Pelatih Timnas Spanyol, Luis de la Fuente, kembali membawa skuadnya ke panggung besar dengan satu pesan tegas: menjadi juara dunia belum cukup. Spanyol akan menghadapi Inggris di Stadion Wembley pada 26 September, dan laga itu akan menjadi penampilan pertama mereka sebagai juara Piala Dunia. De la Fuente pun memanggil kembali hampir seluruh pemain yang membawa pulang trofi dari Amerika Serikat.
Skuad ini diumumkan pada Jumat sore di Las Rozas, markas federasi, dan menjadi pemanggilan pertama sejak final di New Jersey. Dari 26 pemain yang berlaga di Piala Dunia, hanya empat yang tidak masuk daftar, masing-masing dengan alasan tersendiri. Langkah tersebut menegaskan bahwa pelatih Spanyol itu lebih memilih kesinambungan ketimbang perubahan besar-besaran.
Hampir Seluruh Juara Dunia Kembali ke Skuad Spanyol
Dari 26 pemain yang membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia, hanya empat nama yang absen pada pemanggilan kali ini. Marcos Llorente memutuskan pensiun dari tim nasional, sementara Joan García sedang menjalani pemulihan cedera. Borja Iglesias, yang sejak awal dianggap paling mungkin meninggalkan skuad, belum sepenuhnya fit, dan Gavi harus menjalani sanksi pada laga melawan Inggris di Wembley — meski ia sebenarnya bisa tampil menghadapi Kroasia dan Ceko.
Fermín López kembali memperkuat skuad setelah absen di Piala Dunia karena cedera. Ia bergabung bersama Josep Martínez, Dean Huijsen, dan Roberto Fernández sebagai nama-nama tambahan. Pedro Porro kemudian menarik diri, dan posisinya digantikan oleh Iván Fresneda.
De la Fuente mempertanyakan mengapa harus ada perubahan besar dalam komposisi timnya. “Bagaimana mungkin tidak ada kesinambungan dengan pemain yang juara segalanya?” katanya. Musim baru pun belum berjalan cukup lama bagi pemain lain untuk mengklaim tempat, meski ada tiga kandidat kuat untuk posisi striker cadangan, yakni Sergio Camello dan Carlos Espí yang bersaing dengan Fernández dari Espanyol.
Bahkan wajah baru di skuad ini, kiper Inter Josep Martínez, sebenarnya sudah pernah berada di lingkaran Spanyol. Secara resmi ia telah mencatat satu penampilan bersama tim senior, ketika tim U-21 asuhan De la Fuente mengisi kekosongan tim senior menjelang Euro yang tertunda pandemi pada musim panas 2021. Ketika ditanya soal peluang Unai Simón kehilangan status kiper nomor satu, ia menjawab bahwa Simón diakui sebagai kiper terbaik di Piala Dunia dan memecahkan berbagai rekor, sehingga mungkin ia tetap perlu diberi kesinambungan.
Mengenai peluang pemain lain, De la Fuente menyebut banyak pemain yang “mengetuk pintu”. Namun ia menegaskan bahwa merekalah yang harus berjalan melewati pintu itu dan masuk ke dalam rumah. Untuk saat ini, tak banyak hal baru yang perlu dikatakan atau dilihat — laporan status Spanyol menjelang laga di Wembley nyaris bisa disederhanakan menjadi satu kalimat: ya, mereka masih juara dunia.
Apa Lagi yang Harus Dimenangkan? Kisah dari Ruang Ganti
Di balik pemanggilan ini tersimpan cerita yang diungkap De la Fuente sendiri. Ia mengisahkan bahwa sesaat setelah pertandingan berakhir pada 19 Juli, hanya dua atau tiga menit setelah final, sebelum siapa pun sempat menenangkan diri, seorang pemain menghampirinya. Pemain itu — yang tidak ia sebutkan namanya, hanya disebut sebagai salah satu yang paling lama bersama tim — bertanya: “Mister, sekarang apa? Apa lagi yang harus dimenangkan?”
Jawaban De la Fuente kala itu lugas. Ia menyebut laga melawan Inggris di Wembley pada 26 September sebagai target berikutnya. Cerita ini menggambarkan mentalitas yang ia sebut insatiable, atau tak pernah puas — sebuah kata yang ia gunakan berulang kali untuk melukiskan timnya.
Cerita itu juga menjelaskan mengapa sang pelatih menolak berpuas diri. Spanyol bukan hanya juara dunia, tetapi juga juara Eropa dan juara Nations League. Di berbagai penjuru negeri, para pemain disambut dan dihormati sebagai pahlawan. Ferran Torres bahkan melemparkan lemparan pembuka di Yankee Stadium dan tampil di hampir semua acara televisi di Amerika Serikat. Foto dirinya saat merayakan gol kemenangan di MetLife pun terpasang di dinding dekat ruang ganti markas Las Rozas.
