Thomas Tuchel Masih Mencari Solusi Sayap Inggris di Piala Dunia 2026

Masalah Sisi Sayap yang Belum Tuntas

Alan Shearer, legenda sepak bola Inggris, memberikan pandangannya tentang performa timnas Inggris di Piala Dunia 2026. Menurutnya, ada banyak sisi positif dari penampilan Inggris sejauh ini, tetapi satu hal yang masih mengganjal adalah ketidakstabilan komposisi pemain. Tim asuhan Thomas Tuchel memang berhasil lolos dari fase grup sebagai juara, namun rotasi besar-besaran di beberapa posisi membuat kita belum bisa menentukan susunan terbaik.

Dalam tiga pertandingan awal, Tuchel masih terus mencari solusi sayap Inggris yang ideal. Situasi ini wajar mengingat cedera dan suspensi selalu memaksa tim untuk beradaptasi. Namun, menjelang laga melawan DR Congo di Atlanta, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Soccer Football – FIFA World Cup 2026 – Bronze Final – France v England – Miami Stadium, Miami Gardens, Florida, U.S. – July 18, 2026 England manager Thomas Tuchel reacts after the match REUTERS/Paul Childs

Eksperimen di Sisi Sayap

Shearer menyoroti kebingungan Tuchel dalam menemukan kombinasi bek sayap dan winger yang pas. Dalam 270 menit pertandingan, sudah sembilan variasi berbeda dipercobakan, melibatkan delapan pemain berbeda. Ini menunjukkan bahwa pelatih asal Jerman itu belum menemukan solusi sayap Inggris yang konsisten.

Cedera yang dialami Reece James dan Jarell Quansah di posisi bek kanan memang menjadi faktor penghambat, begitu pula kondisi Bukayo Saka yang belum 100% fit. Akibatnya, Inggris tidak mampu memberikan ancaman berkelanjutan dari sisi sayap. Perubahan terus-menerus di lini belakang juga berdampak pada stabilitas pertahanan, membuat tim tampil gugup setiap kali diserang lawan.

Harapan dari Pemain Kunci

Meskipun masalah sayap masih menghantui, sejumlah pilar utama mulai menunjukkan performa terbaik. Elliot Anderson tampil gemilang melawan Panama, Jude Bellingham layak jadi pemain terbaik, dan Harry Kane kembali mencetak gol. Bersama Jordan Pickford dan Declan Rice, mereka membentuk tulang punggung tim yang bisa diandalkan saat dibutuhkan.

Shearer menegaskan bahwa ketergantungan pada momen magis pemain bintang bukanlah solusi jangka panjang. Namun, di turnamen seperti ini, memiliki pemain yang bisa mengubah jalannya pertandingan dari situasi sulit adalah aset berharga. Gol spektakuler Bellingham dari tendangan sudut Saka menjadi bukti nyata.

Stabilitas Pertahanan Jadi Prioritas

Meskipun serangan Inggris belum maksimal, kekhawatiran terbesar Shearer justru ada di pertahanan. Dalam tiga laga, gawang Inggris kerap kebobolan karena celah di lini belakang. Babak pertama melawan Kroasia menjadi contoh nyata di mana mereka kebobolan dua gol karena kesalahan defensif. Untungnya, mereka masih bisa lolos dari kekalahan lawan Ghana dan Panama.

Tanpa perbaikan signifikan, tim akan semakin kesulitan menghadapi lawan yang lebih kuat di fase gugur. Solusi sayap Inggris tidak hanya soal menyerang, tetapi juga bagaimana bek sayap bisa bekerja sama dengan gelandang dan bek tengah untuk menutup ruang lawan.

Rotasi Lini Belakang yang Berisiko

Shearer mempertanyakan kebijakan Tuchel yang terus merotasi pemain bertahan. Meskipun beberapa perubahan dipaksakan oleh cedera, pelatih tetap mengambil risiko dengan memanggil pemain yang rentan cedera. Untuk laga melawan DR Congo, kemungkinan akan ada susunan baru lagi, entah Djed Spence dimainkan sebagai bek kanan atau Ezri Konsa bergeser dari tengah.

Harapannya, kombinasi baru ini bisa membawa Inggris melaju setidaknya hingga dua babak berikutnya. Namun, jika ingin melangkah jauh di Piala Dunia 2026, Tuchel harus segera menemukan solusi sayap Inggris yang stabil dan bisa diandalkan.

Kesimpulan

Pencarian solusi sayap Inggris oleh Thomas Tuchel masih menjadi pekerjaan rumah besar. Eksperimen yang terus dilakukan menunjukkan bahwa belum ada formula pasti. Namun, dengan adanya pilar-pilar andalan di lini tengah dan depan, Inggris tetap memiliki modal berharga. Kunci keberhasilan selanjutnya adalah menghentikan rotasi berlebihan dan membangun stabilitas di lini belakang agar bisa bersaing dengan tim-tim papan atas.