Data Transfer Manchester City dan Rahasia 650.000 Pemain

Di balik ruang kerja departemen data Manchester City, ada satu pertanyaan yang selalu menjadi kompas: “Apa yang dibutuhkan untuk menang?” Pertanyaan itu lalu diterjemahkan menjadi tiga tahap kerja, yakni mengidentifikasi pemain, menilai kualitas mereka, dan memperhitungkan bagaimana klub bisa membuat mereka berkembang lebih jauh. Semua proses itu diarahkan pada satu tujuan statistik, yaitu memperbesar peluang City memenangi Premier League. Cara kerja inilah yang membuat data transfer Manchester City jadi salah satu mesin paling berpengaruh di balik setiap keputusan jual-beli pemain klub tersebut.

BBC Sport mendapat akses yang jarang diberikan untuk melihat mesin metrik City dari dalam. Musim lalu, departemen data klub memproyeksikan bahwa mereka akan berada di sekitar persaingan gelar, tetapi angka-angka metrik mereka justru menunjukkan Arsenal sebagai favorit juara — dan proyeksi itu terbukti tepat. Musim ini City memilih menyimpan proyeksi mereka, meski lima kemenangan dari lima laga Premier League sudah cukup memicu prediksi dari suporter dan pengamat bahwa mereka akan kembali menjadi penantang terdekat The Gunners.

Bagaimana Departemen Data City Mengubah Pasar Transfer

Komitmen terhadap data menjadi inti upaya City mengejar Arsenal. Pendekatan ini juga mencerminkan tren yang sedang tumbuh di Premier League dan di luar kompetisi tersebut, di mana klub-klub semakin sering memakai data untuk keperluan transfer sekaligus memantau performa tim. Di City, salah satu target utamanya sederhana namun krusial: menekan risiko dari setiap transaksi pasar, baik pembelian maupun penjualan pemain.

City menilai pemain berdasarkan kemampuan individual, karakteristik keseluruhan, serta sistem yang dipakai pemain di klub lamanya dan bagaimana sang manajer memintanya bermain dalam tim tersebut. Setelah aspek-aspek itu dipetakan, tujuan City bukan sekadar mengetahui seberapa bagus pemain itu saat ini, melainkan seberapa bagus ia bisa menjadi setelah berada di Etihad. Sejak memenangi treble pada 2023, skuad City mengalami perombakan besar dengan pendekatan ini, sampai menyisakan hanya empat pemain dari kampanye bersejarah tersebut.

Meski demikian, penting ditegaskan bahwa data tetap bukan satu-satunya penentu. Menurut direktur olahraga City, Hugo Viana, peran data dalam pengambilan keputusan hanya satu bagian dari gambaran besar. Ia menilai data tidak bisa menjelaskan segalanya tentang seorang pemain, termasuk karakter, mentalitas, dan perilaku mereka. Karena itulah City mendalami wawasan berbasis data, tetapi tetap bertumpu pada keahlian para pemandu bakat dan spesialis lain di klub.

Dari 650.000 Pesepakbola hingga Daftar Pendek 20-50 Nama

Titik awal setiap rekrutan baru adalah basis data City yang berisi 650.000 pesepakbola dari seluruh dunia. Langkah berikutnya adalah menyusun brief, yakni gambaran soal tipe pemain yang ingin direkrut. Proses ini biasanya dimulai dari penentuan posisi, meski pelaksanaannya tidak sesederhana itu.

City, misalnya, membagi bek sayap mereka ke dalam tiga tipe: bek yang bertahan, bek yang masuk ke tengah, dan bek yang bermain tinggi melebar. Setelah brief diterima, departemen data menerapkan filter penilaian kemampuan umum untuk memangkas 650.000 nama itu menjadi hanya 20 sampai 50 pemain. Salah satu nama yang sempat masuk radar lewat cara ini adalah bek Juventus, Andrea Cambiaso, terutama karena kemampuannya masuk ke tengah untuk membangun serangan dari lini tengah. Kemampuannya menggunakan kedua kaki juga mendapat nilai tinggi dalam data.

