bola, dengan Yildiz mencatatkan 37.

Sayangnya, Yildiz baru saja menandatangani kontrak anyar berdurasi empat tahun bersama Juventus. Sumber menyebutkan bahwa Juventus tidak bersedia melepas pemain asal Turki itu dalam jendela transfer ini. Artinya, Arsenal harus mencari alternatif lain atau menunggu kesempatan di bursa berikutnya.

Opsi lain yang pernah dilirik Arsenal adalah Nico Williams dari Athletic Bilbao. Winger asal Spanyol ini dinilai bisa menambah daya ledak di lini serang yang kerap dikritik terlalu mudah ditebak. Williams memiliki kontrak hingga 2035 dengan klub asal Basque itu, tetapi ada laporan yang menyebut keberadaan klausul rilis dalam kontraknya.

Musim lalu, Williams menuntaskan 43,8 persen dari 153 percobaan dribelnya, dengan torehan enam gol dan tiga assist dalam musim yang terganggu cedera. Berdasarkan Opta, ia rata-rata melakukan 8,2 dribel per 90 menit di La Liga, hanya kalah dari Lamine Yamal, Kevin, dan Jeremy Doku di lima liga top Eropa. Namun, riwayat cederanya dan potensi harga yang tinggi membuat Arteta harus berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan.

Bek Baru Jadi Prioritas di Tengah Badai Cedera

Arsenal akan mengawali musim dengan setengah lini belakang utama mereka dalam kondisi cedera. Jurrien Timber dan William Saliba dipastikan absen, sehingga setiap bek yang direkrut harus siap tampil sejak menit pertama. Karena itu, Arsenal tidak bisa asal membeli pemain; mereka membutuhkan pemain yang langsung bisa bermain.

Ezri Konsa dari Aston Villa menjadi salah satu target utama Arsenal. Bek asal Inggris ini dikenal andal sebagai bek tengah sekaligus bisa dimainkan sebagai bek kanan. Statusnya sebagai starter timnas Inggris dan peran pentingnya di Villa membuat banderolnya ditaksir mencapai £60 juta.

Selain Konsa, Arsenal juga memantau Cristian Romero yang merupakan kapten Tottenham Hotspur. Jika transfer ini benar-benar terjadi, itu akan menjadi perkembangan yang sensasional dan kebanggaan tersendiri bagi penggemar Arsenal. Namun, Atletico Madrid juga dilaporkan mengejar Romero, dan Spurs hampir pasti tidak ingin memperkuat rival sekota mereka, sehingga peluang kesepakatan ini tampak tipis.

Menambah Amunisi di Lini Serang

Salah satu perekrutan besar Arsenal pada bursa musim panas lalu adalah Viktor Gyokeres. Penyerang asal Swedia itu didatangkan untuk membawa timnya meraih trofi, dan ia sukses mencetak 21 gol di semua kompetisi. Meski begitu, perjalanannya tidak selalu mulus, dan masih ada pertanyaan soal kemampuan teknis serta kecocokannya dengan skema serangan Arsenal.

Karena itu, Arsenal dikabarkan memiliki ketertarikan kuat pada Julian Alvarez dari Atletico Madrid. Striker asal Argentina itu ingin hengkang dan sudah pernah merasakan Premier League bersama Manchester City, sehingga dipastikan akan langsung meningkatkan kualitas lini depan Arsenal. Namun, Barcelona juga memburu pemain yang sama, dan persaingan ketat diprediksi akan terjadi hingga akhir bursa.

Arah Bursa Transfer Arsenal ke Depan

Arsenal juga harus menyeimbangkan keuangan klub di tengah aktivitas belanja mereka. Gabriel Jesus, Gabriel Martinelli, dan Reiss Nelson dikabarkan bisa dilepas jika ada tawaran yang sesuai dengan nilai yang ditetapkan klub. Gelandang asal Denmark, Christian Norgaard, sudah lebih dulu hengkang ke Everton, sementara masa depan pemain akademi Ethan Nwaneri masih belum jelas.

Sejauh ini, Arsenal sudah mendatangkan Guimaraes, Tzolis, dan kiper cadangan Illan Meslier dari Leeds United. Semua langkah itu diambil untuk membangun keberhasilan musim lalu. Namun, jendela transfer masih terbuka, dan Arsenal bisa kembali bergerak kapan saja sebelum tenggat waktu berakhir.

Pada akhirnya, semua keputusan ada di tangan Arteta dan Berta. Mereka harus memastikan setiap rekrutan benar-benar membawa nilai tambah, bukan sekadar memenuhi daftar belanja. Dukungan penuh penggemar pun akan menjadi energi tambahan bagi Arsenal untuk bersaing di papan atas musim ini.

FIFA Kecam Kampanye Lengserkan Gianni Infantino

FIFA secara keras mengecam apa yang disebutnya sebagai “upaya terkoordinasi dan berkelanjutan” untuk melemahkan organisasi serta presidennya, Gianni Infantino. Pengecaman ini muncul setelah laporan Daily Telegraph yang mengklaim bahwa kekasih dugaan Infantino menerima pesangon dari UEFA setelah ia berselingkuh saat menjabat sebagai sekretaris jenderal UEFA. Seorang juru bicara FIFA mengatakan kepada Telegraph bahwa Infantino “sangat membantah” tuduhan tersebut dan menyebutnya “sama sekali tidak benar”.

