Sebuah dokumenter Pep Guardiola yang baru dirilis mengungkap momen dramatis ketika manajer Manchester City itu mengaku merasa “sangat sedih” setelah kapten Kyle Walker meminta hengkang dari klub. Dalam adegan yang penuh emosi, pelatih asal Spanyol itu juga menegaskan kepada para pemainnya bahwa Walker tidak seharusnya bersikap seperti yang dia lakukan sebagai seorang kapten. Serial ini menjadi sorotan karena memperlihatkan sisi ruang ganti City yang jarang terlihat publik.
Kepergian Walker sendiri terjadi pada Januari 2025, ketika bek asal Inggris itu bergabung dengan AC Milan dengan status pinjaman setelah mencari tantangan baru. Dokumenter produksi Amazon Prime ini mengikuti dua tahun terakhir Guardiola di City, termasuk momen-momen sulit yang akhirnya berujung pada pengunduran dirinya pada 2026. Walker sebelumnya telah membela City sejak 2017 dan menjadi bagian penting dari kesuksesan klub di bawah Guardiola.
Momen Emosional Guardiola Soal Kepergian Walker
Beberapa hari setelah kepergian Walker, Guardiola berbicara di hadapan skuad City menjelang laga kandang melawan Chelsea. Dalam rekaman yang tayang di serial tersebut, ia menyampaikan pidato yang menyentuh tentang sang kapten. “Sangat sedih, apa yang terjadi dengan Kyle,” ucapnya di depan para pemain.
Guardiola juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap cara Walker mengajukan keinginan pindah. Menurutnya, akan jauh lebih mudah jika Walker datang langsung kepadanya dan mengaku lelah daripada bersikap seperti yang dia lakukan. “Kamu tidak bisa bertingkah sebagai kapten seperti cara dia melakukannya. Kamu tidak bisa, di momen-momen terberat dalam hidup kita,” tegas Guardiola.
Pertanyaan retoris pun dilontarkan Guardiola kepada para pemain yang tersisa. “Apa yang kalian lakukan, teman-temanku? Apa yang kalian lakukan kepada kapten kalian? Katakan padaku, apa yang kalian lakukan?” tanyanya. Adegan ini menjadi salah satu momen paling intens dalam dokumenter tersebut, memperlihatkan bagaimana Guardiola mencoba membangkitkan solidaritas tim di tengah kepergian pemimpin mereka.
Kronologi Keretakan Hubungan Guardiola dan Walker
Meski tidak dijelaskan secara spesifik perilaku Walker yang dimaksud Guardiola, dokumenter ini memperlihatkan sebuah pertengkaran antara keduanya setelah kekalahan di Anfield pada Desember 2024. Dalam laga tersebut, Walker kehilangan bola dari Luis Diaz yang kemudian berujung pada hadiah penalti untuk Liverpool. Momen inilah yang menjadi awal mula ketegangan antara manajer dan kaptennya.
Setelah pertandingan, Guardiola menegur Walker di ruang ganti dengan mengatakan bahwa jika kehilangan bola, itu berujung gol. Teguran tersebut memicu reaksi emosional dari Walker yang merasa selalu menjadi sasaran kritik. “Setiap rapat, selalu namaku yang disebut,” kata Walker dengan nada kesal.
Guardiola pun menjawab dengan kalimat yang menusuk: “Mungkin karena kamu kapten.” Walker membalas, “Oke. Berarti kamu tidak menginginkanku menjadi kaptenmu.” Perlu diketahui, Walker dipilih oleh rekan-rekan setimnya sebagai kapten untuk musim 2024-25, dengan empat wakil kapten yakni Kevin de Bruyne, Ruben Dias, Rodri, dan Bernardo Silva.
Dampak Pergolakan bagi Manchester City
Kepergian Walker menjadi salah satu momen penting dalam musim terburuk City di era Guardiola. City mengakhiri musim 2024-25 tanpa gelar, sesuatu yang baru kedua kalinya terjadi sejak Guardiola bergabung pada Juli 2016. Sebelum hengkang ke Milan, Walker tercatat tampil 316 kali untuk City dan memenangkan enam gelar Premier League di bawah Guardiola setelah dibeli dari Tottenham dengan mahar 50 juta pound sterling pada 2017.
Kekalahan beruntun yang dialami City sempat membuat Guardiola berpikir untuk tidak memperpanjang kontraknya. Namun, justru setelah empat kekalahan beruntun untuk pertama kalinya dalam kariernya, ia memutuskan menandatangani kontrak baru di City. Dalam dokumenter, Guardiola terlihat menitikkan air mata saat berbicara kepada timnya tentang komitmennya untuk bertahan.
Guardiola menegaskan bahwa dirinya tidak bertahan demi uang atau sekadar bertahan, melainkan karena ingin berjuang bersama tim. Ia juga meminta para pemain untuk jujur jika menganggap dirinya menjadi masalah. “Itu tidak akan mengubah cinta saya kepada kalian semua, walau sedetik pun. Tapi saya ingin berjuang. Itu saja. Maafkan saya,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kisah di Balik Musim Terberat dalam Dokumenter Pep Guardiola
Hampir pergi di tengah krisis
Dokumenter Pep Guardiola ini juga mengungkap betapa dekatnya sang manajer dengan keputusan untuk tidak memperpanjang kontraknya. Dalam satu adegan, ia mengaku kepada sutradara Kevin Macdonald bahwa setelah empat kekalahan beruntun pada 2024, ia sempat memberi tahu klub: “Mungkin ini sudah berakhir.” Ketua City, Khaldoon Al Mubarak, bahkan mengaku tidak yakin bisa meyakinkan Guardiola untuk bertahan.
