Rui Pinto Kehilangan Perlindungan Saksi, Takut Dibunuh

Pendiri Football Leaks, Rui Pinto, bersiap kehilangan status perlindungan saksi di Portugal meski ia mengaku nyawanya terancam. Hacker asal Portugal berusia 37 tahun itu mengumumkan bahwa keputusan mengakhiri keikutsertaannya dalam program perlindungan saksi per 10 Oktober menempatkannya dalam “situasi yang mengancam nyawa”. Menurut pengakuannya, ia kini tak punya pilihan selain berpindah ke lokasi yang dirahasiakan untuk jangka waktu tak terbatas.

Kasus ini penting karena Pinto bukan figur biasa dalam dunia sepak bola. Dokumen-dokumen yang ia bocorkan lewat Football Leaks menjadi salah satu pemicu investigasi Premier League terhadap Manchester City, dan pekan lalu City dinyatakan bersalah atas seluruh tuduhan pelanggaran aturan keuangan liga. Artinya, orang yang membuka jalan bagi salah satu kasus terbesar dalam sejarah keuangan sepak bola Inggris justru berada dalam posisi paling rentan saat proses hukumnya masih berjalan.

Keputusan 10 Oktober dan Ancaman yang Dihadapi Rui Pinto

Lewat unggahan di platform X pada Jumat, Pinto menyatakan bahwa keputusan menghentikan partisipasinya dalam program perlindungan saksi membuatnya berada dalam kondisi yang membahayakan keselamatannya. Ia menyebut ada “beberapa ancaman pembunuhan” yang diterimanya, serta “risiko serius terjadinya percobaan pembunuhan”. Karena itu, ia memilih bersembunyi di tempat yang tidak diungkap ke publik, tanpa batas waktu yang jelas.

BBC Sport telah menghubungi Commission for the Protection of Victims of Crimes di Portugal untuk meminta keterangan resmi soal penghentian status tersebut. Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan yang dipublikasikan mengenai alasan di balik keputusan itu. Sikap diam lembaga tersebut membuat publik hanya bisa bersandar pada pernyataan Pinto dan tim pengacaranya.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Jumat, para pengacara Pinto menegaskan bahwa berakhirnya perlindungan saksi menempatkan klien mereka pada risiko yang jauh lebih tinggi. Mereka juga mengingatkan bahwa sejumlah proses hukum yang berakar dari kebocoran dokumen masih bergulir, termasuk perkara yang menyangkut Manchester City. Selain itu, Pinto membuka halaman penggalangan dana untuk membantunya “melewati situasi serius ini”, yang menurut klaimnya “diciptakan oleh Negara Portugal”.

Jejak Football Leaks dan Dokumen Manchester City

Pinto dikenal sebagai pendiri Football Leaks, operasi yang membocorkan sekumpulan besar dokumen rahasia sepak bola. Isinya mencakup surat elektronik hingga catatan keuangan yang berkaitan dengan klub peserta Premier League, Manchester City. Kebocoran inilah yang kemudian menarik perhatian publik dan media internasional terhadap praktik keuangan sejumlah klub besar Eropa.

Pada 2018, Pinto menyerahkan dokumen-dokumen tersebut kepada majalah Jerman Der Spiegel. Media itu memanfaatkannya sebagai bahan investigasi atas keuangan City dan dugaan pelanggaran aturan financial fair play. Sejak titik itu, nama Pinto melekat pada rangkaian pengungkapan yang mengubah cara publik memandang tata kelola finansial klub elit.

Pekan lalu, Manchester City dinyatakan bersalah atas semua tuduhan terkait pelanggaran regulasi keuangan Premier League pada rentang musim 2009-10 hingga 2017-18. Pihak klub tidak menerima putusan itu dan telah mengajukan banding. Proses banding tersebut membuat perkara ini masih jauh dari kata selesai, seiring status Pinto yang kian terancam.

Status Hukum Pinto: Pelapor atau Pelaku Pidana?

Pinto menyebut dirinya sebagai whistleblower atau pelapor, namun statusnya di mata hukum Portugal tidak sesederhana itu. Ia pernah divonis bersalah dalam sejumlah perkara, antara lain akses ilegal terhadap data dan upaya pemerasan, dengan hukuman empat tahun penjara yang ditangguhkan. Vonis itu membuat posisinya sebagai “pelapor” selalu dibayangi catatan kriminal.

Persidangan pertamanya pada 2020 berlangsung dengan pengamanan ketat, dan saat itu Pinto tampil mengenakan rompi antipeluru. Detail tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap dirinya bukan hal baru, melainkan sudah muncul sejak bertahun-tahun lalu. Situasi itu menjelaskan mengapa ia begitu khawatir ketika perlindungan resmi negara dicabut.

Awal tahun ini, Pinto memperoleh putusan bebas dalam persidangan kedua atas 241 dakwaan terkait akses ilegal ke akun email sejumlah badan olahraga di Portugal, termasuk Benfica. Hasil itu menjadi kemenangan hukum baginya, tetapi tidak otomatis menghapus rangkaian perkara lain yang masih menyertainya. Kombinasi kemenangan dan vonis lama inilah yang membuat posisinya ambigu di ruang publik maupun di meja pengadilan.

