Mauricio Pochettino Ungkap Peluang Kembali ke Tottenham

Mauricio Pochettino akhirnya angkat bicara soal peluangnya kembali menangani Tottenham Hotspur. Menurut dia, persoalannya bukan soal minat atau kesediaan, melainkan waktu yang selalu tidak pas. Ketika dirinya tengah kosong tanpa pekerjaan, tidak ada kontak yang datang menghampiri; begitu ia sudah terikat kontrak dengan tim lain, tawaran itu justru muncul sehingga ia tak bisa mengambil keputusan untuk pulang.

Pernyataan itu disampaikan Pochettino dalam sebuah wawancara luas yang digelar di London untuk menandai awal siklus keduanya sebagai pelatih kepala tim nasional Amerika Serikat. Bagi Tottenham, sosok ini bukan nama asing: ia pernah menangani klub London utara tersebut selama lebih dari lima tahun dan termasuk pelatih yang paling dikenang publik Seven Sisters. Situasinya kini berbeda, sebab kursi pelatih Spurs sudah ditempati Roberto De Zerbi, sementara Pochettino baru saja meneken kontrak baru berdurasi empat tahun bersama timnas AS.

Alasan Mauricio Pochettino Tottenham Tak Pernah Bersatu Lagi

Dalam wawancara tersebut, Pochettino menyebut bahwa dirinya sebenarnya terbuka untuk kembali ke Tottenham, tetapi rangkaian kejadian tidak pernah berpihak kepadanya. Ia menggambarkan situasinya sebagai sesuatu yang kurang beruntung, karena kedua momen kunci — saat ia bebas dan saat ia dibutuhkan — tidak pernah bertemu di waktu yang sama. Menurut dia, semuanya hanya soal kebetulan waktu yang tidak pernah selaras.

Ia tetap menyimpan harapan bahwa suatu hari keadaan bisa berubah dan reunion itu terwujud. Namun ia juga menegaskan satu hal penting: ketika sedang terikat pekerjaan, ia tidak bisa begitu saja memutuskan untuk pergi. Kesetiaan pada kontrak yang sedang berjalan menjadi alasan utamanya menolak peluang tersebut, sebesar apa pun keinginannya untuk kembali.

“Ketika Saya Bebas, Tidak Ada Kontak”

Pochettino mengungkapkan bahwa pada periode ketika ia tidak terikat klub mana pun, tidak ada satu pun kontak yang masuk dari Tottenham. Sebaliknya, ketika ia sudah bekerja bersama timnas AS, barulah ada pendekatan — dan pada titik itu ia merasa tidak berada dalam posisi untuk mengambil keputusan tersebut. Ia menyebut kondisi ini sebagai nasib yang kurang beruntung, bukan sebagai penolakan dari pihaknya.

Kalimatnya cukup jelas: jika ia sedang bebas, ia akan datang. Masalahnya, saat itu ia tidak bebas. Pernyataan ini sekaligus menepis anggapan bahwa dirinya menolak Tottenham karena alasan lain, misalnya soal ambisi pribadi atau ketidakcocokan dengan manajemen klub.

Kronologi Kursi Panas di Tottenham

Untuk memahami kenapa isu ini mencuat, perlu melihat apa yang terjadi di Tottenham dalam beberapa waktu terakhir. Menurut sumber, Igor Tudor ditunjuk pada Februari lalu untuk mengamankan posisi Spurs setelah pemecatan Thomas Frank. Hasilnya jauh dari harapan: dalam lima laga di kompetisi liga, ia hanya mampu mengumpulkan satu poin dari 15 poin yang tersedia.

Pergantian itu kemudian membuka jalan bagi kedatangan Roberto De Zerbi, yang pada akhirnya mengantar Tottenham bertahan di Premier League pada hari terakhir musim. Namun, muncul pula pembacaan lain: rangkaian keputusan tersebut dinilai turut menutup pintu bagi reuni dengan Pochettino. Dengan kata lain, ada kemungkinan para pendukung Spurs kehilangan kesempatan bertemu kembali dengan sosok yang mereka anggap jauh lebih dicintai.

De Zerbi sendiri kini tercatat terikat kontrak dengan Tottenham hingga 2031. Meski demikian, sumber yang sama menambahkan sindiran bahwa di klub ini, ikatan kontrak panjang belum tentu menjadi jaminan — sebuah gurauan yang menyoroti betapa cepatnya kursi pelatih berganti di sana.

