Krisis Pertahanan Manchester City Usai Takluk di Villa Park

Krisis pertahanan Manchester City kian telanjang setelah pasukan Enzo Maresca pulang dari Villa Park dengan tangan kosong. Dua gol Nicolas Jackson memastikan Aston Villa menang 2-1, sekaligus menghentikan laju sempurna City yang sebelumnya selalu menang di tujuh pertandingan pertama Premier League musim ini. Kekalahan itu bukan sekadar kehilangan tiga poin, melainkan sinyal bahwa lini belakang mereka belum siap bersaing sampai akhir musim.

Masalahnya bukan hanya soal hasil. Dalam enam pertandingan terakhir, City hanya mampu menjaga gawang tetap bersih satu kali, dan performa dua nama yang paling diharapkan menjaga benteng terakhir — kiper Gianluigi Donnarumma serta bek tengah Marc Guehi — kini menjadi sorotan utama. Dua pemain itu masing-masing sudah mencatat tiga kesalahan yang berujung gol Premier League sejak awal musim lalu, angka yang hanya dilampaui delapan pemain lain di kompetisi ini. Bagi tim yang biasa mendominasi penguasaan bola, rapuhnya area sendiri jelas menjadi persoalan mendesak.

Dua Gol Nicolas Jackson Bongkar Kelemahan City

Di hadapan pendukung tuan rumah yang bergemuruh, Jackson mencetak satu gol di masing-masing babak dan menjadi pembeda dalam laga itu. Meski City menguasai sebagian besar pertandingan dan lebih sering berkutat di sekitar kotak penalti Villa, mereka gagal mengubah penguasaan itu menjadi hasil. Sebaliknya, setiap kali Villa mendapat ruang, ancaman nyata langsung tercipta.

Enzo Maresca mengakui bahwa kedua gol yang bersarang ke gawang timnya sebenarnya bisa dihindari. “Sangat bisa, keduanya,” ujarnya kepada TNT Sports ketika ditanya soal hal tersebut. Ia menambahkan bahwa timnya hanya kebobolan dari dua peluang, tetapi menciptakan banyak kans di sisi lain, sehingga penyelesaian akhir dan ketenangan dalam bertahan menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.

Catatan pertahanan City memang bergerak ke arah yang mengkhawatirkan. Mereka sempat tampil impresif dengan cleansheet di markas Liverpool dua pekan lalu, tetapi di luar laga itu gawang mereka jebol oleh lawan-lawan yang kualitasnya sangat beragam, mulai dari juara Liga Champions Paris Saint-Germain hingga tim yang berjuang di papan bawah seperti Sunderland. Dalam empat pertandingan terakhir saja, sembilan gol sudah masuk ke gawang mereka, sebuah penurunan tajam dibanding awal musim ketika delapan gol kebobolan dalam sembilan laga pertama.

Donnarumma dan Persoalan Main dari Belakang

Kedatangan Donnarumma pada musim panas lalu dipandang sebagai perekrutan kiper kelas dunia, pengganti Ederson yang telah mengubah wajah sepak bola Inggris lewat kemampuan distribusinya. Kiper asal Brasil itu terbiasa melepas umpan pendek maupun panjang dengan presisi tinggi, dan hanya sedikit kiper yang bisa mendekati kualitas tersebut. Sayangnya, sang kapten tim nasional Italia justru dikenal kurang nyaman mengolah bola dengan kakinya, dan hal itu kerap menempatkan rekan setimnya dalam situasi sulit ketika membangun serangan dari belakang.

Ketegangan itu terlihat jelas di Villa Park. Kapten City, Ruben Dias, sampai menggerakkan tangannya meminta Donnarumma mengirim bola jauh ke depan setelah sang bek gagal mengendalikan umpan yang sulit. Pada gol kedua Villa, sebuah tembakan rendah tampak menyelinap di bawah tubuhnya — momen yang diyakini banyak pihak seharusnya bisa diantisipasi lebih baik.

Mantan bek City, Steph Houghton, menilai kiper Italia itu bisa berbuat lebih untuk gol kedua, meski ia enggan mengurangi pujian terhadap Villa. “Villa benar-benar memanfaatkan penguasaan bola dan menjadi ancaman nyata bagi Manchester City. Donnarumma, terutama untuk gol kedua, mungkin bisa berbuat sedikit lebih baik,” katanya di BBC Radio 5 Live. Ia menambahkan bahwa rencana permainan Villa sangat tepat untuk menetralisir kekuatan City.

Perbandingan dengan Trafford yang Dijual ke Leeds

Keputusan Maresca melepas James Trafford ke Leeds seharga £45 juta pada musim panas lalu kini mendapat sorotan baru. Kiper tim nasional Inggris itu tampil mengesankan di Elland Road, dengan catatan umpan lebih banyak daripada Donnarumma musim ini, laju penyelamatan yang sedikit lebih baik, serta 11 kali keluar dari sarangnya untuk menyapu bola dibandingkan hanya satu kali yang dilakukan Donnarumma. Perbandingan ini tidak otomatis berarti Trafford lebih baik secara keseluruhan, tetapi menunjukkan bahwa gaya bermain City saat ini belum sepenuhnya cocok dengan karakter kiper barunya.

