Alexia Putellas Favorit Ballon d’Or 2026, Siapa Penantangnya?

Alexia Putellas kembali masuk bursa sebagai kandidat terkuat peraih Ballon d’Or 2026 untuk kategori pesepak bola wanita terbaik. Pada malam pengumuman nanti, besar kemungkinan sosok yang mengangkat trofi bergengsi itu adalah wajah yang sudah sangat akrab bagi publik sepak bola, dan Putellas disebut sebagai favorit untuk membawanya pulang untuk ketiga kalinya.

Peluang tersebut tidak muncul dari ruang kosong. Lima edisi terakhir trofi ini selalu jatuh ke tangan pemain Spanyol, yakni Aitana Bonmati dan Putellas, sehingga dominasi negara itu menjadi latar penting dalam perburuan gelar tahun ini. Bonmati sendiri praktis absen dari persaingan karena cedera kaki serius yang dialaminya saat membela tim nasional pada November 2025, dan dari 30 nama di daftar pendek, hanya sedikit yang benar-benar berpeluang menggeser Putellas dari posisi teratas.

Modal Alexia Putellas Menuju Ballon d’Or 2026

Alasan utama Putellas dijagokan adalah pencapaian kolektif yang ia pimpin bersama Barcelona pada Mei lalu. Sebagai kapten, ia mengantar klub Catalan itu meraih quadruple, termasuk gelar Liga Champions ketiga dalam empat tahun dan titel Liga F ketujuh secara beruntun. Prestasi semacam ini memberi bobot besar dalam penilaian, karena Ballon d’Or mempertimbangkan performa individu sekaligus capaian tim.

Kontribusi pribadinya juga tidak bisa dibilang kecil. Sepanjang musim sensasional Barcelona, ia mencatatkan 21 gol dan 13 assist, angka yang membuatnya tetap menonjol meski bermain di dalam skuad yang sudah bertabur bintang. Pengaruhnya sebagai pemimpin di lapangan, menurut pandangan banyak pengamat, sama pentingnya dengan sumbangan angka-angkanya.

Rekam jejak panjangnya memperkuat posisi tawar tersebut. Dengan 38 trofi yang sudah dikoleksi dan status peraih Ballon d’Or pada 2021 serta 2022, gelandang yang kini memperkuat London City Lionesses itu dinilai berada di jalur yang tepat untuk kembali naik podium. Pakar sepak bola Spanyol, Guillem Balague, bahkan tidak ragu menyebutnya sederajat dengan Marta sebagai pesepak bola wanita terbaik dalam sejarah, sekaligus menegaskan bahwa Putellas adalah pemain terbaik pada musim yang baru berlalu karena ia memenangi segalanya.

Mengapa Spanyol Terus Menguasai Trofi Ini

Akar dominasi Spanyol sebenarnya mudah dilacak. Di level klub, Barcelona adalah kekuatan paling dominan di dunia: mereka tampil di tujuh dari delapan final Liga Champions terakhir dengan empat di antaranya berakhir sebagai juara. Di kompetisi domestik, Barcelona selalu menjadi juara sejak musim 2019-20, dan dalam rentang itu mereka rata-rata finis 15 poin di atas tim peringkat kedua.

Kekuatan itu berlanjut ke level tim nasional. Spanyol menjuarai Piala Dunia 2023, melaju ke final Euro 2025 sebelum dikalahkan Inggris, lalu menutup tahun dengan trofi Nations League pada Desember setelah mengalahkan Jerman di partai puncak. Kombinasi klub raksasa dan tim nasional yang konsisten di jalur juara membuat pemain Spanyol selalu punya bahan kuat untuk dinominasikan.

Dampaknya terlihat pada komposisi daftar pendek tahun ini. Spanyol mengirim enam pemain, jumlah terbanyak dibandingkan negara lain, dan delapan dari sebelas pemain inti Barcelona pada final Liga Champions masuk dalam bursa. Nama-nama seperti penyerang Claudia Pina yang baru saja mencetak empat gol ke gawang Real Madrid, kiper Cata Coll, dan gelandang Patri Guijarro menjadi bukti bahwa kedalaman skuad Spanyol kini berada di level berbeda.

Penantang Terkuat: Khadija Shaw hingga Ewa Pajor

Jika ada pemain di luar Spanyol yang punya argumen paling kuat, nama Khadija Shaw berada di urutan teratas. Penyerang Jamaika itu mencetak 21 gol di liga musim lalu dan mengantar Manchester City meraih gelar pertama dalam satu dekade, lalu menambah lima gol lagi di Piala FA saat timnya menuntaskan double. Ia juga menjadi top skorer Women’s Super League dalam tiga musim terakhir, mengoleksi 90 gol sejak kedatangannya pada musim panas 2021, dan pada Juni lalu diganjar kontrak empat tahun yang menguntungkan.

Dukungan terhadap Shaw datang dari mantan pemain internasional Inggris, Ellen White, yang menilai daftar tahun ini tetap dihuni pemain-pemain hebat meski tidak ada turnamen besar pada periode penilaian, dan secara khusus berharap melihat sang penyerang melesat karena kemampuan mencetak golnya. Namun ada ganjalan: Shaw adalah bagian dari lima pemain Manchester City yang masuk nominasi, padahal musim sebelumnya klub itu tidak memiliki wakil sama sekali, dan kelima pemain tersebut berisiko kehilangan poin karena City tidak berlaga di Liga Champions musim lalu.

