Harry Kane Perpanjang Kontrak, Rekor Shearer Makin Aman

Harry Kane resmi memperpanjang kontraknya bersama Bayern Munich, sebuah keputusan yang praktis menutup peluangnya kembali meramaikan Premier League dalam waktu dekat. Kesepakatan baru itu juga membuat rekor 260 gol Alan Shearer sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Premier League semakin sulit dikejar.

Langkah Bayern bergerak cepat setelah Kane dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia berstatus peraih Ballon d’Or. Bagi klub raksasa Bundesliga tersebut, mempertahankan kapten timnas Inggris adalah keharusan, terutama ketika klub lain mulai mengincar masa depannya. Namun, dampak keputusan ini jauh melampaui Munich: ada masa depan timnas Inggris yang ikut dipertaruhkan, ada catatan sejarah Premier League yang terancam, dan ada ambisi pribadi Kane untuk menuntaskan hal yang belum pernah ia raih.

Detail Kontrak Baru Harry Kane di Bayern Munich

Kane meneken kontrak yang mengikatnya hingga 2029, atau tak lama sebelum ia menginjak usia 36 tahun. Penyerang berusia 33 tahun itu kini dipastikan menghabiskan sisa tahun-tahun puncaknya di Allianz Arena, markas klub yang telah memberinya panggung untuk tampil di level tertinggi. Bagi Bayern, kontrak ini adalah bentuk pengamanan atas aset paling berharga mereka saat ini.

Sejak didatangkan dari Tottenham Hotspur dengan mahar 86 juta poundsterling pada Agustus 2023, Kane benar-benar menjelma menjadi legenda klub. Ia telah mengoleksi 102 gol hanya dari 102 pertandingan Bundesliga, sebuah rasio yang nyaris mustahil ditandingi pemain mana pun di liga tersebut. Dalam periode yang sama, ia turut mengantar Bayern meraih dua gelar liga dan tiga penghargaan Golden Boot secara beruntun.

Rekor-rekor itulah yang membuat Bayern tak bisa membayangkan kehilangan sosoknya, terlebih ketika sejumlah klub mulai memantau pergerakannya. Karena itu, pengumuman perpanjangan kontrak ini bukan sekadar urusan internal klub. Gaungnya terasa sampai ke Inggris, tempat dua hal besar sedang menanti kejelasan: rekor Premier League dan masa depan lini depan timnas.

Dari Tottenham ke Allianz Arena: Jalan Kane Menjadi Legenda

Sebelum hijrah ke Jerman, Kane adalah wajah Tottenham Hotspur dan salah satu penyerang paling produktif dalam sejarah Premier League. Ia meninggalkan Spurs sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub dengan 280 gol dari 435 penampilan di semua kompetisi. Di kompetisi liga domestik, ia mengemas 213 gol hanya dalam 320 pertandingan bersama klub asal London utara itu.

Kepindahannya ke Bayern pada 2023 sempat dipandang sebagai taruhan besar: seorang penyerang yang identik dengan satu klub mencoba peruntungan di liga yang punya budaya dan ritme berbeda. Kenyataannya, adaptasi itu berjalan nyaris tanpa hambatan. Produktivitasnya tidak menurun, justru sebaliknya, dan statusnya sebagai ikon baru Bayern terbentuk dalam waktu singkat.

Karena itu, wacana kembalinya Kane ke Tottenham yang sempat menjadi “kebisingan latar” dalam beberapa tahun terakhir kini terasa semakin jauh dari kenyataan. Kontrak baru yang mengikatnya sampai 2029 membuat skenario kepulangan emosional itu kian sulit diwujudkan, kecuali terjadi sesuatu yang benar-benar tak terduga di kemudian hari.