Ketegangan antara FIFA dan otoritas sepak bola Eropa semakin memanas dalam beberapa pekan terakhir. Infantino berada di bawah tekanan besar dari UEFA dan sejumlah asosiasi sepak bola Eropa terkait proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) yang dibatalkan. UEFA bahkan menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap Infantino dan mengancam akan memboikot berbagai ajang resmi FIFA.

FIFA Kecam Kampanye untuk Jatuhkan Gianni Infantino

Dalam pernyataan resminya pada Sabtu, FIFA menyerang balik apa yang disebutnya sebagai “asumsi tak berdasar dan klaim yang terbukti palsu”. FIFA juga menegaskan bahwa “spekulasi dan sindiran tidak boleh disajikan sebagai fakta”. Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap pemberitaan Daily Telegraph yang mengaitkan Infantino dengan skandal pribadi di masa lalu.

Laporan Telegraph tersebut mengklaim bahwa seorang perempuan yang diduga menjadi kekasih Infantino menerima pembayaran pesangon dari UEFA. Pembayaran itu diduga terjadi setelah Infantino menjalin hubungan gelap saat ia masih berstatus sekretaris jenderal UEFA. Namun, FIFA dengan tegas membantah seluruh tuduhan tersebut dan menilai pemberitaan itu merupakan bagian dari kampanye terencana untuk menjatuhkan presidennya.

FIFA menambahkan bahwa pihak-pihak yang tidak mendapat dukungan dari asosiasi anggota FIFA seharusnya tidak berusaha meraih tujuan melalui tuduhan atau informasi yang menyesatkan. “Mereka yang tidak memiliki dukungan dari asosiasi anggota FIFA tidak boleh berusaha mencapai melalui tuduhan, sindiran, atau misinformasi apa yang tidak bisa mereka capai melalui proses demokrasi FIFA yang mapan,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Sikap ini menunjukkan bahwa FIFA menganggap kritik yang beredar bukan sekadar masukan, melainkan gerakan sistematis untuk menggulingkan kepemimpinan yang sah.

Akar Masalah: Proposal FFE yang Memicu Amarah Eropa

Tekanan terhadap Infantino sebenarnya sudah menguat jauh sebelum tuduhan pribadi tersebut mencuat ke publik. Pemicu utamanya adalah proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akhirnya dibatalkan setelah menuai penolakan keras dari berbagai pihak. Konsep FFE sendiri sebenarnya cukup ambisius dan menuai kontroversi sejak awal:

  • FIFA berencana membentuk perusahaan baru untuk mengelola hak komersial dan hak tiket seluruh kompetisinya.
  • Sebanyak 21 persen saham perusahaan tersebut akan dijual kepada sebuah perusahaan investasi swasta.

UEFA sebagai induk sepak bola Eropa dengan tegas menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Infantino. Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF), Lise Klaveness, bahkan secara terbuka meminta Infantino untuk mengundurkan diri pada Jumat lalu. Ancaman boikot terhadap ajang-ajang FIFA juga masih tetap berlaku karena UEFA belum menerima jaminan bahwa rencana FFE tidak akan dihidupkan kembali di kemudian hari.

Penolakan dari kubu Eropa ini memperlihatkan adanya perpecahan mendasar antara FIFA dan salah satu konfederasi terbesarnya. Infantino sendiri menegaskan bahwa ia terpilih secara demokratis melalui mekanisme asosiasi anggota FIFA. Menurut FIFA, presidennya itu terus menjabat dengan mandat penuh yang diberikan oleh asosiasi-asosiasi tersebut.

Implikasi: Dukungan Global Memperkuat Posisi Infantino

Meskipun tekanan terhadap Infantino terus menguat, posisinya sebagai presiden FIFA sejauh ini masih terbilang aman. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa oposisi terhadap kepemimpinannya sebagian besar hanya berasal dari dalam Eropa. Sementara itu, dukungan dari berbagai kawasan lain di dunia justru mengalir deras dan solid.

Federasi Sepak Bola Meksiko menjadi contoh nyata pecahnya solidaritas regional dalam isu ini. Meksiko memilih berbeda dari badan pengatur regionalnya, Concacaf, dan secara terang-terangan menyatakan dukungan terhadap Infantino. Beberapa pihak lain juga menunjukkan sikap serupa:

  • Conmebol, badan sepak bola Amerika Selatan, menolak upaya memecat Infantino tanpa voting yang melibatkan seluruh 211 negara anggota FIFA.
  • Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) memberikan dukungan bulat dari 54 negara anggotanya.

Dengan kombinasi dukungan dari Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian Amerika Utara, mekanisme untuk melengserkan Infantino melalui jalur demokrasi FIFA tampak sangat sulit untuk ditempuh. FIFA sendiri menegaskan bahwa presidennya dipilih secara demokratis oleh asosiasi anggota. Oleh karena itu, peluang keberhasilan kampanye yang digerakkan dari Eropa untuk menjatuhkan Infantino melalui prosedur formal terbilang sangat tipis.

