Anthony Gordon tampil sebagai salah satu pemain paling menonjol bagi Timnas Inggris dalam dua laga pembuka Nations League, dan banyak pihak menilai kepindahannya ke Barcelona menjadi pemicu utamanya. Ia dinobatkan sebagai pemain terbaik Inggris saat menang 2-0 atas Ceko di Praha pada Selasa, setelah sebelumnya juga tampil impresif dalam kekalahan 3-2 dari Spanyol di Wembley pada Sabtu. Bagi Gordon yang kini berusia 25 tahun, performa itu adalah buah dari proses panjang yang dimulai sejak ia menandatangani kontrak bersama Barcelona pada akhir Mei lalu.
Kepindahan dari Newcastle dengan nilai transfer £69,3 juta membuat winger tersebut kini bermain di klub yang identik dengan penguasaan bola, jauh berbeda dari gaya tempo tinggi yang ia jalani sebelumnya. Perubahan itu membuat publik Inggris mulai melihat sisi lain dari permainannya, terutama setelah ia melewati Piala Dunia yang penuh pasang surut. Karena itulah faktor Barcelona sulit diabaikan ketika membahas mengapa Gordon terlihat naik ke level baru.
Performa Anthony Gordon Bersama Barcelona dan Timnas Inggris
Sejak bergabung dengan Barcelona, Gordon tercatat mengoleksi lima assist dalam tujuh penampilan, meski belum mencetak gol. Catatan itu menjadi salah satu alasan mengapa kepercayaan dirinya di level internasional terlihat berbeda. Ia kini bahkan bisa menyebut dirinya sebagai bagian dari trisula lini depan bersama Lamine Yamal dan Raphinha, sebuah status yang sebelumnya sulit ia bayangkan.
Bukti peningkatan itu paling kentara dalam dua laga awal Nations League. Melawan Spanyol di Wembley, Inggris kesulitan besar pada 35 menit pertama, dan Gordon termasuk sedikit pemain yang berani melawan tekanan. Ia menyamakan kedudukan menjadi 1-1 lewat umpan Jude Bellingham, meski Inggris akhirnya kalah 3-2.
Sementara itu, saat Inggris menang 2-0 atas Ceko di Praha, Gordon dinilai sebagai pemain terbaik di lapangan. Ia terus menusuk dan menciptakan peluang, lalu membawa Inggris unggul lewat sundulan di awal babak kedua. Statistik mencatat empat peluang tercipta, terbanyak di laga itu, sekaligus jumlah sentuhan terbanyak di kotak penalti lawan.
Yang paling menonjol dari dua pertandingan tersebut bukan hanya angka, melainkan cara Gordon memaksakan diri ketika timnya sedang terpuruk. Ia menunjukkan kepribadian dan keinginan untuk menjadi pemimpin di lapangan, sesuatu yang jarang dibicarakan ketika orang menilai permainannya.
Latar Belakang: Titik Balik Gordon di Piala Dunia
Untuk memahami lompatan ini, penting menengok kembali perjalanan Gordon di Piala Dunia. Ia nyaris tidak menyentuh bola pada laga pembuka fase grup melawan Kroasia, tampil buruk ketika menghadapi Ghana, lalu dicadangkan saat Inggris bertemu Panama. Awal yang jauh dari ideal bagi seorang pemain yang berharap menjadi andalan di lini sayap.
Titik baliknya terjadi di babak 32 besar melawan Republik Demokratik Kongo. Masuk sebagai pengganti saat Inggris tertinggal 1-0, Gordon langsung mengubah jalannya pertandingan dan menjadi perancang dua gol Harry Kane dalam kemenangan 2-1. Ia mengaku saat itu hanya ingin mengekspresikan diri tanpa bermain aman. “Saya hanya berpikir: ‘Saya tidak akan melakukan itu. Saya akan melakukan hal-hal yang membawa saya ke sini,'” ujarnya.
Penampilan itu berlanjut dengan performa apik ketika Inggris menghadapi Meksiko di Stadion Azteca pada babak 16 besar. Puncaknya terjadi di semifinal melawan Argentina, saat Gordon memberi Inggris keunggulan 1-0. Sayangnya, momen indah itu berubah menjadi mimpi buruk setelah ia ditarik keluar karena Thomas Tuchel mengubah formasi ke lima bek, dan Inggris akhirnya kalah 2-1.
Meski berakhir pahit, Gordon menyebut musim panas itu sebagai pengalaman terbaik dalam hidupnya. Ketika ia kembali memperkuat Inggris di awal kampanye Nations League, perubahannya terasa begitu nyata hingga sulit diabaikan.
Gaya Main Baru: IQ Sepak Bola yang Kini Lebih Terlihat
Selama ini Gordon dikenal karena kecepatan, kerja keras tanpa henti, dan kemampuan pressing. Label itu melekat kuat sejak ia bermain di bawah asuhan Eddie Howe di Newcastle, yang menerapkan gaya tempo tinggi dengan alur serang-serangan cepat. Dalam sebuah sesi bersama media di St George’s Park pekan lalu, Gordon menyinggung bagaimana gaya permainan tersebut membuat publik hanya melihat satu sisi dari dirinya.
Di Barcelona, yang jauh lebih menguasai bola, ia dituntut menunjukkan kesadaran permainan yang lebih tinggi, kecanggihan, dan kepekaan terhadap ruang. Ia harus menemukan posisi yang tepat dan membangun koneksi dengan rekan-rekannya. Menurut Gordon, kemampuan itu sebenarnya sudah lama ada dalam dirinya, dan yang berubah hanyalah seberapa terlihat kemampuannya tersebut.