Rekor Premier League: Posisi Alan Shearer Semakin Kokoh

Konsekuensi paling langsung dari kontrak ini menyangkut buku rekor Premier League. Shearer mengumpulkan 260 gol dari 441 pertandingan bersama Blackburn Rovers dan Newcastle United, sementara Kane berhenti di angka 213 gol dari 320 laga bersama Spurs. Dengan selisih 47 gol, Kane butuh ledakan luar biasa di penghujung karier untuk bisa menyamai atau melewati torehan legenda asal Inggris itu.

Artinya, selama Kane berkarier di Bundesliga, peluangnya menggeser Shearer praktis tertutup. Untuk mengejar selisih tersebut, ia harus kembali ke Premier League dan mencetak gol dalam jumlah besar pada usia yang sudah tidak lagi muda bagi seorang penyerang. Itu bukan hal yang mustahil secara teori, tetapi sangat tidak realistis bila melihat panjang kontrak barunya.

Faktor lain yang membuat peta rekor ini menarik adalah keberadaan Erling Haaland di Manchester City. Sang penyerang Norwegia punya laju gol yang bisa mengancam rekor Shearer dalam jangka panjang, tetapi situasinya masih diliputi ketidakpastian karena City menunggu hukuman setelah dinyatakan bersalah melanggar regulasi keuangan, tuduhan yang mereka bantah. Ketidakjelasan itu membuat masa depan catatan sejarah Premier League jadi lebih sulit diprediksi.

Euro 2028 dan Piala Dunia 2030 Masih Dalam Jangkauan

Yang paling menarik bagi Thomas Tuchel, pelatih yang membawanya ke Bayern dan kini menangani timnas Inggris, adalah sinyal yang dikirim Kane lewat kontrak ini. Dengan durasi hingga 2029, Euro 2028 yang akan digelar di Inggris dan Irlandia berada tepat di dalam jangkauan kariernya. Turnamen itu bisa menjadi panggung terakhir, atau setidaknya salah satu panggung terbesar, bagi upayanya mempersembahkan trofi yang belum pernah ia raih bersama Inggris.

Bahkan setelah kontrak berakhir, Kane hanya berjarak satu tahun dari Piala Dunia 2030 di Maroko, Portugal, dan Spanyol, yang akan dibuka dengan laga seremonial khusus di Uruguay, Argentina, dan Paraguay. Skenario itu memang terasa jauh, mengingat kerasnya tuntutan fisik seiring bertambahnya usia. Namun, siapa pun yang mengenal Kane dan menyaksikan bagaimana ia naik ke level baru di Bayern enggan mengucapkan kata “tidak mungkin” untuk pribadi sedisiplin itu.

Mantan penyerang Inggris Chris Sutton menilai target jangka panjang itu masih sangat masuk akal. “Euro 2028 jelas bukan masalah dan siapa tahu setelah itu? Kalau Harry dikelilingi pemain dengan kecepatan dan dinamika, plus pemain yang bergerak di sekitarnya, kemampuan membaca permainannya tidak akan berubah dan dia masih bisa berperan besar,” ujarnya kepada BBC Sport.

Mengapa Usia Bukan Masalah Besar untuk Kane

Kekhawatiran soal usia selalu muncul dalam diskusi tentang penyerang yang sudah melewati kepala tiga. Sutton menegaskan bahwa faktor kebugaran tetap harus diperhitungkan, tetapi ia yakin Kane masih mampu melanjutkan karier beberapa tahun lagi. Menurutnya, Kane adalah tipe pemain yang kekuatannya tidak bergantung pada satu atribut yang cepat terkikis usia.

“Orang mungkin bilang permainannya kurang sedikit kecepatan, tapi dia sangat kuat di area lain. Dia pemain kelas dunia yang lengkap. Penyelesaian akhirnya tidak akan terpengaruh usia sama sekali. Dia masih bisa menyambung permainan dan otak sepaknya kelas satu,” kata Sutton. Ia membandingkannya dengan para pemain cepat yang justru kehilangan pijakan ketika kecepatan mulai menurun, dan menilai Kane tidak termasuk golongan itu karena ia tampak bugar serta berada di puncak kemampuannya.