Nama lain yang layak diperhitungkan adalah Alessia Russo dari Arsenal. Ia menempati peringkat kedua di bawah Shaw dalam daftar top skorer liga musim lalu dan tampil mengesankan di Liga Champions dengan sembilan gol. Pada edisi sebelumnya ia finis ketiga di belakang Bonmati dan rekan setimnya di klub, Mariona Caldentey, berkat kemenangan Arsenal di Liga Champions pada Mei 2025; tahun ini langkah Arsenal terhenti di semifinal oleh Lyon, dan itu bisa mengurangi peluangnya.

Satu kandidat penutup untuk mematahkan cengkeraman Spanyol justru datang dari Barcelona sendiri. Penyerang Polandia, Ewa Pajor, mencetak 11 gol hanya dalam 10 pertandingan Liga Champions musim lalu, termasuk hat-trick di final melawan Lyon. Pemain berusia 29 tahun itu menerima trofi Gerd Muller kategori top skorer dan menutup musim di peringkat kedelapan klasemen umum, sehingga wajar jika sebagian pihak menilai ini mungkin gilikannya.

Cara Kerja Voting dan Kritik yang Masih Membayangi

Penghargaan ini menilai periode 3 Agustus 2025 hingga 19 Juli 2026, dengan dasar penilaian berupa performa individu, pencapaian kolektif, dan sportivitas. Mekanismenya melibatkan jurnalis internasional terpilih, satu dari setiap negara yang berada di 50 besar peringkat dunia FIFA, yang menyusun sepuluh nama terbaik mereka. Poin kemudian dibagikan dengan skala menurun, dan pemain dengan total poin tertinggi keluar sebagai pemenang.

Meski prosesnya relatif jelas, penyelenggaraan trofi ini berulang kali menjadi sasaran kritik. Pada musim-musim sebelumnya, upacara ini dituding terlalu berpusat pada Eropa dan dianggap salah waktu karena digelar saat jeda pertandingan internasional. Tahun ini, acara berlangsung di tengah kalender domestik sehingga persoalan tanggal tidak lagi menjadi masalah utama.

Kritik lain tetap mengemuka, terutama soal minimnya wakil dari National Women’s Super League (NWSL) di Amerika Serikat. Salah satu penyebabnya adalah kalender NWSL yang berjalan dari Februari hingga November, sehingga tidak sepenuhnya sejalan dengan periode penilaian penghargaan ini. Akibatnya, pemain sekaliber Trinity Rodman dari Washington Spirit justru tidak masuk dalam daftar yang diklaim memuat nama-nama terbaik dunia tersebut.

Apa Arti Dominasi Ini bagi Peta Sepak Bola Wanita

Terlepas dari siapa yang menang, komposisi daftar pendek tahun ini memperlihatkan satu pola yang jelas: talenta terbaik dunia cenderung terkonsentrasi di klub-klub yang rutin bersaing di Liga Champions. Pemain yang bermain di luar kompetisi tersebut, sekelas Shaw dan rekan-rekannya di Manchester City, harus menerima kenyataan bahwa performa apik di liga domestik belum tentu berbobot sama di mata pemilih.

Bagi Barcelona dan tim nasional Spanyol, hasil apa pun nanti akan memperkuat narasi bahwa mereka sedang berada di fase keemasan. Jika Putellas menang lagi, catatan itu menegaskan betapa sulitnya bagi pemain dari negara lain untuk menembus dominasi tersebut, sekaligus menempatkan generasi Spanyol ini sejajar dengan era-era terbaik dalam sejarah sepak bola wanita. Sebaliknya, kemenangan Shaw, Russo, atau Pajor akan menjadi sinyal bahwa liga di luar Spanyol mulai diperhitungkan.

Yang paling menarik untuk dicermati adalah bagaimana isu struktural seperti kalender kompetisi dan cakupan wilayah pemilih akan diselesaikan. Selama periode penilaian belum selaras dengan jadwal NWSL, perdebatan tentang keadilan daftar nominasi kemungkinan besar akan terus muncul setiap tahun. Pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa pemain terbaik, tetapi juga seberapa adil sistem yang dipakai untuk menentukannya.

Kesimpulan

Ballon d’Or 2026 untuk kategori wanita kembali berpusat pada satu nama: Alexia Putellas. Dengan quadruple bersama Barcelona, 21 gol dan 13 assist, serta koleksi 38 trofi, ia punya hampir semua argumen yang dibutuhkan untuk meraih gelar ketiganya, terutama ketika Bonmati absen karena cedera panjang. Spanyol juga tetap menjadi kekuatan utama dengan enam wakil di daftar pendek.

Namun persaingan tidak sepenuhnya tertutup. Khadija Shaw membawa kans terbesar dari Inggris berkat konsistensi mencetak gol, Alessia Russo punya pengalaman bersaing di posisi teratas, dan Ewa Pajor datang dengan rekor gol di Liga Champions. Apa pun hasilnya, edisi kali ini tetap menyisakan pekerjaan rumah bagi penyelenggara: memastikan penghargaan bagi pesepak bola wanita terbaik dunia benar-benar mencerminkan seluruh penjuru permainan, bukan hanya sebagiannya.