Martin O’Neill Pikirkan Masa Depannya di Celtic

Martin O’Neill tengah mempertimbangkan masa depannya sebagai manajer Celtic setelah timnya menelan kekalahan kedua dalam sepekan dari rival bebuyutan, Rangers. Dalam konferensi pers pascapartai, pria berusia 74 tahun itu secara terbuka mengisyaratkan bahwa sudah waktunya baginya untuk “mengakhiri semuanya”. Pernyataan tersebut menjadi momen langka ketika seorang pelatih yang selama ini dikenal tegar mulai mempertanyakan apakah dirinya masih layak memimpin skuad asal Glasgow itu.

Ucapan itu terasa mengejutkan karena O’Neill datang kembali ke Celtic sebagai penyelamat tak terduga dan langsung mempersembahkan gelar ganda pada musim sebelumnya, sebuah pencapaian yang sempat dianggap mustahil ketika Liga Utama Skotlandia dan Piala Skotlandia berhasil diselamatkan dari salah satu musim paling bergolak dalam sejarah klub. Ia bahkan nyaris mengangkat trofi Piala UEFA pada 2003 melawan Porto asuhan Jose Mourinho, tim yang musim berikutnya menjuarai Liga Champions. Reputasinya sebagai salah satu manajer terbaik sepanjang sejarah Celtic sudah nyaris tak tergoyahkan, sehingga wajar jika ia kini berpikir keras soal langkah terbaik berikutnya.

Martin O’Neill Buka Suara soal Masa Depannya

Dalam sesi jumpa pers setelah kekalahan dari Rangers, O’Neill tidak menutup kemungkinan untuk mundur. Ia menyatakan akan merenung dan menilai kembali situasinya, terutama karena ia merasa bertanggung jawab untuk membantu tim keluar dari keterpurukan. Menurutnya, seorang manajer memang dituntut mampu memperbaiki keadaan, dan ia akan meninjau hal itu dalam sepekan ke depan.

O’Neill juga menyinggung soal usia sebagai faktor yang tidak bisa diabaikan. Ia berkelakar bahwa dua tahun lagi usianya akan menyentuh 110 tahun, sindiran yang justru menegaskan bahwa ia mulai serius memikirkan kata “mengakhiri semuanya”. Meski begitu, ia menambahkan bahwa ia akan berbicara dengan dewan direksi dan mengambil beberapa hari untuk menjauh sejenak sebelum mengambil keputusan.

Ia lantas mengenang pertandingan melawan Hearts sebagai salah satu momen terbaik dalam karier kepelatihannya, di mana Celtic memastikan gelar pada menit-menit akhir laga terakhir liga. Namun O’Neill mengaku tetap dilanda keraguan, sebab sepanjang waktu ia selalu bertanya-tanya apakah dirinya masih memiliki energi dan hasrat yang setiap Jumat ia gaungkan kepada para pemainnya. Itulah yang membuatnya ingin meninjau kembali sebelum menentukan langkah selanjutnya.

Bagaimana Keadaan Bisa Memburuk Begitu Cepat

Untuk memahami duduk perkaranya, kita perlu menengok kembali ke pertengahan musim panas. Tiga puluh menit setelah babak kedua play-off Liga Champions dimulai pada Agustus, Celtic sudah unggul agregat 4-0 atas LASK di Linz dan terlihat mulus melaju ke fase liga kompetisi elite Eropa tersebut. Akan tetapi, runtuhnya performa di laga itu hingga berujung pada tersingkirnya mereka meninggalkan luka yang mendalam bagi para pemain maupun staf pelatih.

Empat kemenangan di Liga Utama yang menyusul pun jauh dari memuaskan. Tiga di antaranya hanya dimenangkan dengan selisih satu gol melawan Falkirk, St Mirren, dan St Johnstone. Ketika tekanan benar-benar datang menghadapi Rangers dua kali serta Ferencvaros, Celtic justru ambruk dan tidak mampu merespons.

Rangkaian hasil itu membuat sebagian suporter mempertanyakan kualitas, kedalaman, dan waktu perekrutan pemain yang dilakukan pada musim panas. Mantan pemain timnas Skotlandia, James McFadden, mengaku belum yakin dengan langkah belanja klub. Menurutnya, Celtic belum benar-benar menambah kekuatan skuad, baik dari sisi jumlah maupun kualitas, dan hanya menggantikan pemain yang pergi.

Persoalan Rekrutmen dan Pilihan Taktik

O’Neill berusaha mencari cara untuk memasukkan rekrutan mahal seperti Camilo Duran dan Kasper Hogh ke dalam susunan pemain, tetapi upaya itu belum membuahkan hasil. Ia juga mencoba sederet gelandang berbeda demi membangkitkan kembali jantung timnya. Sayangnya, setiap eksperimen belum mampu mengubah wajah permainan Celtic secara signifikan.