“Saya bangga memiliki IQ sepak bola yang tinggi dan membuat keputusan yang tepat,” kata Gordon. “Jadi menurut saya pindah ke tim seperti Barcelona sangat cocok untuk saya, dan itu mungkin menyoroti kekuatan yang tidak diketahui orang, atau mungkin diabaikan karena saya cepat dan saya melakukan pressing. Itu semacam satu-satunya hal yang selalu dibicarakan orang. Masih banyak lagi yang bisa saya tunjukkan dari permainan saya.”
Kutipan tersebut menjelaskan mengapa kepindahannya tidak sekadar soal berpindah klub. Ia sedang membangun ulang cara orang menilai dirinya, dari pemain pekerja keras menjadi pemain yang mampu mengatur tempo dan mengambil keputusan di ruang sempit.
Pujian Tuchel dan Kane atas Perkembangan Gordon
Tuchel termasuk pihak yang paling vokal soal ekspektasi terhadap Gordon. Menurutnya, Gordon sebenarnya bisa tampil lebih baik lagi di Piala Dunia, dan ia mengaku tidak sepenuhnya yakin dengan penampilan sang pemain pada perempat final melawan Norwegia. Namun Tuchel menekankan bahwa semua laga saat itu memang sulit dijalani.
Sekarang, kata Tuchel, Gordon datang dengan kepercayaan diri penuh dan ingin membuktikan bahwa posisi di sisi kiri adalah miliknya. “Itulah yang ia lakukan, itulah yang kami inginkan, dan ia mendapat pujian untuk itu,” ujar Tuchel. Ia juga mengingatkan bahwa seiring performa yang menanjak, ekspektasi terhadap Gordon otomatis ikut naik.
Harry Kane memberi penilaian senada. Menurut kapten Inggris itu, kepindahan ke Barcelona telah membantu Gordon, karena bermain di klub besar memberi kepercayaan diri lebih besar dan membuat seorang pemain merasa layak berada di panggung tertinggi. Kane menilai Gordon luar biasa melawan Spanyol dan menjadi pembeda saat menghadapi Ceko.
Konteks Lebih Luas: Tren Pemain Inggris di Luar Premier League
Menarik dicatat bahwa tiga pemain terbaik Inggris saat ini justru berkarier di luar Premier League, yakni Kane di Bayern Munich, Bellingham di Real Madrid, dan Gordon di Barcelona. Pola ini memunculkan pertanyaan apakah bermain di luar Inggris memberi keuntungan tersendiri bagi perkembangan pemain. Bagi pemain Inggris, pindah ke klub raksasa Eropa berarti keluar dari zona nyaman.
Bahasa baru, budaya baru, gaya sepak bola yang berbeda, dan tekanan yang tidak sama harus dihadapi sekaligus. Beban itu bisa jadi terlalu berat bagi sebagian pemain. Namun di sisi lain, pengalaman tersebut bisa mendorong mereka ke level yang lebih tinggi, seperti yang terlihat pada Kane dan Bellingham, dan kini tanda-tanda awal itu mulai tampak pada Gordon.
Gordon kini menghadapi situasi yang jarang dialami pemain Inggris, yaitu dipercaya sebagai bagian dari lini depan klub besar yang identik dengan permainan berbasis penguasaan bola. Ia juga bisa menyebut dirinya sejajar dengan Lamine Yamal dan Raphinha di sektor serang. Seberapa konsisten ia menjaga performa di sisa musim akan menentukan seberapa jauh lompatan ini berlanjut.
Apa Artinya bagi Inggris dan Barcelona
Bagi Inggris, kehadiran Gordon dalam kondisi terbaik menambah opsi di lini sayap kiri yang sebelumnya sempat menjadi titik lemah. Kemampuannya beradaptasi dengan gaya permainan yang lebih terstruktur membuat ia lebih fleksibel saat menghadapi lawan dengan karakter berbeda. Kombinasi dengan Bellingham, yang memberinya assist saat melawan Spanyol, menjadi sinyal kerja sama yang bisa terus diasah.
Bagi Barcelona, transfer senilai £69,3 juta itu mulai menunjukkan nilainya bukan hanya dari sisi statistik. Lima assist dalam tujuh penampilan menggambarkan kontribusi yang konsisten, meski belum disertai gol. Jika Gordon mampu menambah ketajaman di depan gawang, investasi tersebut akan terasa semakin sepadan.
Perjalanan Anthony Gordon menunjukkan bahwa kepindahan ke Barcelona bukan sekadar transfer besar, melainkan langkah yang mengubah cara ia bermain dan cara orang menilainya. Dari pemain yang dianggap hanya mengandalkan kecepatan dan pressing, ia kini tampil sebagai sosok yang mampu memimpin saat timnya tertekan. Dua laga terakhir bersama Inggris menjadi bukti paling jelas bahwa ia telah naik ke level baru.
Dengan lima assist dari tujuh penampilan dan kepercayaan penuh dari Tuchel, tantangan berikutnya bagi Gordon adalah menjaga konsistensi serta menambah kontribusi gol. Jika itu terwujud, predikat sebagai salah satu pemain terbaik Inggris bukan lagi sekadar wacana. Ia sendiri sudah mengatakan bahwa permainannya masih menyimpan banyak hal yang belum terlihat.
