Atletico Madrid balas Mourinho dengan cara yang cukup tak terduga. Klub ibu kota Spanyol itu melontarkan respons tajam melalui media sosial setelah pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, mendatangi konferensi pers pasca-derby Madrid sambil membawa cetakan tangkapan layar berisi dua insiden yang ia yakini seharusnya berbuah kartu merah bagi Atletico. Mourinho menyebut para pengadil pertandingan melakukan kesalahan krusial karena Real kalah 2-1 dari tuan rumah, dan menegaskan bahwa Atletico semestinya menerima dua kartu merah di babak pertama.
Perseteruan ini menjadi sorotan karena posisinya bukan sekadar adu komentar biasa antar pelatih. Derby Madrid memang selalu menyisakan tensi tinggi, tetapi keputusan Mourinho membawa “bukti cetak” ke ruang konferensi pers menambah dimensi baru dalam perdebatan soal kualitas perwasitan di La Liga. Atletico, yang dikenal aktif menggunakan akun media sosial mereka untuk menanggapi rival, memilih merespons dengan sindiran alih-alih pernyataan resmi panjang lebar.
Isi Cetakan yang Dibawa Mourinho ke Konferensi Pers
Dalam sesi jumpa pers usai laga, Mourinho tampil dengan beberapa lembar kertas A4 berisi tangkapan layar dua momen yang menurutnya layak diganjar kartu merah. Ia tidak berbicara panjang tentang taktik atau jalannya pertandingan, melainkan langsung mengarahkan perhatian media pada gambar-gambar tersebut. “Kita bisa melewati konferensi pers ini karena cerita pertandingan ada tepat di sini,” ujarnya sambil menunjukkan lembaran-lembaran itu.
Menurut Mourinho, kedua insiden tersebut merupakan pelanggaran yang jelas dan bukan perkara tafsir. Ia lalu menggambarkan bagaimana pertandingan bisa berjalan sangat berbeda seandainya jumlah pemain tidak seimbang sejak awal. “Itu dua kartu merah yang jelas. Mengingat kesulitan yang kami hadapi setelahnya saat bermain 11 lawan 10, kami hanya bisa membayangkan bagaimana 50 menit bermain 11 lawan sembilan,” katanya.
Sebagai penutup, pelatih asal Portugal itu menyatakan hanya bisa merangkul pemain-pemainnya yang dinilainya sudah memberikan segalanya. Ia menilai skuadnya tampil dengan kelas dan karakter pada babak pertama, serta menciptakan fondasi yang cukup untuk memenangkan babak kedua. Kekalahan ini sendiri merupakan kekalahan kedua Real musim ini, setelah sebelumnya tumbang 1-0 di tangan Real Betis pada September.
Respons Atletico Madrid lewat Media Sosial
Sehari setelah konferensi pers tersebut, Atletico Madrid balas Mourinho melalui dua unggahan di akun X mereka. Postingan pertama berupa video yang memperlihatkan selembar kertas keluar dari mesin printer dengan tulisan tagar #StopAcosoArbitralYA, sebuah seruan yang berarti “hentikan pelecehan terhadap wasit sekarang”. Video itu secara implisit menertawakan gaya Mourinho yang datang ke jumpa pers dengan cetakan dokumen.
Unggahan kedua menampilkan foto Mourinho saat berada di konferensi pers, dilengkapi pesan yang sama. Kombinasi kedua postingan itu langsung menarik perhatian publik sepak bola Spanyol. Menurut catatan, respons Atletico tersebut mengumpulkan dua juta penayangan di X hanya dalam waktu dua jam sejak diunggah, angka yang menunjukkan betapa besarnya perhatian terhadap drama derby kali ini.
Pola ini sebenarnya bukan hal baru bagi Atletico. Klub asuhan Diego Simeone itu memang kerap memanfaatkan akun media sosial untuk merespons rival-rivalnya, termasuk berkali-kali menyindir Barcelona sepanjang musim panas terkait upaya Blaugrana mendekati pemain andalan mereka, Julian Alvarez. Artinya, unggahan soal Mourinho ini konsisten dengan gaya komunikasi klub yang cenderung bermain di ranah narasi publik, bukan hanya di lapangan.
Dampak: Tekanan pada Wasit dan Adu Narasi Antar Klub
Langkah Mourinho membawa bukti visual ke konferensi pers menempatkan wasit Ortiz Arias sebagai pusat perhatian. Tekanan semacam ini bukan hal sepele, sebab keputusan pengadil sering menjadi sasaran kritik terbuka dari klub-klub besar di liga. Ketika seorang pelatih menampilkan “bukti” di depan kamera, pesan yang ingin disampaikan bukan lagi soal analisis teknis, melainkan tuduhan bahwa hasil pertandingan ditentukan oleh kesalahan wasit.