Khaldoon menggunakan analogi yang menarik untuk menggambarkan situasi tersebut. “Kamu tahu anak yang berteriak serigala? Dia adalah anak yang berteriak serigala itu. Saya selalu meyakinkannya, tapi tahun lalu, saya tahu, kali ini dia benar-benar melihat serigalanya,” kata Khaldoon. Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya kekhawatiran bahwa Guardiola akan pergi meninggalkan proyek yang sudah ia bangun selama hampir satu dekade.
Tekanan dari dalam dan luar lapangan
Musim 2024-25 memang menjadi musim yang penuh masalah bagi City. Klub menghadapi 115 tuduhan pelanggaran aturan keuangan Premier League yang menggantung, sementara Rodri yang memenangkan Ballon d’Or 2024 harus absen lama karena cedera. Di tengah semua itu, kehidupan pribadi Guardiola juga sedang bergejolak karena ia menjalani proses perceraian, bahkan media sempat menyoroti kondisi mentalnya setelah ia tampil dengan goresan di kepala dan hidung usai hasil imbang 3-3 melawan Feyenoord pada November 2024.
Manel Estiarte, staf teknis yang sudah lama mendampingi Guardiola, menceritakan bagaimana ia harus berbicara kepada para pemain yang khawatir dengan perilaku manajernya. “Mereka khawatir karena Pep cemas. Dia sedih. Dia berbeda. Dan hanya saya yang tahu alasannya,” kata Estiarte. Ia kemudian meminta para pemain untuk memahami bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan pelatih yang impulsif atau intens, melainkan manusia biasa yang sedang melalui proses perceraian. Setelah kekalahan dari Bayer Leverkusen, Guardiola bahkan meluapkan kekesalannya dan mengatakan bahwa ia meninggalkan hidup, perceraian, dan keluarganya demi para pemain, namun hanya mendapat balasan berupa penampilan yang ia sebut sebagai “aib”. Ia juga mengaku merasa lelah dan ingin berhenti, serta memperingatkan bahwa tim akan “mendapatkan manajer baru” jika performa tidak kunjung membaik.
Perombakan Skuad dan Perpisahan Menyakitkan
Kepergian De Bruyne yang emosional
City melakukan perombakan skuad pada bursa transfer musim dingin dan musim panas 2024 untuk menyegarkan tim yang mulai menua. Klub mendatangkan pemain sayap asal Prancis, Rayan Cherki, yang saat itu berusia 22 tahun, sementara Kevin de Bruyne yang berusia 35 tahun harus meninggalkan klub setelah 10 tahun berkarier di Etihad. De Bruyne sendiri memenangkan 16 trofi selama berseragam City.
Kepergian De Bruyne jelas bukan momen yang mudah. Dalam dokumenter, gelandang asal Belgia itu terlihat menangis saat membicarakan dampak kepergiannya terhadap keluarganya. Guardiola pun mengaku keputusan melepas De Bruyne sangat menyakitkan. “Itu membunuh saya. Tanpa Kevin, periode itu—lupakan saja. Dia menangis di sini. Ya Tuhan. Saya punya kasih sayang terhadap pemain itu. Kami melewati hal-hal luar biasa bersama. Lalu kamu harus bersikap lebih dingin,” kata Guardiola.
Cherki dan awal era baru
Di sisi lain, direktur olahraga Hugo Viana mengungkapkan bahwa ada keraguan soal sikap Cherki sebelum ia ditebus sebesar 30 juta pound sterling pada Juni 2025. “Informasi tentang Cherki tidak terlalu positif, jujur saja. Semua orang tahu kemampuannya, tapi ada anggapan bahwa dia kacau,” kata Viana. Meski begitu, Cherki menjadi salah satu pemain terbaik City musim lalu dengan mencetak empat gol dan 12 assist dalam 33 pertandingan Premier League—jumlah assist tertinggi kedua di liga.
Guardiola sendiri mengakhiri masa baktinya sebagai manajer City pada akhir musim 2025-26 setelah 10 tahun di Etihad. Selama periode itu, ia memenangkan 20 trofi, termasuk Piala FA dan Piala Liga di musim terakhirnya. Soal langkah berikutnya, Guardiola mengaku belum tahu akan berbuat apa, seraya menambahkan bahwa akan sulit baginya untuk kembali dan ia perlu menyegarkan banyak hal dalam kehidupan pribadinya.
Dokumenter Pep Guardiola ini memberikan perspektif baru tentang lika-liku di balik layar salah satu periode paling sulit dalam karier sang manajer. Dari konflik dengan Walker hingga perjuangan pribadinya, serial ini menunjukkan sisi manusiawi dari seorang pelatih yang selama ini dikenal sebagai sosok perfeksionis. Bagi penggemar sepak bola, tontonan ini menjadi potret langka tentang tekanan luar biasa yang dihadapi pelatih level elite.