Terbuka Membantu Tottenham di Divisi Mana Pun

Yang membuat pernyataan Pochettino semakin menarik adalah kesediaannya menerima peran dalam kondisi apa pun. Ia menegaskan bahwa Tottenham adalah satu-satunya klub yang selalu ia buka pintunya untuk membantu, tanpa memandang divisi. Pernyataan itu muncul ketika ia ditanya soal kesiapannya menjalani jadwal berat, termasuk perjalanan tengah pekan ke markas Lincoln City, Bolton, dan Stoke.

Artinya, bahkan dalam skenario terburuk — Tottenham terpuruk dan berkutat di kasta kedua — ia menyatakan tidak akan menganggap pekerjaan itu sebagai hal yang berada di bawah levelnya. Sikap ini kontras dengan citra pelatih yang biasanya hanya mau menangani klub-klub besar dengan proyek ambisius.

Dikenal sebagai pelatih yang menyimpan semangkuk lemon di ruang kerja untuk menyerap energi negatif, Pochettino boleh jadi membutuhkan persediaan buah sitrus yang jauh lebih banyak jika ia benar-benar kembali ke Tottenham dan mendapati klub itu sedang berjuang di Championship. Meski begitu, ia menegaskan bahwa hal tersebut bukan pertimbangan baginya.

Soal Gelar Chelsea 2016-17 dan Hak Tottenham

Dalam wawancara yang sama, Pochettino melontarkan pandangan tegas soal gelar Premier League musim 2016-17. Ia menilai Chelsea seharusnya dicopot dari gelar juara musim itu, seiring temuan bahwa klub tersebut melakukan sejumlah pelanggaran finansial yang serius pada periode tersebut. Menurut dia, jika hal itu benar terjadi, maka Tottenham — yang finis di peringkat kedua dan saat itu dilatih olehnya — layak menyandang gelar juara.

Ia bahkan menyebut bahwa gelar semestinya diberikan kepada tim yang berada di posisi kedua. Logikanya sederhana: jika sang juara terbukti melanggar aturan dan sudah menerima hukuman serta mengakuinya, maka penghargaan itu tidak lagi sah disandangnya. Pernyataan ini langsung memicu perdebatan, karena menyentuh ranah integritas kompetisi, bukan sekadar hasil di lapangan.

Namun, sumber yang sama turut mencatat sisi lain yang terasa ironis. Menurut catatan tersebut, Pochettino tampaknya tidak seketat itu soal penerapan aturan ketika striker bintang timnas AS yang ia tangani mendapat keringanan sanksi dari Fifa setelah intervensi Donald Trump pada ajang Geopolitics World Cup (GWC). Catatan ini menjadi bumbu yang mengiringi argumennya soal keadilan kompetisi.

Konteks Lebih Luas dan Langkah Berikutnya

Isu reunian ini sebetulnya menggambarkan pola yang lebih besar dalam dunia kepelatihan: pelatih yang dicintai suporter tidak selalu bisa kembali, karena keputusan klub ditentukan oleh kebutuhan jangka pendek. Tottenham memilih jalur bertahan di Premier League lewat pergantian pelatih, bukan jalur nostalgia. Keputusan itu terdengar rasional secara kompetitif, tetapi meninggalkan rasa yang berbeda bagi sebagian pendukung.

Di sisi lain, Pochettino kini memiliki komitmen baru yang jelas, yaitu membangun siklus keduanya bersama timnas AS. Selama kontrak empat tahun itu berjalan, pintu kembali ke Tottenham — meskipun ia nyatakan selalu terbuka — secara praktis akan tetap tertutup. Sementara itu, Tottenham masih terikat dengan De Zerbi hingga 2031, dengan catatan sindiran bahwa apa pun bisa terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Penutup

Kisah Mauricio Pochettino dan Tottenham pada akhirnya bukan soal kurangnya keinginan, melainkan soal waktu yang tak pernah bertemu. Ia mengaku tidak mendapat kontak ketika sedang bebas, dan tidak bisa mengambil keputusan ketika sedang bekerja. Satu hal yang ia tegaskan tetap tidak berubah: Tottenham adalah satu-satunya klub yang selalu ia siap bantu, di divisi mana pun.

Yang tersisa dari pernyataan terbarunya adalah kombinasi antara kerinduan, penyesalan, dan keyakinan bahwa suatu hari keadaan bisa berpihak. Sampai itu terjadi, penggemar Spurs hanya bisa menunggu sembari berharap bahwa “semesta akan selaras” seperti yang ia bayangkan.