Celtic Tersingkir dari Liga Champions, O’Neill Pasang Badan

Celtic tersingkir dari Liga Champions dengan cara yang paling menyakitkan. Tim asuhan Martin O’Neill kehilangan keunggulan empat gol secara agregat dan akhirnya takluk 5-4 dari LASK pada babak play-off setelah laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Kekalahan ini langsung menjadi sorotan karena tim asal Skotlandia itu tampil tanpa perlawanan di babak kedua.

Kegagalan ini menjadi salah satu malam terkelam dalam sejarah Celtic di kompetisi Eropa, bahkan lebih perih karena terjadi setahun setelah mereka tersingkir di babak yang sama oleh Kairat Almaty melalui adu penalti. Saat itu, kekalahan di Kazakhstan menjadi awal berakhirnya periode kedua Brendan Rodgers di Celtic Park. Kini giliran O’Neill yang harus memikul beban setelah timnya runtuh di Austria.

Malam Kelam Celtic di Raiffeisen Arena

Raiffeisen Arena menjadi saksi bisu keruntuhan Celtic malam itu. Di tengah atmosfer panas yang ditimbulkan pendukung tuan rumah, anak asuh O’Neill sama sekali tidak punya tempat untuk bersembunyi. Unggul empat gol secara agregat, mereka justru membiarkan LASK bangkit dan membalikkan kedudukan menjadi 5-4.

Celtic tidak menunjukkan tanda-tanda reaksi yang berarti di babak kedua. LASK terus menekan dan akhirnya memastikan kemenangan agregat 5-4 setelah melewati perpanjangan waktu. Para pemain Celtic tampak kehilangan arah sepanjang laga, dan kekalahan ini pun tercatat sebagai salah satu kegagalan terbesar mereka di panggung Eropa.

O’Neill Akui Bertanggung Jawab Penuh

Manajer Celtic, Martin O’Neill, tidak mencari-cari alasan seusai pertandingan. Ia secara terbuka menerima semua kritik yang dialamatkan kepadanya. “Saya bertanggung jawab untuk kekalahan ini, tanpa keraguan,” ujarnya.

O’Neill mengaku butuh waktu lama untuk melupakan kekalahan di final Piala UEFA 2003, tetapi ia menilai kegagalan kali ini sama-sama menyesakkan. “Dalam konteksnya, satu adalah final yang akan luar biasa jika dimenangkan, sedangkan ini adalah laga kualifikasi yang seharusnya bisa kami lewati,” jelasnya. Ia pun tidak menampik bahwa kualitas timnya masih jauh dari sempurna.

“Kami tahu kami masih sangat jauh dari kata sempurna. Itu benar adanya, dan kami memang sudah berpikir demikian,” tambah O’Neill. Ia menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk melempar tanggung jawab kepada orang lain. “Malam ini kami benar-benar kurang, terutama di babak kedua.”

Kronologi Tersingkirnya Celtic dari Liga Champions

Setahun lalu, Celtic juga tersingkir di babak play-off Liga Champions oleh Kairat Almaty. Kekalahan lewat adu penalti di Kazakhstan itu menjadi pemicu berakhirnya periode kedua Brendan Rodgers di Celtic Park. Saat itu O’Neill belum menangani tim, tetapi kini ia harus memikul beban yang serupa.

O’Neill kemudian berhasil menstabilkan keadaan setelah kepergian Rodgers, termasuk melewati saga Wilfried Nancy yang sempat mengguncang klub. Ia membawa Celtic meraih gelar juara liga dan Piala Skotlandia pada musim lalu. Musim ini sempat berjalan mulus sebelum semuanya berubah menjadi mimpi buruk di Austria.

Tersingkirnya Celtic dari Liga Champions ini tentu menjadi pukulan telak, apalagi musim lalu mereka juga gagal menembus babak grup. Tim sekelas Celtic tentu punya ekspektasi tinggi untuk melewati babak kualifikasi. Namun kenyataannya, mereka kembali jatuh di rintangan yang sama.

Dampak Finansial dan Ancaman di Bursa Transfer

Kegagalan lolos ke Liga Champions bukan hanya persoalan gengsi, tetapi juga pukulan telak secara finansial. O’Neill menegaskan bahwa kualifikasi ke kompetisi elite Eropa itu sangat penting dalam segala aspek. “Secara finansial, untuk prestise, tetapi kami harus bangkit. Itu lagi-lagi tanggung jawab saya,” ucapnya.

Sebelumnya O’Neill sempat meyakini bahwa tiket Liga Champions akan menjadi daya tarik bagi pemain incaran. Namun kini keadaan berubah total. “Saya pernah bilang pekan lalu, jika lolos ke Liga Champions, akan ada pemain yang ingin datang. Itu tidak akan terjadi sekarang,” katanya.

Dengan tersingkirnya Celtic dari Liga Champions, klub harus menutup jendela transfer tanpa pemasukan besar yang seharusnya didapat dari kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa. Situasi ini menyulitkan O’Neill untuk mendatangkan pemain anyar berkualitas. Padahal daya tarik tampil di Liga Champions biasanya menjadi nilai jual utama bagi klub sekelas Celtic.

Pengakuan Kapten dan Kritik Para Legenda

Kapten Celtic, Callum McGregor, tampil blak-blakan saat berbicara kepada Amazon Prime. “Kami mendapatkan apa yang pantas kami dapatkan. Kami pasif sepanjang malam dan tampak takut untuk memenangkan pertandingan,” ujarnya. McGregor bahkan menilai performa timnya di leg pertama pun tidak cukup meyakinkan.

“Kami mencetak gol di waktu yang tepat dan lolos dari masalah. Kami harus menerima kenyataan pahit ini,” lanjut McGregor. Ia meminta maaf kepada suporter dan klub karena timnya seharusnya tidak kalah dalam laga seperti ini. Menurutnya, tidak ada tempat untuk mencari kambing hitam di luar skuad.

McGregor juga menegaskan bahwa kegagalan ini menjadi ujian karakter bagi seluruh pemain. “Setelah ini kalian akan melihat sebenarnya terbuat dari apa orang-orang ini. Ketika Anda unggul 1-0 dan tetap tidak tenang, itu tidak bisa dimaafkan,” katanya. “Anda gagal di rintangan besar, dan pertanyaan tentang kesiapan skuad pasti akan muncul. Inilah artinya bermain untuk Celtic: Anda harus bangkit dan menunjukkan reaksi.”

Mantan kapten Celtic, Scott Brown, ikut bersuara melalui BBC Radio Scotland. Menurutnya, awal yang fantastis dengan keunggulan 1-0 terasa sia-sia setelah Celtic kebobolan lima gol. “LASK mengungguli Celtic di beberapa area. Dua penyerang mereka kuat, solid, dan rajin berlari. LASK pantas lolos dengan penampilan seperti itu,” ujar Brown. Ia pun mengaku ikut merasakan kekecewaan karena pernah berada di posisi yang sama.

Mantan manajer Celtic, Neil Lennon, menilai anak asuh O’Neill tampak kelelahan dan rapuh dalam duel. “Hanya terlihat satu pemenang dari pertandingan ini. Pujian besar untuk LASK,” katanya kepada Amazon Prime. “Mereka menghajar Celtic malam ini, secara fisik maupun dari sisi permainan. Bisa saja skornya lebih besar.”

Sementara itu, mantan gelandang Celtic, Stiliyan Petrov, menyebut semua pihak patut disalahkan. “Mereka semua ada di dalamnya bersama-sama. Klub