Setahun sudah berlalu sejak Brendan Rodgers melepas jabatan manajer Celtic, dan sosok yang dimaksudkan hanya mengisi kursi panas sementara, Martin O’Neill, masih saja berdiri di sana. Pria berusia 74 tahun itu awalnya masuk sebagai penambal cepat setelah Rodgers mundur, tetapi kenyataannya ia kini menjadi wajah utama proyek yang seharusnya sudah bergerak maju. Posisi Martin O’Neill di Celtic pun berubah dari solusi darurat menjadi pertanyaan besar: sampai kapan klub ini akan dikemudikan oleh pelatih yang sudah lewat masa pensiunnya?
Pertanyaan itu penting karena Celtic bukan klub yang bisa berpuas diri dengan stabilitas jangka pendek. Mereka adalah juara bertahan yang setiap musim dituntut mendominasi domestik sekaligus bersaing di Eropa, dan kedua target itu kini bergerak ke arah berlawanan. Di tengah situasi itu, hubungan antara direksi dan sebagian pendukung kembali memanas, sementara Rodgers sendiri meninggalkan pesan pahit soal kualitas skuad yang ia sebut “lebih mirip Honda Civic ketimbang Ferrari”.
Dua Periode, Satu Nama yang Tak Pernah Benar-benar Pergi
Perjalanan dua belas bulan terakhir tidak berjalan mulus seperti yang dibayangkan banyak orang. O’Neill sebenarnya sempat dua kali memegang kendali, dengan selingan 33 hari yang disebut berjalan suram di bawah Wilfried Nancy sebelum ia kembali ke kursi pelatih. Artinya, proyek “transisi” yang direncanakan klub justru berubah menjadi bolak-balik arah yang membingungkan pemain maupun suporter.
O’Neill sendiri mengakui bahwa tahun ini terasa amat panjang baginya, namun ia menegaskan tidak berniat melepas pekerjaan itu. “Jelas dengan banyak kepuasan dan diam-diam mungkin senang mendapat panggilan itu, serta bahagia dengan hasil-hasilnya sejak saat itu. Jadi rasanya seperti tahun yang panjang. Sangat panjang,” ujarnya kepada media sebelum laga melawan Dundee United. Ia menambahkan bahwa klub telah berbuat lebih banyak untuknya ketimbang yang ia berikan balik, dan pengalaman itu membuatnya merasa “muda kembali” dalam banyak hal.
Sebelum kembali ke Celtic Park, O’Neill menjalani hidup sebagai komentator yang, dalam pengakuannya sendiri, “setengah menikmati hidup sambil menonton pertandingan dari jauh” dan “banyak bicara omong kosong”. Karena itu, kesempatan kembali ke “permainan yang sangat ia cintai dan akan ia cintai selamanya” ia sambut dengan antusias, meski sempat mempertimbangkan posisinya pada jeda internasional terakhir.
Dari Defisit Delapan Poin ke Gelar ke-56
Kronologi peralihan ini dimulai dari hasil buruk yang memaksa Rodgers angkat kaki. Kekalahan 3-1 di markas Hearts membuat Celtic tertinggal delapan poin dari tim Edinburgh tersebut setelah sembilan pertandingan, dengan catatan dua kekalahan, 12 gol dicetak, dan delapan gol kebobolan. Hearts bahkan bertahan di puncak hingga hari terakhir musim, sebelum O’Neill membalik keadaan lewat kemenangan dramatis atas rival utama di Celtic Park yang memastikan gelar liga ke-56 dan gelar kelima beruntun bagi klub.
Musim berikutnya, catatan domestik mereka justru tampak rapi di atas kertas. Celtic hanya kalah satu kali dari 10 laga liga, mencetak 25 gol dan kebobolan enam, serta memimpin persaingan atas Rangers. Secara keseluruhan, 16 kemenangan dalam 17 pertandingan liga sejak akhir musim lalu terlihat seperti kemajuan yang nyata.