FIFA: Kritik Sah, tetapi Jangan Distorsi Fakta

Dalam menghadapi berbagai serangan tersebut, FIFA mengambil sikap defensif namun tetap tegas. Infantino mengundang anggota dewan manajemen FIFA ke sebuah pertemuan di Rabat, Maroko, pada Rabu lalu. Dalam pertemuan itu, FIFA mengeluarkan pernyataan atas nama Infantino dan sekretaris jenderal Mattias Grafstrom yang meminta maaf atas proposal FFE.

Namun, dalam pernyataan yang sama, FIFA juga menegaskan tidak akan lagi menoleransi serangan terhadap integritas, tata kelola yang baik, dan proses hukum yang selama ini dijalankan organisasi tersebut. Pernyataan yang dirilis pada Sabtu malam itu menekankan bahwa perubahan selalu menantang kepentingan yang mapan. “Ketidaksetujuan terhadap perubahan itu tidak dapat membenarkan upaya untuk merusak mandat demokratis presiden FIFA atau institusi yang dipimpinnya,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

FIFA menegaskan bahwa pihaknya menyambut pengawasan yang sah dari siapa pun, tetapi pengawasan bukan lisensi untuk mendistorsi fakta. “FIFA menyambut pengawasan yang sah. Tetapi pengawasan bukanlah lisensi untuk mendistorsi fakta, memperkuat tuduhan tanpa bukti, atau menciptakan gangguan yang dirancang untuk merusak kemajuan,” tambah FIFA. Organisasi ini juga mengancam akan menantang langsung dan tegas setiap pemberitaan yang dianggap tidak akurat atau menyesatkan.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Situasi antara FIFA dan UEFA saat ini berada pada titik yang sangat rawan. UEFA masih menahan ancaman boikot terhadap ajang-ajang FIFA, sementara FIFA bersikeras bahwa presidennya memiliki mandat demokratis yang kuat. Jika ketegangan ini berlanjut, bukan tidak mungkin akan terjadi perpecahan yang lebih dalam dalam tata kelola sepak bola dunia.

Di sisi lain, Infantino tampaknya masih memiliki pijakan yang kokoh berkat dukungan luas dari Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Kampanye untuk menjatuhkannya yang sebagian besar digerakkan dari Eropa menghadapi jalan terjal di tingkat global. Meskipun demikian, tuduhan-tuduhan baru yang terus beredar di media berpotensi menggerus citra FIFA dan presidennya di mata publik dari waktu ke waktu.

Yang jelas, FIFA telah menyatakan sikapnya untuk tidak tinggal diam menghadapi berbagai kritikan tersebut. Organisasi ini siap menantang langsung setiap laporan yang dianggap tidak akurat atau menyesatkan. Pertarungan antara FIFA dan para pengkritiknya di Eropa masih jauh dari kata selesai.

Pada akhirnya, FIFA menilai kampanye untuk melengserkan Gianni Infantino sebagai upaya terkoordinasi yang tidak berdasar dan sarat kepentingan politik. Meskipun tekanan dari Eropa terus menguat, presiden FIFA itu masih menikmati dukungan luas dari luar Eropa. Kebenaran dari berbagai tuduhan yang beredar kini menunggu proses pembuktian, tetapi yang pasti pertarungan kekuasaan dalam sepak bola dunia belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Awal McInnes di Rangers: Dua Laga Tanpa Kemenangan

Awal McInnes di Rangers tidak berjalan mulus. Dalam dua laga pertamanya, tim asuhannya belum meraih satu pun kemenangan, dimulai dari hasil imbang tanpa semangat melawan Dundee United di laga pembuka Scottish Premiership. Kekalahan 2-1 dari Jagiellonia Bialystok pada leg pertama kualifikasi putaran ketiga Liga Europa semakin menegaskan bahwa banyak pekerjaan rumah yang menanti sang manajer.

Kedatangan McInnes sebelumnya disambut harapan besar oleh para pendukung yang ingin melihat awal baru di Ibrox. Sebelumnya, sejumlah manajer datang dengan reputasi cemerlang dan janji perbaikan, tetapi akhirnya pergi meninggalkan kekecewaan. Sembilan pemain baru telah didatangkan pada bursa musim panas ini, dengan kemungkinan tambahan lainnya, namun bayang-bayang performa buruk musim lalu masih terasa kuat.

Awal McInnes di Rangers: Kebiasaan Lama Kambuh

Kekalahan di Polandia membuat McInnes angkat bicara dengan nada yang cukup blak-blakan. Ia mengakui bahwa banyak hal dari permainan timnya malam itu mengingatkannya pada performa negatif Rangers di musim lalu. “Kami melihat banyak hal malam ini yang saya kira menjadi ciri Rangers musim lalu,” ujar pelatih berusia 55 tahun itu usai pertandingan.

Pernyataan itu menjadi vonis yang keras, apalagi McInnes dikenal sebagai sosok yang paham betul standar tinggi di Ibrox. Russell Martin dan Danny Rohl sebelumnya gagal mengembalikan kejayaan Rangers dalam masa kepelatihan singkat mereka di Govan. McInnes sendiri datang setelah membawa Hearts nyaris menorehkan pencapaian yang luar biasa musim lalu.