Berdasarkan data dan laporan pemandu bakat, klub memutuskan tidak melanjutkan ketertarikan pada Cambiaso di bursa transfer sebelumnya, tetapi pendekatan City membuat namanya kemungkinan besar akan terus dipantau. Daftar panjang berisi 20 hingga 50 nama itu lalu disilangkan dengan daftar panjang versi pemandu bakat, dan biasanya ada tumpang tindih signifikan antara pemain yang diidentifikasi data dan pemain yang sudah ada dalam radar mereka.

Dari situ, metrik yang lebih rinci diterapkan untuk mengurutkan dan memprioritaskan nama-nama tersebut. Pemandu bakat kemudian melakukan penelusuran lanjutan hingga daftar menyusut menjadi maksimal sekitar enam pemain. Pada tahap ini, City melakukan pendalaman lebih serius terhadap catatan cedera, performa atletik, dan kebiasaan perilaku para kandidat.

Radar Chart dan Action Value Score di Balik Penilaian City

Semua informasi itu dirangkum ke dalam laporan individual yang disebut acquisition pack, berisi metrik kunci yang menjadi dasar penilaian seorang pemain. Di dalamnya terdapat radar chart yang memberi nilai pada sejumlah metrik spesifik di lapangan. Sebagai contoh, ketika Jeremy Doku direkrut pada 2023, manajer saat itu Pep Guardiola menginginkan winger yang bermain langsung, mirip Leroy Sane, karena City kala itu punya Jack Grealish dan Riyad Mahrez yang lebih suka menjaga bola dan memotong ke dalam.

Beberapa kriteria yang masuk dalam brief City waktu itu antara lain membuat atau masuk ke kotak penalti, merebut kembali bola setelah tekanan, persentase take-on, dan tekanan di separuh lapangan lawan. Angka keseluruhan Doku memenuhi kriteria yang dicari Guardiola, meski skor “membuat kotak penalti” termasuk salah satu bacaan terendahnya. Sejak kedatangannya, Doku memperbaiki nilai tersebut, dan City menyebutnya sebagai contoh bagaimana sistem data mereka membantu mengembangkan pemain yang sudah ada.

Ada pula utilisation chart yang mencatat seberapa sering pemain digunakan dalam periode tiga tahun, serta scouting grade yang menunjukkan seberapa tinggi penilaian pemandu bakat terhadap pemain tersebut. Setiap pemain juga menerima current impact score, yang memprediksi dampak langsung ketika ia baru bergabung, dan potential impact score yang memproyeksikan kontribusinya di masa depan.

Bagian yang mungkin paling menarik adalah action value score. Skor ini menempatkan pemain dalam semacam tabel peringkat yang mencakup pemain City dan pemain klub rival dengan peran serupa. Setelah laporan akuisisi dievaluasi, daftar kembali dipangkas menjadi dua sampai tiga nama begitu valuasi City diperhitungkan. Data berperan besar dalam menentukan rentang harga yang diyakini City, dan valuasi itu tidak pernah berupa satu angka tunggal.

Keputusan akhir kemudian diambil soal siapa yang menjadi prioritas, meski semua nama dalam daftar pendek tetap digarap bersamaan untuk mengantisipasi perubahan situasi, misalnya jika seorang pemain menjadi tidak tersedia. Fleksibilitas mengikuti dinamika pasar itu diyakini tim data sebagai salah satu keunggulan mereka. Munculnya Yan Diomande secara mendadak musim lalu, misalnya, membuat City melakukan pemeriksaan terhadapnya sebelum ia bergabung dengan Real Madrid dari RB Leipzig. Klub juga mencermati metrik Eduardo Camavinga untuk berjaga-jaga bila Real Madrid memutuskan melepas seorang gelandang.