Dampak bagi Kasus Manchester City dan Perlindungan Pelapor

Bagi perkara Manchester City, hilangnya perlindungan atas Pinto berpotensi memengaruhi dinamika proses yang tengah berjalan. Pengacaranya menegaskan bahwa proses hukum yang berasal dari kebocoran dokumen masih belum tuntas, termasuk perkara yang menyeret klub tersebut. Selama jalur hukum belum selesai, keselamatan orang yang menjadi sumber pengungkapan tetap menjadi faktor yang sulit diabaikan.

Dari sisi yang lebih luas, kasus ini menjadi ujian bagi seberapa serius sebuah negara melindungi orang yang membocorkan informasi demi kepentingan publik. Ketika perlindungan dicabut sementara ancaman masih dianggap nyata, muncul pertanyaan tentang insentif bagi calon pelapor lain di masa depan. Jika pelapor merasa tidak aman, pengungkapan pelanggaran besar berisiko tidak pernah terjadi.

Namun, sisi lain juga tak bisa dinafikan: Pinto bukan hanya saksi, tetapi juga terpidana dalam sejumlah perkara. Pemerintah Portugal menghadapi dilema antara menjalankan proses hukum secara konsisten dan menjaga keselamatan seseorang yang mengaku terancam. Ketegangan antara dua kepentingan itu membuat kasus ini jauh lebih rumit daripada sekadar soal siapa yang benar dan siapa yang salah.

Serangan kepada Infantino dan Tekanan pada FIFA

Pada Rabu, Pinto mengalihkan perhatiannya kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino. Ia menyebut Infantino telah “menjadi kanker bagi sepak bola” dan menilai sosok itu “tidak layak berada di masa depan permainan”. Pernyataan tersebut menambah panjang daftar kritik yang diarahkan kepada orang nomor satu di federasi sepak bola dunia itu.

Pinto mengulang tuduhan yang pertama kali ia lontarkan pada 2018, bahwa Infantino melakukan intervensi untuk membantu Manchester City dan Paris St-Germain menghindari sanksi financial fair play dari UEFA. Tuduhan itu tidak pernah menjadi dasar putusan pengadilan dalam perkara yang dibahas di sini, tetapi terus muncul kembali setiap kali nama Pinto menjadi sorotan. Bagi sebagian pihak, pernyataan itu memperkuat citranya sebagai pengungkap kelemahan tata kelola sepak bola Eropa.

Posisi Infantino sendiri belakangan menghadapi tekanan yang meningkat setelah muncul rencana kontroversial untuk menjual sebagian saham kompetisi bentukan FIFA kepada investor swasta. Kompetisi yang dimaksud termasuk ajang sebesar Piala Dunia, sehingga gagasan itu memicu perdebatan soal masa depan sepak bola. Tekanan tersebut membuat kritik Pinto datang pada momen yang sensitif bagi kepemimpinan FIFA.

Apa yang Bisa Terjadi Berikutnya

Langkah Pinto untuk berlokasi di tempat yang dirahasiakan menandakan bahwa ia tidak menunggu kepastian dari otoritas Portugal sebelum mengambil tindakan pengamanan sendiri. Ia juga menyiapkan kanal penggalangan dana sebagai jaring pengaman finansial selama masa ketidakpastian ini. Sementara itu, proses banding Manchester City dan perkara lain terkait kebocoran dokumen masih akan bergulir di jalur masing-masing.

Yang belum terjawab adalah apakah Commission for the Protection of Victims of Crimes di Portugal akan memberi penjelasan resmi soal pencabutan perlindungan tersebut. Tanpa keterangan itu, publik hanya bisa menimbang dari pernyataan Pinto, dokumen pengacaranya, dan catatan panjang persidangan yang pernah ia jalani. Ketidakjelasan ini justru menambah lapisan ketegangan pada kasus yang sejak awal sudah penuh kontroversi.

Kisah Rui Pinto adalah cerminan betapa rumit posisi seseorang yang berada di antara peran pelapor dan status terpidana. Di satu sisi, dokumen yang ia sebarkan menjadi salah satu pemicu vonis bersalah Manchester City pekan lalu dan masih terkait dengan perkara yang berjalan. Di sisi lain, ia kini harus menghadapi ancaman yang ia gambarkan sebagai risiko pembunuhan, tanpa lagi bersandar pada perlindungan saksi negaranya.

Bagaimana kasus ini berakhir akan bergantung pada perkembangan proses hukum di Portugal dan banding Manchester City, serta respons lembaga perlindungan saksi yang menolak berkomentar sejauh ini. Terlepas dari penilaian terhadap sosok Pinto, pertanyaan besarnya tetap sama: sejauh mana seorang pengungkap kebocoran keuangan sepak bola bisa merasa aman saat perkaranya belum tuntas.