Perbandingan historis pun ia ajukan. Teddy Sheringham, pemain dengan kecerdasan bermain luar biasa, masih tampil dan mencetak gol untuk West Ham United di Premier League saat usianya sudah di atas 40 tahun. Cristiano Ronaldo juga baru pensiun dari timnas Portugal pada usia 41, meski Sutton menilai gaya bermainnya berbeda dari Kane yang lebih suka turun agak ke belakang untuk memanfaatkan kemampuan dan jangkauan umpannya.

Inggris Belum Punya Pengganti Selevel Kane

Argumen bahwa Kane masih akan menjadi pilar utama Inggris pada 2028 atau bahkan 2030 semakin kuat karena tidak ada penyerang lain yang mendekati kelasnya. Sutton menyebut tak ada pemain Inggris yang muncul dengan kualitas atau efektivitas sebanding, apalagi yang cukup untuk menyingkirkan Kane dari tim inti. Kondisi itu praktis membuat pelatih tidak punya kemewahan untuk berpangku pada regenerasi.

Bukti terbaru datang dari Euro 2024, ketika Inggris kalah di final melawan Spanyol dan penampilan Kane dianggap jauh dari standar biasanya. Tekanannya begitu besar sampai muncul seruan agar ia digantikan Ollie Watkins, yang saat itu masih di Aston Villa, dan Kane memang ditarik keluar di seluruh laga fase gugur, termasuk baru 61 menit saat kekalahan final di Berlin.

Meski demikian, ia tetap menutup turnamen sebagai top skor bersama dengan tiga gol dari tujuh pertandingan. Fakta itu menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun, kontribusinya di depan gawang tetap nyata. Karena itu, membayangkan Inggris bermain tanpa dirinya pada turnamen-turnamen besar berikutnya terasa sangat tidak masuk akal.

Apa Artinya bagi Bayern dan Tuchel

Bagi Bayern, kontrak baru ini adalah pernyataan bahwa mereka percaya investasi pada ketajaman Kane akan terus berbuah trofi. Klub yang telah merayakan statusnya sebagai peraih Ballon d’Or itu kini mengunci sosok sentral proyek mereka untuk beberapa musim ke depan, tanpa perlu lagi menghadapi spekulasi soal masa depannya setiap jendela transfer.

Bagi Tuchel, dampaknya lebih bersifat psikologis. Pelatih yang membawa Kane ke Munich kini menangani Inggris dan berharap kepastian di level klub bisa menjadi sumber motivasi serta inspirasi untuk mengakhiri penantian panjang negaranya akan gelar internasional. Stabilitas di klub berarti Kane bisa datang ke setiap pemusatan latihan timnas tanpa beban ketidakpastian karier.

Kane sendiri telah menunjukkan bahwa di balik citra rendah hati yang cenderung “anti-superstar”, ia menyimpan kekuatan mental dan naluri kompetitif yang tajam. Pola kariernya, dari seorang penyerang yang diragukan soal kecepatan hingga menjadi pemain paling lengkap di generasinya, menunjukkan bahwa batas usia bukan sesuatu yang ia terima begitu saja.

Kesimpulan

Perpanjangan kontrak Kane hingga 2029 adalah kabar baik bagi Bayern dan, dalam banyak hal, bagi timnas Inggris. Keputusan itu mengukuhkan posisinya sebagai pusat proyek klub, memperpanjang peluangnya tampil di Euro 2028, dan membuka kemungkinan kecil untuk tetap berada di jalur Piala Dunia 2030. Sebaliknya, Premier League harus menerima kenyataan bahwa rekor Shearer kemungkinan besar tetap tak tersentuh oleh mantan penyerang Tottenham itu.

Yang tersisa sekarang adalah pertanyaan tentang warisan. Kane sudah mengumpulkan gol, gelar, dan pengakuan individu di level klub, tetapi satu trofi besar bersama Inggris masih kosong dalam daftarnya. Kontrak ini memberi waktu, dan mungkin juga kesempatan terakhir, untuk mengisinya.