Elliot Anderson dan Batas-Batas Data Semata

Elliot Anderson sebenarnya terlihat seperti rekrutan yang jelas dibutuhkan klub papan atas Premier League. Pemain berusia 23 tahun itu telah berkembang menjadi tokoh penting di Nottingham Forest, ditambah statusnya sebagai pemain Inggris yang sudah mengokohkan posisi di tim nasional. City bahkan bersaing dengan klub-klub besar lain, termasuk Manchester United, untuk mendapatkannya.

Namun cara City menganalisisnya menunjukkan pendekatan forensik mereka, bahkan ketika dari luar keputusan itu tampak sederhana karena bakat Anderson sudah nyata terlihat. Fakta bahwa mereka tetap memakai algoritma dan menjalani seluruh tahapan normal memberi gambaran tentang sepak bola elit masa kini, sekaligus tentang keterbatasan data bila berdiri sendiri. Sebab, mungkin mengejutkan, metrik Anderson tidak serta-merta mencuri perhatian.

Pada awal musim lalu, meski muncul ketidakpastian soal masa depan Guardiola, klub sudah tahu mereka akan mencari setidaknya satu gelandang tengah pada musim panas berikutnya. Mereka tahu Bernardo Silva akan pergi, sementara masa depan Rodri dan Nico Gonzalez masih dipertanyakan. Karena menggantikan Silva dan Rodri secara setara hampir mustahil, City mencari pemain yang sama mahir membangun serangan, baik dari posisi gelandang tengah dalam maupun tinggi.

Seiring berjalannya musim lalu, keraguan juga muncul soal masa depan Tijjani Reijnders, tetapi Enzo Fernandez dianggap sebagai pengganti yang paling diinginkan untuk gelandang Belanda itu. Anderson memang lolos ke daftar panjang dari 650.000 nama, tetapi tidak berada di posisi atas kelompok tersebut, dan bacaannya belum langsung menunjukkan bahwa ia adalah pilihan yang sudah pasti tepat.

Ketika menelaah lebih dalam, City mengakui kasus Anderson memperlihatkan sebagian keterbatasan data. Ia tidak mencetak banyak gol untuk Forest dan tidak konsisten memberi assist. Karena Forest umumnya bukan tim penguasa bola seperti City, metrik umum Anderson dalam algoritma mereka tidak menonjol. Para analis City pun harus mempertimbangkan bahwa karena Anderson lebih sering bermain dekat gawang sendiri, ia tidak mendapat cukup kesempatan untuk menunjukkan kemampuan di sepertiga akhir lapangan.

Karena itu, mereka mencermati apa yang ia lakukan di Forest dan memodelkan peran potensialnya dalam tim City yang biasanya bermain lebih dekat ke gawang lawan, mendominasi penguasaan bola, dan dihuni lebih banyak pemain elit. Kriteria yang dinilai dalam radar chart Anderson mencakup pemulihan bola bertahan, keberhasilan duel, umpan yang memecah lini, keberhasilan duel udara, serta kesalahan bertahan. Untuk kesalahan bertahan, diakui bahwa karena Forest adalah tim transisi, sebagian kesalahan muncul akibat area lapangan tempat ia diminta beroperasi — misalnya ia merebut bola jauh di area sendiri tetapi kehilangan bola karena harus melepas umpan panjang yang berisiko setelah diminta bermain cepat ke depan.

Dalam situasi serupa di City, Anderson diperkirakan punya pilihan untuk melepas umpan pendek dengan tingkat keberhasilan lebih besar. Seorang sumber menyebut bahwa hanya karena seorang pemain tidak punya kesempatan rutin melakukan aksi tertentu akibat tim yang ia bela, bukan berarti ia tidak mampu melakukannya. Bacaan data Anderson meningkat signifikan seiring musim berjalan, dan itu mendorong para pemandu bakat City mengamatinya secara rutin. Ia tampil sangat baik bila dibandingkan dengan gelandang City saat ini dan sejumlah pemain rival yang telah diidentifikasi sebagai calon rekrutan di area yang sama.