Marc Guehi dan Rangkaian Kesalahan yang Mulai Menumpuk

Guehi didatangkan dari Crystal Palace dengan harga £20 juta pada Januari dan saat itu dianggap sebagai pembelian murah yang menguntungkan. Kenyataannya, musim ini berjalan berat bagi bek tim nasional Inggris tersebut. Ia ikut bertanggung jawab atas kedua gol Ipswich akhir pekan lalu, dan dalam laga melawan Villa ia diambil bola oleh John McGinn jauh di dalam area sendiri hingga berujung gol pembuka tuan rumah.

Tekanan itu berlanjut. Di penghujung babak pertama, Guehi menjatuhkan Jackson di tepi kotak penalti dan menerima kartu kuning, sebelum akhirnya ditarik keluar saat jeda. Abdukodir Khusanov yang awalnya ditempatkan melebar kemudian digeser ke tengah untuk menggantikan Guehi, sementara Rico Lewis masuk mengisi posisi yang ditinggalkan, dan Maresca mengakui setelah laga bahwa ia masih harus “menemukan keseimbangan” di lini belakang.

Maresca menegaskan bahwa ia sama sekali tidak khawatir dengan performa Guehi. Ia menjelaskan bahwa sang bek telah bermain hampir setiap menit sejak awal musim, baik bersama City maupun tim nasional, dan pergantian di Villa Park juga dipengaruhi kartu kuning yang membuat sang pemain bermain hati-hati. Meski begitu, publik tuan rumah terus menyoraki rombongan pemain City dengan tuduhan sebagai “cheats”, dan tekanan setelah vonis bersalah atas dakwaan finansial bisa jadi mulai membebani pikiran para pemain di lapangan.

Dampak pada Persaingan Gelar: Arsenal Semakin Rapat

Kekalahan ini terasa lebih berat karena Arsenal bergerak sejajar di puncak klasemen pada hari yang sama usai menang 2-0 atas Everton di kandang. Dua gol The Gunners datang dari bek tengah, Ezri Konsa dan Gabriel, menandakan bahwa kekuatan mereka justru bertumpu pada soliditas lini belakang. Mikel Arteta bahkan masih punya kemewahan menunggu kembalinya William Saliba ke dalam skuad.

Perbandingan angkanya cukup mencolok. Arsenal baru kebobolan lima gol dalam delapan pertandingan, dengan rata-rata 0,625 gol kemasukan per laga, sementara City saat ini berada di angka 1,13 per pertandingan. Menariknya, hanya Manchester United yang pernah menjuarai Premier League dengan catatan kebobolan lebih buruk dari angka City sekarang, yakni 1,16 pada 1996-97 dan 1,18 pada 1999-00. Data itu menegaskan bahwa memenangi gelar dengan lini belakang bocor adalah pengecualian, bukan pola yang bisa diandalkan.

Pepatah legendaris Sir Alex Ferguson bahwa “serangan memenangkan pertandingan, pertahanan memenangkan gelar” terasa sangat relevan di sini. Meski musim masih panjang dan City dijamin tetap berada di dua besar hingga akhir pekan, memperbaiki benteng pertahanan bukan lagi pilihan melainkan keharusan jika mereka ingin bertahan di puncak.

Ujian Berikutnya: Brighton Dua Kali dalam Sepekan

Jadwal tidak memberi City waktu untuk bernapas. Pekan depan mereka harus menghadapi Brighton asuhan Fabian Hurzeler dua kali: di Carabao Cup pada Rabu, lalu kembali bertemu di Premier League pada Sabtu. Brighton dikenal produktif mencetak gol, sehingga dua pertemuan ini bisa menjadi ujian paling berat bagi koordinasi lini belakang yang sedang goyah.

Persoalan yang dihadapi Maresca juga menyangkut komposisi skuad. Sumber di dalam klub menyebut bahwa City sempat menargetkan mendatangkan bek kanan pada musim panas sebelum mengalihkan fokus ke posisi lain, dengan alasan Khusanov bisa menjadi pelapis bila Matheus Nunes tidak tersedia. Kenyataannya, Khusanov tampil kesulitan saat ditempatkan melebar, dan solusi sementara yang dirakit di Villa Park belum terlihat meyakinkan.

Dalam konteks yang lebih luas, kasus City ini mengingatkan bahwa membangun pertahanan solid bukan soal mengumpulkan pemain mahal, melainkan soal kecocokan gaya bermain. Kiper yang hebat dalam penyelamatan belum tentu cocok dengan tim yang menuntut distribusi bola rapat, dan bek yang tampil apik di klub dengan gaya berbeda butuh waktu untuk beradaptasi. Musim lalu pun sudah memberi petunjuk ketika sebuah kesalahan umpan Guehi di Everton merusak momentum City dalam perburuan gelar.

Dari satu laga di Villa Park, gambaran besar soal Manchester City menjadi lebih jelas: masalah utama mereka bukan pada kemampuan mencetak gol, melainkan pada cara menjaga gawang sendiri. Dua gol Jackson lahir dari kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari, sementara Arsenal terus mengumpulkan cleansheet dan memperlebar jarak kualitas di lini belakang. Jika Donnarumma dan Guehi tidak segera menemukan bentuk terbaiknya, selisih kecil di klasemen bisa berubah menjadi jarak yang sulit dikejar.

Maresca punya waktu sepekan dan dua pertandingan melawan Brighton untuk membuktikan bahwa ia bisa menutup kebocoran sebelum persoalan ini berkembang menjadi krisis yang lebih serius. Menarik untuk ditunggu apakah ia memilih mengubah pendekatan distribusi dari belakang, merotasi personel, atau justru mempertahankan formasinya dengan catatan hasil yang lebih rapi.