Kritik terhadap kegagalan Rangers musim lalu kerap bermuara pada satu masalah yang sama: lini depan memang cukup cair dan klinis, tetapi lini belakang sangat rapuh. “Menurut saya kami memberi terlalu banyak peluang dan memberi lawan terlalu banyak dorongan,” tambah McInnes. “Kami harus jujur dan mengakui bahwa kami mengalahkan diri sendiri malam ini. Ini bukan tidak menghormati lawan, karena kesalahan-kesalahan itulah yang memberi bahan bakar bagi transisi dan serangan balik mereka.”

Lini Belakang Rapuh, Sterling dan Fernandez Jadi Sorotan

Pada babak pertama, Rangers tampil limbung dan mudah dibongkar Jagiellonia. Memasuki menit ke-12, Thelo Aasgaard mencoba pergerakan berputar di tepi kotak penalti tuan rumah untuk menembus celah pertahanan, tetapi semenit kemudian justru Jagiellonia yang mencetak gol lewat serangan balik impresif. Banyak celah konsentrasi yang dimanfaatkan lawan, dan McInnes menegaskan timnya harus berubah total.

“Tidak ada yang lebih menguras kepercayaan diri pemain, tim, dan pendukung selain kebobolan gol yang murah,” kata McInnes. “Ada kesalahan dalam gol-gol itu dan saya paham hal itu bisa terjadi. Namun, kami harus jauh lebih pelit dalam kerja bertahan, membela gawang sepenuh hati, dan tidak memberikan peluang kepada lawan. Dengan cara apa pun, bola tidak boleh masuk ke kotak penalti kami, dan jangan sampai mereka mendapat peluang.”

Duet bek tengah Dujon Sterling dan Emmanuel Fernandez tampak sangat goyah sepanjang laga. Mantan gelandang Rangers, Andy Halliday, menilai McInnes sebenarnya tidak memiliki kepercayaan penuh terhadap Fernandez. “Jika Anda bertanya kepada McInnes tanpa mikrofon di depannya, ‘Apakah Anda percaya pada Fernandez?’, mustahil dia menjawab ya,” kata Halliday di BBC Sportsound. “Tetapi dia tidak punya pilihan lain saat ini selain memainkannya.”

Halliday menambahkan bahwa Fernandez memiliki semua atribut untuk menjadi bek tengah kelas atas, tetapi kurang pendidikan dasar dalam

Mohamed Salah ke Trabzonspor? Klub Turki Mulai Negosiasi

Klub asal Turki, Trabzonspor, secara resmi membuka negosiasi untuk mendatangkan Mohamed Salah. Dalam pernyataannya, klub yang berbasis di kota Trabzon itu mengungkapkan rencana kedatangan pemain berusia 34 tahun tersebut dalam waktu dekat. Kabar ini langsung menjadi sorotan karena Salah merupakan salah satu penyerang terbaik dunia yang baru saja meninggalkan Liverpool.

Salah meninggalkan Liverpool pada akhir musim lalu setelah sembilan musim memperkuat The Reds. Kontraknya telah habis, sehingga ia berstatus bebas transfer dan boleh bernegosiasi dengan klub mana pun tanpa biaya transfer. Trabzonspor menjadi salah satu tim yang paling serius ingin memanfaatkan peluang tersebut untuk membawa sang pemain ke Liga Super Turki.

Trabzonspor Mulai Negosiasi dengan Mohamed Salah

Trabzonspor menyebut bahwa Salah akan tiba di Istanbul pada Rabu untuk melanjutkan proses pembicaraan. Setelah itu, pemain asal Mesir itu direncanakan menuju Trabzon pada malam hari di hari yang sama. “Waktu dan detail lain mengenai program penyambutan di Trabzon akan dibagikan kepada publik melalui kanal komunikasi resmi klub,” begitu bunyi pernyataan resmi Trabzonspor.

Dengan rencana kunjungan yang sudah disusun, negosiasi ini tampaknya sudah berjalan serius. Kedatangan Salah ke Turki menjadi sinyal kuat bahwa kesepakatan bukan lagi sekadar isapan jempol belaka. Publik kini menunggu perkembangan lebih lanjut setelah sang pemain bertemu langsung dengan perwakilan klub.

Profil Trabzonspor: Klub Bersejarah dengan Ambisi Besar

Trabzonspor dikenal dengan julukan Black Sea Storm atau Badai Laut Hitam. Klub ini merupakan salah satu dari enam tim yang pernah meraih gelar juara Turkish Super Lig, sebuah status yang jarang dimiliki klub di luar Istanbul. Sepanjang sejarahnya, Trabzonspor tercatat tujuh kali menjadi kampiun liga, dengan enam gelar diraih antara 1976 dan 1984.

Setelah menunggu lama, Trabzonspor kembali merasakan puncak klasemen pada 2022. Gelar tersebut menjadi titel liga pertama mereka dalam 38 tahun, sekaligus menghidupkan lagi reputasi klub sebagai kekuatan besar sepak bola Turki. Keberanian membidik Mohamed Salah tentu tidak lepas dari ambisi untuk kembali meraih sukses pada level tertinggi.

Rekam Jejak Mohamed Salah di Liverpool

Mohamed Salah tiba di Liverpool dari AS Roma pada Juni 2017 dan langsung menjadi mesin gol utama tim. Selama sembilan tahun berseragam merah, ia tampil sebanyak 442 kali dan menyumbangkan 257 gol serta 120 assist. Catatan tersebut menjadikannya salah satu penyerang paling produktif dalam sejarah Liverpool.