Hasil penelusuran tim data, pemandu bakat, dan para ahli lain membuat City menilai risikonya rendah, meski harga Anderson akhirnya melampaui valuasi yang mereka yakini sebagai nilai sebenarnya. Menurut Viana, Anderson adalah contoh bagus bagaimana proses itu bekerja: datanya positif dan memberi keyakinan pada profil sang pemain, tetapi wawasan dari pemandu bakat dan tim performa yang membuat klub memahami atributnya. Hal itu, kata dia, memperkuat keyakinan bahwa Anderson adalah sosok yang tepat untuk klub.

Julian Alvarez dan Abdukodir Khusanov sebagai Bukti Model Data

BBC Sport juga mendapat gambaran menarik soal bagaimana data dipakai untuk merekrut Julian Alvarez dari River Plate seharga £14 juta pada 2022. Rekomendasi awal datang dari pemandu bakat, dan karena Alvarez bukan pemain yang awalnya teridentifikasi lewat metrik, tim data harus menelusuri lebih jauh. Sebab, liga Argentina tidak diakui sebagai salah satu yang terkuat di dunia, sehingga pengaturan data umum City membuat pemain dari sana punya batas alami dalam bacaan statistiknya bila dibandingkan pemain di lima liga top Eropa.

Karena itu, City menggali lebih dalam statistik Alvarez dan dampaknya terhadap bola serta skor River. Angka-angka itu menunjukkan ia adalah pemain terbaik di kasta tertinggi Argentina, dan City yakin bukti yang mereka miliki cukup untuk menyimpulkan bahwa ia akan berkembang menjadi pemain inti bagi klub papan tengah atas di salah satu dari lima liga top Eropa dalam dua setengah tahun. Model data mereka menilai Alvarez berada di rentang £26 juta sampai £40 juta, sementara City hanya membayar £14 juta, sehingga klub merasa merekrut pemain yang nilainya sedang di bawah harga wajar.

Nilai proyeksi Alvarez adalah £70 juta setelah tiga tahun. Ia akhirnya dijual ke Atletico Madrid pada 2024 seharga £81 juta. Sementara itu, perekrutan Abdukodir Khusanov dari Lens memberi wawasan menarik lain soal ketergantungan City pada data. Pemain berusia 22 tahun itu awalnya tidak masuk daftar panjang 50 nama City, tetapi setelah ditelaah lebih dekat, mereka menemukan bahwa meski keluaran bolanya perlu diperbaiki, data fisiknya — misalnya kemampuan mengejar ke belakang — sangat menonjol. Metrik Khusanov saat menguasai bola, menurut City, meningkat pesat sejak ia bergabung pada Januari 2025.

Era Maresca dan Filosofi yang Tetap Sama

Kepergian Guardiola dan kedatangan Enzo Maresca diperkirakan tidak mengubah pendekatan klub secara signifikan. Metrik utama yang dicari Maresca pada seorang pemain dipahami sangat mirip dengan milik Guardiola, dengan perbedaan mencolok bahwa pelatih asal Italia itu lebih menyukai bek sayap yang bermain lebih langsung. Proses rekrutmen pelatih City sendiri berakar pada filosofi tim dan gaya bermain tertentu, di mana manajer baru diharapkan membentuk tim yang mendominasi penguasaan bola, menekan tinggi, merebut bola di area lawan, menciptakan peluang berkualitas, dan menghibur.

Filosofi itu dirancang sebelum Guardiola ditunjuk, dan pria Spanyol tersebut menghadirkan bentuk paling murni dari ideologi sepak bola City. Karena itu, pergantian manajer tidak serta-merta mengubah cara departemen data bekerja. Maresca akan terus bekerja erat dengan mereka saat membangun dinasti versinya sendiri, tetapi sebagian besar kerja berat membangun skuad yang tahan lama sudah selesai.

