Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali menjadi sorotan setelah melontarkan pernyataan kontroversial menanggapi berbagai kritik yang ditujukan kepada kepemimpinannya dan penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Dalam unggahan panjang di Instagram pribadinya, Infantino menantang para kritikus untuk “bermeditasi, berdoa, atau menonton pertandingan sepak bola” alih-alih menyebarkan kebencian dan rumor palsu.
Isi Pernyataan Infantino
Infantino mengunggah 15 slide di akun Instagram pribadinya yang kemudian dibagikan ulang ke delapan juta pengikut FIFA. Dalam unggahan itu, ia berbicara langsung kepada “mereka yang bersembunyi di balik pena, kertas, dan layar” dan menegaskan keyakinannya bahwa saat para kritikus sibuk “menanam benih kebencian”, FIFA justru menghadirkan “acara terbesar di bumi”.
Ia menyebut Piala Dunia 2026 sebagai perayaan kemanusiaan yang paling baik, dan mengklaim turnamen tersebut memiliki “keamanan 100%, hanya kegembiraan dan kebahagiaan”. Pernyataan ini menjadi bantahan keras terhadap berbagai kontroversi yang mengiringi turnamen, mulai dari masalah visa hingga intervensi politik.
Klaim Keamanan dan Kontroversi Iran
Salah satu poin yang ditekankan Infantino adalah keberhasilan FIFA melibatkan Iran, negara yang tengah berkonflik dengan tuan rumah bersama Amerika Serikat. Ia menyebut FIFA “bekerja tanpa lelah untuk menyatukan dua negara yang berperang” dan Iran masuk ke AS “tanpa insiden atau konflik”.
Namun, klaim ini bertolak belakang dengan fakta di lapangan. Pelatih kepala Iran, Amir Ghalenoei, justru menyebut timnya sebagai tim yang “paling tertindas” di Piala Dunia. Iran menghadapi penundaan visa, staf inti yang ditolak masuk AS, tiket suporter dicabut, dan bahkan harus memindahkan basis latihan dari Tucson, Arizona ke Tijuana, Meksiko karena masalah logistik. Pembatasan pergerakan juga dialami saat mereka bepergian antara basis latihan dan pertandingan grup di Los Angeles serta Seattle.
Masalah visa tidak hanya dialami Iran. Suporter dari Haiti, Senegal, dan Pantai Gading terkena dampak larangan perjalanan era pemerintahan Trump. Wasit Somalia, Omar Artan, juga ditolak masuk AS meskipun memegang paspor diplomatik dan visa AS sekali masuk karena dianggap memiliki “asosiasi dengan anggota tersangka organisasi teror”.
Kritik Wasit dan Intervensi Politik
Infantino juga menanggapi kritik terhadap standar perwasitan, khususnya kasus Folarin Balogun. Penyerang AS itu diizinkan bermain di babak 16 besar setelah larangan satu pertandingannya ditangguhkan FIFA menyusul intervensi Presiden AS Donald Trump. Dari 191 kartu merah di Piala Dunia putra, hanya satu pemain lain yang berhasil lolos dari skorsing.
UEFA menyebut keputusan itu telah “melewati garis merah”, tidak pernah terjadi sebelumnya, tidak bisa dipahami, dan tidak bisa dibenarkan. Federasi Sepak Bola Norwegia bahkan mempertimbangkan untuk mengajukan keluhan resmi ke komite etik FIFA. Namun, Infantino berargumen bahwa keputusan semacam itu sudah biasa dan diterima luas di liga-liga terbesar dunia. Ia menambahkan, “Menarik bahwa negara-negara yang mempraktikkan hal ini justru yang mengkritik.”
Reaksi Terhadap Kritik
Infantino menasihati para lawannya untuk “menunjukkan cinta dan rasa hormat” terhadap turnamen yang membuat orang berkumpul sebagai keluarga, penggemar, dan satu kesatuan. Ia menulis, “Bagi kalian yang melewatkan permainan indah kami, emosi, perayaan, tawa, tangis, kekecewaan, dan kegembiraan… maaf jika kalian terlalu sibuk dengan kebencian dan kritik sehingga melewatkan semuanya.”
Ia juga mengajak para pembenci untuk merenung, bermeditasi, berdoa, atau menonton pertandingan sepak bola—dan benar-benar mengamati wajah, mata, dan emosi yang muncul. “Karena hanya permainan indah kami yang bisa memberikan pertunjukan luar biasa, pertunjukan di mana semua orang menjadi satu dan terhubung kembali sebagai manusia,” tulisnya.
Analisis: Mentalitas Terkepung FIFA
Ledakan emosi Infantino ini bisa jadi mencerminkan kekecewaan tulus atas kritik yang dialamatkan kepada FIFA. Ia tampaknya merasa badan sepak bola dunia itu tidak mendapat cukup pujian karena telah menyelenggarakan turnamen dengan rekor penjualan tiket, menghibur jutaan orang, dan menjalankan operasi keamanan besar meskipun situasi geopolitik tegang. Ini juga menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap posisinya dan peluang terpilih kembali tahun depan.
Namun, bagi banyak pihak, sikap defensif seperti ini justru memperkuat kesan bahwa FIFA tidak mampu atau tidak mau menangani pengawasan yang sah, dan terputus dari realitas. Berbagai kontroversi—seperti kebijakan visa AS yang merusak klaim turnamen paling ramah, biaya fantastis bagi suporter, protes atas penangguhan larangan Balogun setelah lobi Trump, inovasi seperti jeda hidrasi dan pertunjukan setengah jam di final, serta dampak lingkungan dari Piala Dunia terbesar dan terlama—membuat kritik tersebut tak terelakkan.
Infantino sebelumnya menggelar konferensi pers menjelang turnamen—yang pertama dalam tiga tahun—dan mengatakan agar para kritikus “santai dan tenang”. Jika ia mengadakan konferensi pers lagi setelah acara berlangsung atau berakhir, mungkin ia bisa menjawab beberapa isu lebih awal, dan tidak merespons dengan cara yang dianggap banyak orang sebagai bukti mentalitas terkepung. Sementara itu, banyak penggemar tetap menikmati keseruan turnamen, termasuk melalui berbagai aktivitas seperti mix parlay untuk menambah sensasi setiap pertandingan.
Kesimpulannya, pernyataan Infantino mencerminkan benturan antara pencapaian turnamen dan masalah substansial yang tidak bisa diabaikan. Sampai FIFA menunjukkan kesediaan untuk menghadapi kritik secara terbuka dan transparan, kontroversi seperti ini kemungkinan akan terus menghiasi panggung sepak bola global.