Bersama Liverpool, Salah sukses mengangkat dua gelar Premier League, satu trofi Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, Piala Super UEFA, Piala FA, dua Piala EFL, dan Community Shield. Tidak hanya itu, ia juga empat kali meraih Sepatu Emas Premier League dan tiga kali dinobatkan sebagai Pemain Terbaik PFA pada 2018, 2022, dan 2025. Deretan prestasi itu menjelaskan mengapa banyak klub masih meminatinya meski usianya tidak lagi muda.

Dampak Kepindahan bagi Trabzonspor dan Liga Turki

Jika transfer ini terealisasi, Trabzonspor akan mendapatkan sosok bintang yang bisa menjadi pembeda di lini depan. Kehadiran Salah tentu meningkatkan daya saing tim dalam perburuan gelar melawan raksasa Istanbul seperti Galatasaray, Fenerbahçe, dan Beşiktaş. Selain itu, nama besar Salah dapat mendongkrak popularitas klub di kancah internasional, terutama di kawasan Asia dan Timur Tengah.

Bagi Salah sendiri, kepindahan ke Trabzonspor berarti tantangan baru di luar kompetisi lima liga besar Eropa. Ia akan menjadi pusat proyek tim dan mendapat sorotan besar dari publik Turki. Keputusan ini juga bisa menjadi jalan untuk menutup karier dengan cara yang berbeda, tetapi tetap kompetitif.

Karier Internasional dan Langkah Berikutnya

Di level tim nasional, Mohamed Salah masih menjadi tulang punggung Mesir. Ia menjadi bagian dari skuad yang mencapai babak 16 besar Piala Dunia 2026 sebelum kalah 3-2 dari Argentina, tim yang kelak tampil sebagai finalis. Penampilan Mesir di turnamen tersebut membuktikan bahwa Salah masih kompetitif di level tertinggi.

Dengan status bebas transfer, sebenarnya banyak klub Eropa lain yang bisa merekrut Salah. Namun, Trabzonspor tampil paling awal dengan langkah konkret berupa undangan negosiasi langsung. Jika kunjungan ini berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin pengumuman resmi segera menyusul dalam beberapa hari ke depan.

Kabar negosiasi antara Trabzonspor dan Mohamed Salah jelas menjadi salah satu cerita transfer paling menarik pada musim ini. Klub asal Turki itu tidak hanya berani memimpikan kedatangan pemain bintang, tetapi juga sudah membuka jalur komunikasi secara langsung. Kini, semua mata tertuju pada kunjungan Salah ke Trabzon untuk melihat apakah kesepakatan benar-benar akan terwujud.

Kieran Tierney Tunjukkan Nilai di Laga Perdana Celtic

Kieran Tierney kembali menunjukkan nilainya bagi Celtic pada laga perdana Scottish Premiership musim ini. Ia menjadi penyuplai assist untuk gol kemenangan Benjamin Nygren saat juara bertahan menaklukkan Dundee di awal musim yang berat. Nygren memang menjadi pencetak gol, tetapi umpan silang akurat dari kaki kiri Tierney-lah yang menjadi kunci terbukanya kebuntuan.

Pujian pun mengalir untuk bek kiri yang pernah dijual Celtic ke Arsenal dengan nilai sekitar £25 juta tersebut. Penampilannya di laga pembuka menjadi bukti bahwa Tierney masih menjadi sosok penting di skuad asuhan Martin O’Neill. Apalagi, O’Neill yang kembali menukangi Celtic sejak Januari lalu dikenal sangat mengandalkan pemain senior seperti Tierney di timnya.

Penampilan Terbaik di Laga Pembuka

Kontribusi Kieran Tierney saat melawan Dundee tidak hanya terlihat dari assist-nya. Ia tampil menonjol di berbagai aspek serangan dan menjadi motor utama permainan Celtic di laga tersebut. Berikut rincian statistiknya:

  • Dua tembakan tepat sasaran — terbanyak di antara pemain Celtic
  • Empat peluang tercipta — terbanyak di antara rekan setimnya
  • Delapan umpan silang — terbanyak di antara pemain Celtic

Pujian pun datang dari Tom English, jurnalis olahraga utama BBC Scotland. Ia menilai Tierney tampil seperti versi terbaik dirinya di laga itu. “Dia terus maju, masuk ke kotak penalti, punya beberapa tembakan ke gawang, dan melakukan semua tugas pertahanannya. Dia luar biasa,” kata English.

Gol Nygren yang lahir dari umpan silang Tierney menjadi penentu kemenangan. Pada babak pertama, Celtic sempat kesulitan menghadapi tekanan Dundee yang sengaja tampil agresif. Namun peluang demi peluang mulai tercipta, dan kaki kiri Tierney akhirnya membuka jalan kemenangan dari jarak enam yard.

Kebangkitan Kieran Tierney di Bawah O’Neill

Penampilan gemilang itu bukan hal baru bagi Tierney. Sejak O’Neill mengambil alih tim pada Januari, banyak pihak menilai Tierney menjadi pemain terbaik Celtic, meski kebangkitannya sempat kurang mendapat sorotan. Hal itu wajar karena ekspektasi terhadapnya memang tinggi, mengingat ia sempat hengkang ke Arsenal dengan nilai transfer yang dilaporkan mencapai £25 juta.

