Tottenham Kalah dari Newcastle 0-2, De Zerbi Tak Panik

Tottenham kalah dari Newcastle 0-2 pada lanjutan Premier League di kandang sendiri, dan hasil ini membuat mereka terdampar di dasar klasemen. Pelatih Roberto de Zerbi menegaskan dirinya tidak marah dan tidak panik, meski ini menjadi kekalahan kedua Spurs dalam dua laga awal musim. Ribuan pendukung tuan rumah bahkan memilih meninggalkan stadion lebih awal setelah timnya tertinggal di babak kedua.

Kekalahan ini terasa makin perih karena Tottenham sudah menggelontorkan lebih dari £300 juta di bursa transfer musim panas. Harapannya, musim ini berbeda setelah dua musim sebelumnya Spurs nyaris terdegradasi dan hanya selamat di laga pamungkas. Namun kenyataannya, tim asuhan De Zerbi belum mencetak satu gol pun dari dua pertandingan dan kini menjadi juru kunci klasemen sementara Premier League.

Tottenham Kalah dari Newcastle: Dua Gol dalam Sepuluh Menit

Newcastle memastikan kemenangan lewat Anthony Elanga dan Yoane Wissa dalam rentang sepuluh menit pada babak kedua. Menariknya, tim tamu hanya melepaskan dua tembakan tepat sasaran dan keduanya berbuah gol. Sebaliknya, Tottenham melepaskan 17 percobaan dengan enam di antaranya mengarah ke gawang, tetapi tidak satu pun berhasil dikonversi menjadi gol.

De Zerbi menilai hasil ini tidak adil karena timnya tampil lebih baik sebelum kebobolan. Dia tetap melihat sisi positif dari permainan anak asuhnya meski harus menerima kenyataan pahit di papan skor. Menurutnya, Tottenham hanya butuh waktu untuk menjadi tim yang benar-benar padu di lapangan.

Catatan kandang Tottenham juga memprihatinkan. Dari 23 laga kandang terakhir di Premier League, Spurs hanya mampu memenangkan tiga pertandingan. Tidak heran sebagian suporter memilih pulang lebih cepat saat laga belum usai.

Belanja Besar yang Belum Berbuah Hasil

Tottenham belanja besar-besaran demi menjauh dari jerat degradasi. Dua musim beruntun mereka finis di peringkat 17 pada 2024-25 dan 2025-26, dan hanya selamat dari degradasi di laga terakhir. Belanja lebih dari £300 juta musim panas ini diharapkan menjadi awal dari perubahan besar.

Mateus Fernandes didatangkan dari West Ham seharga £85 juta, Sandro Tonali dari Newcastle £100 juta, Jan Paul van Hecke dari Brighton £52 juta, dan Savio dari Manchester City £75 juta. Savio sendiri absen saat melawan Newcastle karena kelelahan otot.

Selain itu, Marcos Senesi, Andy Robertson, dan Martin Dubravka datang dengan status bebas transfer. Omar Marmoush menjalani debutnya melawan Newcastle setelah dipinjam dari Manchester City, dan kesepakatan itu akan menjadi permanen dengan nilai £60 juta pada musim panas berikutnya.

  • Tottenham sudah kalah 3-0 dari Brentford pada laga sebelumnya sebelum takluk dari Newcastle.
  • Dua laga, dua kekalahan, dan belum ada gol yang tercipta untuk Spurs.
  • Target awal adalah kembali ke Eropa setelah dua musim lalu menjuarai Liga Europa dan berada di 16 besar Liga Champions pada Maret.

Dengan performa seperti ini, target itu terasa sangat jauh. De Zerbi yakin masalahnya hanya soal proses menjadi tim yang utuh. Dia percaya begitu para pemain menemukan koneksi di lapangan, catatan buruk dua musim terakhir bisa berubah.