Tidak hanya lewat pernyataan pelatih, narasi serupa juga muncul di kanal resmi Real Madrid. Laporan pertandingan yang dipublikasikan di situs klub menyebut kekalahan di derby itu ditentukan oleh “perwasitan yang buruk” dari Ortiz Arias. Kombinasi pernyataan Mourinho dan laporan resmi klub memperlihatkan bahwa kekecewaan terhadap keputusan wasit disalurkan secara terkoordinasi, bukan sekadar emosi sesaat setelah peluit panjang.
Bagi Atletico, respons cepat di media sosial berfungsi menjaga posisi mereka di ruang publik. Dengan mengangkat isu pelecehan terhadap wasit, klub berupaya membingkai kritik Mourinho sebagai bentuk tekanan yang tidak sehat terhadap pengadil. Framing ini penting karena memindahkan perdebatan dari pertanyaan “apakah wasit salah?” menjadi pertanyaan “apakah pelatih boleh melancarkan tekanan sebesar itu?”.
Sikap Simeone dan Konteks Rivalitas Madrid
Diego Simeone dimintai tanggapan langsung soal rentetan keluhan Mourinho terhadap wasit. Ia memilih tidak membalas secara personal, tetapi justru menyoroti pentingnya menjaga batas dalam berkomentar. Menurut Simeone, para pelatih berada di posisi istimewa yang selalu diawasi publik, sehingga setiap ucapan perlu ditimbang dengan hati-hati, tidak peduli siapa yang berbicara.
“Saya memahami bahwa kami berada di posisi yang istimewa dengan banyak sorotan publik, sebagai pelatih, dan entah itu Mourinho, Flick, Pellegrini, saya, atau siapa pun, kami perlu berhati-hati dengan apa yang kami katakan,” ucap Simeone. Ia juga menyebut bahwa nama pelatih lain seperti Hansi Flick di Barcelona dan Manuel Pellegrini di Real Betis berada dalam posisi yang sama rentannya ketika membahas keputusan wasit.
Pelatih berkebangsaan Argentina itu menambahkan bahwa rasa hormat terhadap orang lain, termasuk para pengadil dan rekan seprofesi, harus tetap dijaga. “Ketika seseorang melewati batas rasa hormat itu, itu tidak benar, Anda tidak bisa melewati batas itu,” tegasnya. Pernyataan ini bisa dibaca sebagai kritik tak langsung terhadap sikap Mourinho, meski disampaikan tanpa menyebut nama secara spesifik.
Apa yang Mungkin Terjadi Selanjutnya
Perdebatan soal keputusan wasit biasanya mereda seiring berjalannya kompetisi, tetapi jejaknya bisa bertahan lama. Bagi Real Madrid, dua kekalahan di awal musim membuat setiap hasil minor berpotensi memicu pertanyaan soal konsistensi. Bagi Mourinho sendiri, cara ia menyampaikan protes menjadi bagian dari citra yang melekat padanya: berani mengambil posisi dan tidak segan menantang otoritas perwasitan secara terbuka.
Sementara itu, Atletico memperlihatkan bahwa mereka tidak hanya bertarung di lapangan, tetapi juga di ruang digital. Strategi media sosial semacam ini efektif untuk membangun kedekatan dengan pendukung sekaligus mengendalikan narasi, terutama ketika klub berada di posisi yang menguntungkan setelah memenangi derby. Pola ini kemungkinan akan terus dipakai Atletico menghadapi klub-klub besar lain sepanjang musim.
Yang paling terdampak dalam jangka pendek justru para wasit. Setiap keputusan kontroversial di laga-laga besar berpotensi dibandingkan dengan insiden di derby Madrid, dan hal itu menambah beban psikologis bagi pengadil di lapangan. Selama perdebatan soal konsistensi keputusan tidak diselesaikan melalui mekanisme resmi, adu pernyataan lewat konferensi pers dan media sosial akan terus menjadi bagian dari dinamika sepak bola Spanyol.
Kesimpulan
Atletico Madrid balas Mourinho dengan sindiran digital yang cepat dan terukur: sebuah video printer bertagar #StopAcosoArbitralYA serta foto Mourinho dengan pesan serupa, yang langsung menuai dua juta penayangan dalam dua jam. Respons itu muncul setelah Mourinho membawa cetakan tangkapan layar ke konferensi pers, menyebut dua insiden seharusnya berbuah kartu merah, dan menyoroti kekalahan 2-1 Real dari Atletico.
Di sisi lain, Simeone memilih jalur berbeda dengan menekankan pentingnya menghormati wasit dan rekan seprofesi, tanpa menyebut nama siapa pun. Gabungan antara protes terbuka dari kubu Real, sindiran dari Atletico, dan seruan menjaga batas rasa hormat dari Simeone memperlihatkan bahwa derby Madrid kali ini tidak selesai begitu peluit akhir dibunyikan. Pertarungan narasinya justru berlanjut di layar ponsel dan ruang konferensi pers.