Musim lalu, Tierney mencatatkan 12 assist, yang terbanyak di antara semua pemain Celtic. Ia juga mencetak enam gol dari posisi bek. Hanya Calvin Miller, yang musim lalu masih membela Falkirk dan kini berseragam Hearts, yang mencatatkan assist lebih banyak, sementara hanya Daizen Maeda yang menciptakan peluang besar lebih banyak, dengan 14 banding 12.

Dari sisi bertahan, Tierney juga konsisten tampil sebagai salah satu bek terbaik di liga. Kontribusinya dalam tekel, sapuan, dan blok tembakan selalu muncul di setiap laga. Meski begitu, ia hanya bermain penuh dalam 10 laga liga musim lalu, dan hanya tiga bek sayap di seluruh liga yang mencatat menit bermain lebih banyak darinya.

Ketergantungan Celtic pada Satu Bek Kiri

Situasi skuad membuat posisi Tierney makin krusial. Marcelo Sarrachi yang musim lalu dipinjam Celtic telah kembali ke klub asalnya, Boca Juniors, sehingga tidak ada lagi bek kiri senior lain di skuad juara bertahan. Kondisi ini tentu menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi O’Neill dalam menyusun kedalaman tim.

O’Neill sendiri mengakui bahwa timnya perlu mencari pelapis bagi Tierney. “Tentu saja penting untuk mendatangkan pelapis bagi Tierney, itu yang sedang kami lihat,” ujarnya kepada BBC Scotland. Ia menambahkan bahwa Tierney tidak akan mungkin mampu melewati setiap pertandingan, apalagi musim lalu ia sedang dalam masa pemulihan dan beberapa kali tidak menyelesaikan laga karena mengerahkan segalanya.

Kabar ketertarikan klub Spanyol, Osasuna, terhadap Tierney juga sempat muncul. Namun laporan yang sama menyebutkan bahwa Celtic akan menolak tawaran apa pun untuk pemain berusia 29 tahun yang masih terikat kontrak hingga 2030 tersebut. Dengan minimnya opsi di posisi itu, keputusan menolak tawaran bukanlah hal yang mengejutkan.

Tulang Punggung Celtic yang Tak Tergantikan

Mantan kapten Celtic, Scott Brown, yakin Tierney tidak akan meninggalkan klub. “Kieran tidak akan ke mana-mana, dia mencintai klub sepak bola ini,” kata Brown di Sportsound. Ia menambahkan, “Kau tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi, tapi aku suka melihat dia bermain, aku suka semangatnya. Saat ada bola 50-50 dia memenangkannya, saat bola masuk kotak penalti dia menyundulnya.”

Brown juga menyoroti kualitas lain yang dimiliki Tierney, yang membuat Arsenal dulu tertarik membawanya pindah. Ia menilai Celtic beruntung bisa mempertahankan pemain seperti Tierney, Callum McGregor, dan James Forrest dalam waktu yang lama. Manajer O’Neill pun sebelumnya menegaskan, “Mereka adalah klub sepak bola ini. Mereka adalah tulang punggung Celtic, dan saya senang memilikinya.”

McGregor juga tampil impresif di laga pembuka dan kabar kepergiannya mulai mereda setelah beberapa pekan terakhir. Brown memuji kapten Celtic itu setelah pensiun dari tim nasional Skotlandia. “Callum pensiun dari Skotlandia, jadi dia punya waktu istirahat dan terlihat sangat segar. Dia adalah otak tim ini,” ujar Brown.

Brown juga berpesan kepada para pemain muda untuk belajar dari ketiganya. “Jika ada anak muda yang menonton, perhatikan Callum McGregor, Kieran Tierney, dan James Forrest,” katanya. Menurutnya, tidak mungkin seorang pemain bertahan lama di klub sebesar Celtic tanpa memahami sisi lain dari permainan.

Kemenangan perdana ini menegaskan bahwa Kieran Tierney masih menjadi aset paling berharga bagi Celtic dalam mempertahankan gelar. Kontribusinya tidak hanya di lini belakang, tetapi juga menjadi pembeda ketika tim kesulitan membongkar pertahanan lawan. Dengan jadwal padat yang menanti, Celtic tentu berharap Tierney tetap fit dan mendapat dukungan pelapis yang memadai.

Jika performa seperti di laga pembuka terus berlanjut, bukan tidak mungkin Celtic akan kembali bersaing di puncak klasemen. Namun, keputusan manajemen dalam mendatangkan bek kiri baru akan sangat menentukan sejauh mana ketergantungan tim pada Tierney bisa dikelola. Yang jelas, Tierney telah memberikan sinyal kuat bahwa ia siap menjadi motor utama perjalanan Celtic musim ini.

Kylian Mbappe Kecam Senator Rasis Paraguay Celeste Amarilla

Kylian Mbappe Kecam Senator Rasis Paraguay dengan Pernyataan Pedas

Bintang sepak bola Prancis, Kylian Mbappe, secara terbuka mengecam senator Paraguay Celeste Amarilla setelah perempuan itu melontarkan komentar rasis bernada penghinaan terhadap asal-usul dan pendidikan Mbappe. Insiden ini menjadi sorotan dunia setelah Paraguay tersingkir dari Piala Dunia 2026 oleh Prancis di babak 16 besar.