De Zerbi: Tidak Ada Kepanikan, tapi Perbaikan Harus Cepat

De Zerbi menolak disebut panik. Dia justru menegaskan bahwa timnya bekerja dengan baik dan kurang beruntung dalam hal hasil. “Saya tahu ke arah mana kami akan pergi dan apa rencananya,” ujarnya.

Manajer asal Italia itu juga mengakui Spurs perlu meningkatkan fase pertahanan. Dia meminta maaf kepada suporter atas hasil buruk ini dan berjanji timnya akan berlatih keras untuk memperbaiki permainan. De Zerbi menambahkan bahwa skuad yang dimiliki saat ini tetap hebat dan berisi pemain berkualitas.

Posisi Spurs di dasar klasemen tentu bukan pemandangan ideal, terutama setelah investasi besar yang sudah dikeluarkan. Namun De Zerbi mengingatkan bahwa perubahan tidak bisa terjadi dalam sekejap, apalagi setelah dua musim penuh krisis. Baginya, proses membangun tim yang solid adalah kunci utama.

Kritik Tajam dari Joe Hart dan Rob Green

Mantan kiper Tottenham dan timnas Inggris, Joe Hart, tidak setenang De Zerbi. Menurut Hart, suporter di stadion pasti bertanya-tanya apa sebenarnya yang coba dibangun Spurs. Sebaliknya, Newcastle yang juga banyak berubah di musim panas sudah menunjukkan pola permainan yang jelas di bawah Matthias Jaissle.

“Kalau lihat Newcastle, dalam dua pertandingan sudah terlihat apa yang coba dilakukan pelatih mereka. Pemainnya mendukung dan mereka tampil meyakinkan. Masalahnya, Tottenham belum bisa dikatakan begitu,” kata Hart. Dia menilai para pemain baru Spurs masih kesulitan beradaptasi dengan tekanan besar di Premier League.

Rob Green, mantan kiper Inggris yang berbicara di BBC Radio 5 Live, juga menyoroti minimnya kreativitas Tottenham. Lukas Hornicek memang melakukan beberapa penyelamatan di babak pertama, tetapi Spurs kekurangan ide dan gol. “Pertanyaan yang sama seperti musim lalu masih ada musim ini,” ujar Green.

Satu Pemain Lagi dan Potensi Kepergian di Bursa Transfer

Jendela transfer musim panas akan ditutup pada Selasa. Sebelum laga, De Zerbi sudah mengungkapkan masih ingin mendatangkan satu pemain di posisi spesifik. Namun di saat yang sama, sejumlah nama seperti Kevin Danso, Pape Matar Sarr, dan Richarlison dikaitkan dengan kepindahan dari Tottenham.

De Zerbi tidak menutup pintu jika mereka ingin pergi. Dia menegaskan bahwa pemain yang ingin hengkang harus membawa solusi ekonomi bagi klub. “Saya punya hubungan yang sangat baik, tetapi kalau mereka ingin pergi, mereka harus membawa solusi, solusi ekonomi, ke klub, dan mereka boleh pergi,” katanya.

Pelatih asal Italia itu baru ditunjuk pada akhir Maret dan meraih 11 poin dalam tujuh pertandingan untuk menjaga Spurs tetap di Premier League. Dia menegaskan perbaikan tidak bisa instan. “Mengubah dua musim seperti dua musim terakhir tidak mungkin dalam sepuluh hari dan dengan orang-orang di bursa transfer,” imbuhnya.

Hasil melawan Newcastle kembali membuka luka lama Tottenham. Kemampuan menciptakan peluang tidak sebanding dengan ketajaman di depan gawang, dan pertanyaan soal arah permainan masih menggantung. De Zerbi memilih tenang dan fokus pada proses, tetapi Premier League tidak memberi banyak waktu.

Apakah Spurs mampu bangkit dari keterpurukan ini? Jawabannya akan ditentukan di lapangan, bukan di ruang ganti. Yang jelas, tanpa perbaikan cepat, tekanan terhadap De Zerbi dan para pemain anyarnya akan terus bertambah.