Namun pengamat Celtic, Tino Callaghan, menilai angka itu belum cukup menggambarkan kondisi sebenarnya. “Pada hari terakhir musim, 16 Mei, semuanya ternyata baik-baik saja. Saat ini keadaan di Celtic enam dari sepuluh. Kami unggul empat poin di puncak liga dan laga tengah pekan bisa memperlebar keunggulan, tetapi hal-hal jauh dari benar dalam hal evolusi dan kemajuan klub,” katanya kepada podcast Scottish Football BBC.
Perkasa di Domestik, Rapuh Saat Melangkah ke Eropa
Persentase kemenangan O’Neill di periode terbarunya mendekati 75 persen, angka yang mirip dengan catatan klub saat ia menikmati lima tahun penuh trofi hingga 2005. Di dalam negeri, ia dianggap masih lebih dari mampu mengarahkan tim, terlebih dengan kemenangan 7-1 atas Hearts sebagai contoh paling mencolok. Namun di luar kandang, performa Celtic justru menjadi sumber kekhawatiran paling besar.
Musim ini Celtic mencatat 11 kemenangan dan enam kekalahan di semua kompetisi, tetapi angka itu menyembunyikan kenyataan pahit di Eropa. Mereka tersingkir dari Liga Champions dan terpuruk di dasar Liga Europa setelah tiga pertandingan, dengan kekalahan berat dari LASK, Ferencvaros, dan Benfica. Dua kekalahan dalam sepekan melawan rival sekota, Rangers, menambah daftar masalah yang membuat sebagian pendukung kehilangan kesabaran.
Callaghan menyebut persoalannya bukan sekadar taktik, melainkan kualitas kedalaman skuad. “O’Neill di domestik lebih dari mampu. Tapi skuad Celtic sangat tidak memadai ketika bicara sepak bola Eropa, dan cukup lihat bangku cadangan pada malam-malam Eropa sebagai buktinya,” ujarnya. Penilaian itu sejalan dengan komentar mantan striker Celtic, Chris Sutton, yang menyebut tim ini hanya mampu menjadi penguasa di sepak bola Skotlandia. Callaghan menambahkan, “Kami tertinggal jauh, padahal belum lama ini kami bersaing dengan Bayern Munich dan mengalahkan Leipzig.”
Direksi dan Isu Rekrutmen: O’Neill sebagai Tameng
Musim lalu ditandai pula oleh perpecahan antara direksi dan sebagian pendukung yang kecewa dengan minimnya investasi pada skuad serta cara klub dijalankan. Kedua kubu sempat bersatu ketika gelar juara dipastikan pada hari terakhir, tetapi retakan itu kini muncul kembali seiring hasil buruk di Eropa. Isu utamanya tetap sama: belanja pemain dan kecepatan klub bergerak di bursa transfer.
Callaghan menilai jendela transfer kali ini sebenarnya dimulai dengan menjanjikan lewat kedatangan Camilo Duran dan Mika Baur yang ia sebut sebagai perekrutan terbaik dalam beberapa waktu terakhir. Masalahnya, sektor gelandang bertahan tidak pernah diperkuat, sehingga Callum McGregor harus menanggung beban berlebih. “Miliaran pound di bank tidak ada gunanya kalau tidak dibelanjakan, dan yang dibutuhkan adalah belanja yang lebih efektif serta lebih cepat di dalam jendela transfer,” tegasnya.
Wartawan sepak bola Daily Record, Michael Gannon, menilai O’Neill dalam posisi tidak nyaman karena ia satu-satunya figur di Celtic yang rutin menghadapi pertanyaan publik. “Saya agak kasihan padanya karena dia satu-satunya orang di Celtic yang tampil dan menjawab pertanyaan secara rutin,” katanya. Menurutnya, banyak pertanyaan seharusnya ditujukan ke pihak lain, seperti keberadaan chairman tetap, kepala rekrutmen, direktur sepak bola, hingga persoalan larangan Green Brigade dan masalah suporter, bukan kepada pelatih berusia 74 tahun itu.