Pada derby liga hari Minggu, O’Neill bahkan nekat menyingkirkan para pemain sayap dan menurunkan lima bek, sambil mendorong bek sayap Kieran Tierney lebih ke depan. Namun semua upaya itu tetap tak berbuah. Pendekatan defensif tersebut justru memperlihatkan bahwa sang manajer sedang mencari-cari formula yang tepat untuk timnya.

Persoalan bertambah rumit karena inti lini tengah Celtic dinilai lambat dan kehilangan fisik, sebuah masalah yang sudah mengemuka sepanjang musim. Mantan pemain Chris Sutton menyoroti bahwa Callum McGregor kini setahun lebih tua dan tidak lagi mampu menjelajah lapangan seperti dulu. Kondisi itu membuat Celtic kesulitan mengimbangi intensitas lawan di lini tengah.

Sorotan Legenda Klub: Sutton dan Lennon

Sutton, yang pernah bermain di bawah asuhan O’Neill pada periode pertamanya di klub, mengaku sangat tidak terkesan dengan apa yang dilihatnya. Menurutnya, pertandingan itu bukanlah laga yang ketat, melainkan ada jurang kualitas yang sangat besar antara kedua tim. Ia bahkan menyebut tak ingat ada tim Celtic yang dihajar Rangers sekeras itu di Celtic Park.

Bagi Sutton, Rangers tampil sebagai sebuah tim yang solid, sementara Celtic tidak. Ia menilai Rangers lebih unggul di setiap lini, dan kekalahan telak itulah yang menjadi kekhawatiran utama. Meski mengakui O’Neill kini menua, ia tetap yakin sang manajer masih memiliki semangat bertarung untuk membalikkan keadaan.

Pandangan senada datang dari mantan rekan setim Sutton, Neil Lennon, yang mengenal O’Neill lebih baik dari kebanyakan orang. Lennon menyebut O’Neill sedang terluka dan gelisah, serta pasti ingin menemukan jawaban atas persoalan yang ada. Menurutnya, jeda pertandingan datang pada waktu yang tepat agar sang manajer bisa memulihkan diri, mencari suasana baru, dan memikirkan kembali seluruh persoalan.

Lennon menambahkan bahwa pekan seperti ini bukan hanya soal kekalahan, melainkan juga cara tim kalah. Ia yakin O’Neill sendiri sadar bahwa dirinya akan menghadapi banyak sorotan, kritik, dan introspeksi. Meski begitu, Lennon menilai O’Neill masih merasa punya energi untuk melanjutkan tugasnya.

Reaksi Suporter dan Arah Berikutnya

Kekecewaan juga datang deras dari kalangan suporter. Seorang penggemar bernama Lee menilai susunan pemain awal O’Neill tampak lemah di lini tengah, dan hal itu terbukti di lapangan. Ia juga menyoroti cara staf pelatih menangani rekrutan mahal musim panas setelah awal yang menjanjikan, serta kondisi kebugaran tim secara umum.

Penggemar lain, Alec, mempertanyakan pernyataan O’Neill yang menyebut laga itu berjalan ketat, karena baginya hal tersebut sangat jelas tidak sesuai kenyataan. Kev menilai O’Neill tampak akan segera menyerahkan tugas, dan ia tidak menyalahkannya mengingat ada persoalan yang membara di dalam klub. Ia pun menyebut jeda internasional datang pada waktu yang tepat dan bahkan menyindir bahwa penasihat klub akan segera meminta bantuan pihak lain.

Sementara itu, Wayne menegaskan bahwa kalah adalah bagian dari permainan dan suporter bisa menerimanya, tetapi yang tidak bisa diterima adalah pemain yang tidak memberikan segalanya. Danny menilai dewan direksi kemungkinan mempertahankan O’Neill karena menganggap suporter belum akan berbalik, namun ia memperingatkan bahwa satu kekalahan lagi bisa membuat situasi memanas dan mengaburkan semua kebaikan yang pernah dilakukan sang manajer.

Kesimpulan

Masa depan Martin O’Neill di Celtic kini benar-benar berada di titik krusial. Di satu sisi, ia memiliki warisan gemilang yang layak dijaga, mulai dari gelar ganda hingga capaian di pentas Eropa. Di sisi lain, rangkaian hasil buruk dalam sepekan dan keraguan yang ia ucapkan sendiri membuat pertanyaan tentang siapa yang paling tepat memimpin klub menjadi semakin sulit dijawab.

Jeda pertandingan menjadi kesempatan bagi O’Neill untuk benar-benar merenung sebelum berbicara dengan dewan direksi. Apa pun keputusan yang ia ambil nantinya, langkah tersebut akan menentukan arah Celtic di sisa musim ini sekaligus membentuk cara warisannya dikenang oleh para pendukung.