Jersey Spanyol kini dihiasi bintang tambahan, dan bintang-bintang itu juga sudah ditambahkan pada lambang di seluruh markas Spanyol. Meski begitu, ada nuansa yang seakan harus dilupakan — tidak hanya menjelang Euro dua tahun lagi, tetapi saat ini juga. De la Fuente mengakui ia tidak menyukai jeda internasional baru yang memuat empat pertandingan dalam 11 hari, tetapi berbeda dengan pelatih lain, ia justru menyukai Nations League dan ingin memenanginya.
Wembley, Nations League, dan Tantangan untuk Terus Menang
Spanyol pergi ke Wembley bukan sekadar untuk merayakan status juara dunia. Mereka datang untuk bertanding, dan di situlah letak tantangannya. Laga melawan Inggris memiliki nilai seremoni karena menjadi penampilan perdana mereka sebagai juara dunia, seolah menjadi bagian dari perayaan itu sendiri, tetapi tujuan utamanya tetap kompetitif.
De la Fuente punya alasan kuat untuk menanggapi Nations League dengan serius. Turnamen itu adalah awal era baru Spanyol, trofi pertama bagi generasi yang selalu hidup dalam bayang-bayang pendahulunya, yang diraih pada 2023. Ketika mereka mencapai final kedua pada Juni 2025 dan kalah lewat adu penalti dari Portugal, kekalahan itu terasa menyakitkan.
Meski sudah menjadi juara dunia dan Eropa, Spanyol masih menyimpan satu target. Jika ingin menyamai generasi sebelumnya, mereka masih punya satu turnamen besar lagi untuk dimenangkan. De la Fuente menegaskan bahwa bertanding adalah bagian dari budaya timnya, dan kata yang terus ia ulang adalah “tak pernah puas”.
Kontrak hingga 2032 dan Masa Depan De la Fuente
Perjalanan De la Fuente bersama Spanyol terbilang panjang. Ia bergabung dengan federasi 13 tahun lalu melalui kontrak tiga bulan untuk menangani tim U-19 di Euro, setelah sebelumnya menganggur lebih dari setahun. Ia kemudian mengambil alih tim senior pada 2022 setelah menjadi juara Eropa di level U-19 dan U-21, dan sejak itu selalu mencapai final.
Pekan ini, kontraknya diperpanjang hingga 2032. Menurut sumber, perpanjangan tersebut bukanlah hadiah atas jasa yang sudah dilakukan, melainkan untuk jasa yang masih tertunda, dengan kedua hal itu bertemu dalam sebuah percakapan di New Jersey.
De la Fuente menegaskan timnya tidak akan berhenti. “Tim ini tidak akan berhenti; ia ingin lebih dan lebih lagi, menjadi yang terbaik,” ujarnya. “Saya akan mengatakan hal itu juga kepada mereka. Apa yang kami lakukan di Piala Dunia tidak cukup untuk membuat kami terus menang atau mengalahkan Inggris. Kami harus lebih baik.”
Spanyol sebagai Tim yang Harus Dikalahkan
Sang pelatih menyadari bahwa status juara dunia membuat Spanyol menjadi buruan. “Kami tahu Spanyol adalah tim yang harus dikalahkan, kami tahu itu membuat segalanya lebih sulit, tetapi itu memotivasi kami dan kami siap,” katanya. Ia menambahkan bahwa kesuksesan bukanlah soal menang, melainkan berada dalam posisi di mana tim bisa menang.
De la Fuente juga menegaskan dukungannya kepada para pemain. “Saya akan selalu mendukung para pemain ini. Kau bisa mengikuti mereka sampai ke ujung dunia,” ujarnya. Pernyataan itu memperkuat keyakinannya pada skuad yang ia sebut sebagai generasi tak pernah puas ini.
Mentalitas itulah yang tampaknya menjadi benang merah pemanggilan skuad kali ini. Spanyol tidak datang ke Wembley untuk berpuas diri atas pencapaian di New Jersey, melainkan untuk membuktikan bahwa gelar juara dunia hanyalah salah satu bab dalam perjalanan yang lebih panjang.
Penutup
Secara keseluruhan, pemanggilan skuad Spanyol kali ini menegaskan satu hal: bagi Luis de la Fuente dan para pemainnya, menjadi juara dunia bukanlah titik akhir. Hampir seluruh skuad dari New Jersey kembali, dengan hanya sedikit perubahan karena cedera, pensiun, atau sanksi. Kesinambungan itu sengaja dijaga demi merawat mentalitas juara yang sudah terbangun.
Laga di Wembley pada 26 September akan menjadi ujian pertama mereka sebagai juara dunia sekaligus juara Eropa. Dengan kontrak De la Fuente yang kini berlaku hingga 2032 dan kata “tak pernah puas” yang terus ia gaungkan, Spanyol tampaknya belum berniat berhenti. Mereka datang ke Inggris bukan untuk merayakan masa lalu, melainkan untuk mengejar gelar berikutnya.