Menurunkan Rata-Rata Usia Skuad Tanpa Berhenti Berburu Trofi

Sebelum musim treble, indikator data internal City sudah menunjukkan bahwa klub cepat atau lambat perlu merombak skuad yang telah mencapai puncaknya. Menjual pemain seperti Kevin De Bruyne, Kyle Walker, Riyad Mahrez, dan Ilkay Gundogan bukan perkara mudah, mengingat jasa besar mereka dan fakta bahwa performa mereka masih berada di level tinggi. Namun data memungkinkan klub membaca tren penurunan jauh lebih awal — sering kali dua atau tiga tahun — sebelum seorang pemain benar-benar dilepas.

Metrik semacam itu membantu City menentukan waktu yang tepat untuk menjual pemain, bahkan mungkin sebelum klub pembeli menyadari adanya penurunan performa. Ketika tren tersebut teridentifikasi, klub bisa merencanakan jauh ke depan dan memutuskan apakah akan mulai mengintegrasikan pemain akademi atau turun ke pasar untuk mencari pengganti. Kedatangan Ayyoub Bouaddi dari Lille pada musim panas ini menjadi contoh utamanya: di usia 18 tahun, City sadar ia belum tentu langsung berdampak besar musim ini, tetapi klub yakin pemain Maroko itu bisa memberi kontribusi lebih besar dalam dua tahun.

Setelah musim treble, mandat rekrutmen City adalah menurunkan rata-rata usia skuad dan membangun kumpulan pemain yang mampu meraih kesuksesan berkelanjutan. Namun melakukannya di City punya jebakan tersendiri, karena tim ini selalu dituntut bersaing merebut trofi. Menurunkan usia skuad adalah satu hal, melakukannya sambil terus menang jauh lebih rumit. Pada tahun-tahun sebelumnya, sistem data City mengidentifikasi trio mantan pemain Brighton, yakni Moises Caicedo, Marc Cucurella, dan Carlos Baleba, yang kemudian dipuji sebagai keberhasilan berbasis data. Meski begitu, ada pandangan di City bahwa perkembangan pemain seperti itu akan memakan waktu terlalu lama untuk berdampak pada tim yang dituntut juara, atau justru lebih cocok menjadi aset yang dikembangkan lalu dijual untuk keuntungan.

City kini berhasil menurunkan rata-rata usia skuad hingga menjadi yang terendah ketiga di Premier League, di bawah Newcastle dan Chelsea. Namun dengan merekrut kiper Gianluigi Donnarumma, bek Marc Guehi, serta Fernandez dan Anderson, mereka menambahkan pemain yang tidak hanya bisa tumbuh bersama generasi baru itu, tetapi juga sudah punya pengalaman luas di level tertinggi. Data City menunjukkan skuad mereka saat ini belum akan mencapai puncak selama dua sampai tiga tahun ke depan, tetapi juga memproyeksikan bahwa mereka kemungkinan besar akan berada di antara penantang gelar musim ini.

Yang Bisa Dibaca dari Proyeksi City

Dari 650.000 nama di basis data hingga laporan akuisisi berisi radar chart dan action value score, pendekatan City menunjukkan bahwa data telah menjadi lapisan penting dalam setiap keputusan transfer. Meski begitu, kasus Elliot Anderson menegaskan bahwa angka tidak bisa berdiri sendiri; pemahaman pemandu bakat soal konteks tim, peran, dan karakter pemain tetap menjadi penentu akhir. Kombinasi itulah yang membuat City berani menebus pemain dengan harga di atas valuasi internal mereka ketika risikonya dinilai rendah.

Waktu yang akan membuktikan apakah proyeksi City musim ini tepat, termasuk apakah skuad muda mereka benar-benar mencapai puncak dalam dua sampai tiga tahun. Yang jelas, mesin data di Etihad akan terus bekerja dengan pertanyaan yang sama seperti semula: apa yang dibutuhkan untuk menang.