Amarilla, anggota Partai Liberal Radikal Paraguay, memposting komentar ofensifnya di platform X sesaat setelah kekalahan timnya. Mbappe tidak tinggal diam dan membalas dengan pernyataan keras yang langsung viral di media sosial.

Kronologi Komentar Rasis Celeste Amarilla

Setelah pertandingan sengit antara Prancis dan Paraguay, Senator Celeste Amarilla menulis unggahan yang mengejek latar belakang Kylian Mbappe. Meskipun Mbappe dikenal sebagai salah satu pemain terbaik dunia, Amarilla justru merendahkan asal-usulnya dan meragukan pendidikannya. Tindakan ini langsung menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk federasi sepak bola Prancis.

Unggahan rasis tersebut dianggap tidak hanya menyerang pribadi Mbappe, tetapi juga menodai semangat sportivitas dan persatuan yang dijunjung dalam ajang Piala Dunia 2026.

Reaksi Kylian Mbappe: Hinaan yang Tak Boleh Ditoleransi

Dalam tanggapannya yang diunggah di akun media sosialnya, Kylian Mbappe menyebut Amarilla sebagai wanita hina dan tidak layak menduduki jabatannya sebagai senator. Mbappe menegaskan bahwa Amarilla tidak mewakili rakyat Paraguay yang telah berjuang dengan penuh semangat dan kehormatan sepanjang turnamen.

“Nyonya Celeste Amarilla, Anda adalah wanita hina dan tidak layak untuk posisi Anda. Anda tidak mewakili Paraguay, negara yang telah bersimbah keringat dan kehormatan selama kompetisi ini,” tulis Mbappe dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa tindakan ceroboh dan rasisme terang-terangan Amarilla telah membuat dunia melupakan perjuangan luar biasa para pemain Paraguay demi sorotan negatif yang tidak berguna.

Mbappe pun berjanji tidak akan pernah membiarkan orang seperti Amarilla bebas menyebarkan kebencian dan rasisme ke seluruh dunia. “Saya tidak akan pernah mengizinkan mereka yang seperti dia memiliki kebebasan untuk menyebarkan kebencian dan rasisme mereka,” tegasnya.

FFF Siap Ajukan Tuntutan Hukum

Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) dengan cepat merespons insiden ini. Mereka mengumumkan rencana untuk mengajukan tuntutan pidana atas komentar rasis yang dilontarkan senator Paraguay tersebut. Dalam pernyataan resminya, FFF menyebut ucapan Amarilla sebagai sesuatu yang sangat menjijikkan dan tidak dapat diterima.

“Pernyataan ini bersifat kriminal dan tercela. Mereka harus dituntut di sini maupun di tempat lain. FFF melaporkan masalah ini ke kantor kejaksaan dengan tujuan memulai proses hukum,” tulis FFF. Mereka menegaskan bahwa para pemain tim nasional Prancis mewakili negara mereka, dan hinaan tersebut sama saja dengan menghina Prancis.

Komentar Kontroversial Jose Luis Chilavert

Sebelum pertandingan, mantan kiper Paraguay Jose Luis Chilavert juga menuai kontroversi. Ia mengatakan bahwa timnya menghadapi “skuad dari Afrika” saat merujuk pada tim nasional Prancis yang multikultural. Komentar Chilavert pun mendapatkan reaksi keras dari Presiden FFF, Philippe Diallo, yang menyebut mantan kiper hebat itu telah jatuh ke dalam aib.

Diallo mengutuk keras pernyataan rasis Chilavert yang dinilai merusak nilai-nilai rasa hormat, persaudaraan, dan keberagaman dalam sepak bola. Dua insiden ini menunjukkan bahwa isu rasisme masih menjadi tantangan besar dalam dunia olahraga, terutama di ajang sebesar Piala Dunia 2026.

Performa Mbappe di Piala Dunia 2026

Di tengah kontroversi ini, performa Kylian Mbappe di lapangan tetap bersinar. Ia mencetak gol penalti kemenangan di babak kedua pada pertandingan melawan Paraguay, yang membawa Prancis melaju ke perempat final melawan Maroko di Boston pada hari Kamis. Dengan koleksi tujuh gol, Mbappe saat ini menjadi pencetak gol terbanyak bersama Lionel Messi (Argentina) dan Erling Haaland (Norwegia).

Prestasi Mbappe semakin menegaskan kelasnya sebagai salah satu pemain top dunia, sekaligus membuktikan bahwa rasisme tidak bisa menghentikan langkah seseorang yang berdedikasi dan berbakat.

Kesimpulan: Melawan Rasisme di Sepak Bola

Insiden yang melibatkan Kylian Mbappe dan Senator Celeste Amarilla menjadi pengingat bahwa rasisme masih ada di berbagai lapisan masyarakat, termasuk di kalangan pejabat publik. Namun, respons cepat dari Mbappe, FFF, dan banyak pihak lain menunjukkan bahwa dunia sepak bola tidak akan tinggal diam. Langkah hukum dan kecaman publik diharapkan dapat memberikan efek jera dan memperkuat komitmen global untuk memberantas rasisme di setiap arena, termasuk dalam perhelatan Piala Dunia 2026.