Warisan, Masa Depan, dan Sinyal Musim Panas
Bagi banyak pendukung, O’Neill tetap terasa sebagai penambal yang menjaga posisi untuk semua pihak. Meski begitu, ia tetap meninggalkan warisan nyata berupa gelar liga dan Piala Skotlandia, capaian yang tidak bisa disebut buruk untuk sebuah masa transisi. Callaghan sendiri tidak melihat O’Neill bertahan melewati musim ini, dan menduga keputusan kembali pada musim panas lalu turut dipengaruhi harapan mendapat kesempatan terakhir di Liga Champions.
Kegagalan memenuhi target itu meninggalkan bekas, terutama setelah hasil buruk melawan LASK yang disebutnya masih menyisakan “efek samping” pada para pemain. Karena itu, fokus O’Neill kini diperkirakan bergeser ke penyelesaian musim sebaik mungkin di tingkat domestik. “Dia akan sadar akan warisannya, mau dia mengakuinya atau tidak, dan apa pun yang terjadi, dia ingin pergi musim panas nanti dengan satu gelar liga lagi,” tambah Callaghan.
Suara Pendukung: Antara Syukur dan Kekecewaan
Pandangan para pendukung memperlihatkan betapa terbelahnya perasaan terhadap situasi ini. Sebagian menilai hasil domestik tetap layak dihargai, sementara yang lain melihat masalah struktural yang jauh lebih besar daripada sekadar catatan menang-kalah.
- Michael: Kepergian Rodgers tampak terbukti benar. Sejak itu direksi menunjukkan tidak adanya arah, dan klub dinilainya “tanpa kemudi serta usang”. Rodgers, katanya, adalah permen karet yang menahan menara sedotan tetap berdiri.
- Johnno: Seiring waktu berjalan, Celtic tidak bergerak maju. Jika direksi mempertahankan O’Neill tahun lalu alih-alih menunjuk Nancy pada waktu terburuk, drama hari terakhir tidak akan terjadi. Musim ini disebutnya campuran performa mengecewakan, taktik buruk, dan kekacauan pertahanan.
- Brian: Tahun terakhir membuktikan direksi tidak layak menjalankan klub sepak bola modern. Klub berjalan mundur dan masa depannya tampak semakin suram.
- Frank: Dua dari tiga trofi utama bukan hasil buruk, dan Eropa bisa menjadi gangguan yang menjengkelkan dalam perburuan gelar. Hanya kalah satu kali di liga dinilainya sangat patut dipuji.
- Paul: Kepergian Rodgers adalah gejala kemunduran. Performa melawan Bayern pada Februari 2025 disebutnya sebagai anomali yang menutupi banyak cacat yang bahkan sudah disadari Rodgers saat itu.
- Nick: Celtic beruntung menjadi juara musim lalu karena Hearts dan Rangers ambruk di akhir. Menurutnya O’Neill tidak seharusnya bertahan, karena tak ada gaya permainan, arah, maupun optimisme di tengah basis pendukung yang kecewa.
Kesimpulan
Setahun setelah Rodgers pergi, Celtic memang kembali meraih trofi domestik, tetapi arah jangka panjang klub masih belum jelas. O’Neill berhasil menambal kebocoran di liga dan menjaga tradisi juara, namun jarak dengan kompetisi Eropa semakin melebar dan persoalan rekrutmen belum terselesaikan. Selama direksi belum menjawab pertanyaan soal investasi dan siapa yang sebenarnya mengemudikan klub, sosok berusia 74 tahun itu akan terus menjadi tameng sekaligus alasan stabilitas.
Yang paling mungkin terjadi berikutnya adalah perpisahan pada musim panas, dengan harapan O’Neill menutup kariernya di Celtic Park lewat satu gelar lagi. Jika itu benar-benar terjadi, warisannya akan dikenang sebagai penyelamat yang menahan klub tetap berdiri, bukan sebagai arsitek yang membawanya maju.