Dengan sikap tegas seperti yang ditunjukkan Kylian Mbappe, diharapkan semakin banyak orang yang berani bersuara melawan diskriminasi dan mendukung nilai-nilai kesetaraan dan rasa hormat dalam olahraga maupun kehidupan sehari-hari.

Kontroversi Skorsing Balogun: Keputusan FIFA Guncang Piala Dunia 2026

Keputusan mengejutkan dari FIFA untuk membatalkan skorsing yang dijatuhkan kepada bintang Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, telah menimbulkan gelombang kontroversi di Piala Dunia 2026. Pemain yang diusir lapangan dalam kemenangan atas Bosnia-Herzegovina itu kini diizinkan tampil di babak 16 besar melawan Belgia. Langkah ini memicu banyak pertanyaan tentang konsistensi peraturan dan dugaan campur tangan politik.

Awal Mula Kontroversi Skorsing Balogun

Kejadian bermula saat laga babak 32 besar antara AS dan Bosnia. Balogun menerima kartu merah langsung karena tekel yang dianggap berbahaya. Dalam sejarah Piala Dunia, aturan baku menyebut pemain yang diusir otomatis skorsing satu pertandingan berikutnya. Namun, FIFA memutuskan untuk menangguhkan hukuman tersebut, menjadikan Balogun pemain ketiga dalam sejarah yang tidak menjalani skorsing setelah kartu merah di Piala Dunia. Dua kasus sebelumnya terjadi pada 1962, yaitu Garrincha (Brasil) yang diizinkan bermain di final karena saat itu belum ada larangan otomatis.

FIFA tidak memberikan alasan jelas terkait keputusan ini. Mereka hanya merujuk pada Pasal 27 Kode Disiplin FIFA yang memberi wewenang untuk menangguhkan sanksi. Pasal ini belum pernah digunakan sebelumnya di ajang Piala Dunia.

Keterlibatan Trump dan Dampak Politik

Spekulasi semakin kuat setelah sumber mengonfirmasi bahwa Presiden AS Donald Trump menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino untuk membahas skorsing Balogun. Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga secara terbuka mengkritik keputusan wasit dan menuntut adanya proses banding. Langkah ini dianggap melanggar statuta FIFA yang melarang intervensi politik dalam sepak bola. Komite Etik FIFA bahkan telah diminta menyelidiki Infantino atas dugaan pelanggaran netralitas politik terkait pemberian FIFA Peace Prize kepada Trump sebelumnya.

Reaksi Belgia dan Kritik Pedas

Timnas Belgia, yang akan berhadapan dengan AS, menyatakan “terkejut” atas keputusan ini. Pelatih Rudi Garcia dengan sinis berkata, “Saya tidak tahu bahwa 5 Juli di Piala Dunia FIFA kini menjadi 1 April – hari April Mop.” Federasi Sepak Bola Belgia menyebut keputusan itu kontradiktif dengan peraturan turnamen yang menyatakan pemain “secara otomatis diskors untuk pertandingan berikutnya”. Mereka menegaskan bahwa FIFA menggunakan kode disiplin untuk mengesampingkan aturan kompetisi.

Perbandingan dengan Kasus Kartu Merah Lain

Keputusan ini menimbulkan kecemburuan di kalangan pemain lain yang diusir di Piala Dunia 2026. Sebanyak 12 pemain mendapat kartu merah, dan 11 di antaranya menjalani skorsing. Assim Madibo dari Qatar bahkan mendapat hukuman lima pertandingan meski tekelnya tidak disengaja. Pertanyaan pun muncul: mengapa Balogun mendapat pengecualian?

Mantan pemain Inggris Micah Richards menyebut keputusan ini “lelucon” dan “mempermalukan turnamen”. Ia menambahkan, “FIFA perlu berbuat lebih baik. Ini meninggalkan rasa tidak enak di mulut banyak orang.”

Dampak pada Aturan Sepak Bola ke Depan

Keputusan kontroversial skorsing Balogon berpotensi menciptakan preseden berbahaya. Klub-klub di liga domestik mungkin akan meminta kelonggaran serupa. Wasit dan pengadilan internal akan kesulitan mempertahankan konsistensi. Dalam hukum sepak bola, intensi pelanggaran sudah tidak lagi menjadi pertimbangan utama; hasil tekel yang membahayakan lawan sudah cukup untuk hukuman. Namun, keputusan FIFA kali seolah memberikan sinyal bahwa aturan bisa dilenturkan demi kepentingan tuan rumah atau pemain bintang.

Kesimpulan

Keputusan FIFA membatalkan skorsing Balogun telah mengguncang kredibilitas peraturan Piala Dunia. Tanpa penjelasan yang memadai, spekulasi tentang campur tangan politik dan perlakuan istimewa bagi tuan rumah makin menguat. Pertandingan AS melawan Belgia akan menjadi sorotan, bukan hanya karena aksi di lapangan, tetapi juga karena implikasi besar dari keputusan ini terhadap masa depan aturan sepak bola dunia. Bisakah FIFA mempertahankan integritas kompetisi setelah ini?