Raheem Sterling Mengaku Bersalah Mengemudi Berbahaya

Mantan penyerang tim nasional Inggris, Raheem Sterling, mengaku bersalah atas tuduhan mengemudi berbahaya di jalan tol sebelum mengalami kecelakaan dengan mobil Lamborghini pada Mei lalu. Pengakuan itu disampaikan pesepak bola berusia 31 tahun tersebut dalam sidang di Pengadilan Magistrat Basingstoke. Selain pelanggaran lalu lintas, Sterling juga mengaku bersalah karena memiliki gas tertawa atau nitrous oxide untuk dihirup secara tidak sah, serta gagal memberikan sampel untuk keperluan analisis.

Perkara ini menarik perhatian luas bukan hanya karena status Sterling sebagai mantan pemain internasional dengan 82 penampilan bersama Inggris, tetapi juga karena kondisinya sedang tidak menentu. Setelah meninggalkan Chelsea pada Januari, ia sempat memperkuat Feyenoord di Liga Belanda, namun kini berstatus tanpa klub. Pengakuan bersalah ini membuka babak baru yang berpotensi memengaruhi masa depan kariernya sekaligus mencoreng reputasinya di mata publik.

Pengakuan Bersalah dan Rincian Dakwaan

Dalam persidangan, Sterling menyatakan bersalah karena mengemudikan Lamborghini Urus secara berbahaya di sejumlah ruas jalan, yakni M25, M3, A327, dan Minley Road. Ia ditangkap tak lama setelah kecelakaan tunggal yang terjadi pada pagi hari tanggal 28 Mei di dekat M3, Hampshire. Pria yang berasal dari Berkshire itu sebelumnya telah dibebaskan dengan jaminan tanpa syarat oleh pengadilan.

Majelis hakim mendengar bahwa kendaraan yang dikemudikan Sterling sempat menyentuh jalur tengah atau central reservation di M3. Ia kemudian keluar di persimpangan 4A, membelok keluar dari jalur A327, dan akhirnya menabrak infrastruktur pinggir jalan di sebuah tempat perhentian atau layby. Insiden itu menyebabkan kerusakan yang digambarkan cukup besar pada mobil tersebut, termasuk pada keempat rodanya, sehingga kendaraan tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Saat kejadian, Sterling kedapatan membawa enam tabung nitrous oxide, zat yang di Inggris digolongkan sebagai obat Kelas C. Dakwaan kepemilikan zat tersebut membuat kasusnya tidak sekadar berkutat pada pelanggaran lalu lintas, melainkan juga menyangkut penggunaan narkotika secara tidak sah.

Kronologi Kejadian di Jalan Tol

Jaksa penuntut, Simon Jones, mengungkapkan bahwa antara pukul 07.45 dan 08.52 polisi menerima sejumlah laporan dari masyarakat mengenai pengemudi yang membahayakan di dua jalan tol tersebut. Laporan-laporan itu menjadi titik awal yang membuat aparat bergerak ke lokasi kecelakaan. Ketika polisi tiba di tempat kejadian, Sterling berada di kursi penumpang dengan dua tabung nitrous oxide tergeletak di pangkuannya.

Sejumlah saksi mengaku melihat pengemudi Lamborghini tersebut menghirup sesuatu dari balon berwarna putih. Salah satunya adalah Fiona Jennings, yang melihat kendaraan itu di M3 sekitar pukul 08.45. Ia sempat mengira ada kantong udara atau airbag yang mengembang, tetapi kemudian menyadari bahwa yang ia lihat adalah balon yang ditiup.

Jennings menyebut apa yang disaksikannya sebagai pengemudian yang benar-benar mengerikan karena mobil itu berpindah-pindah antarlajur secara membahayakan. Menurut Jones, saksi tersebut memiliki kekhawatiran yang sungguh-sungguh bahwa pengemudi itu bisa saja menewaskan seseorang.

Hasil Pemeriksaan Polisi dan Sikap Sterling

Sterling mematuhi tes napas di lokasi kejadian dan hasilnya negatif, begitu pula tes narkoba awal yang tidak menunjukkan indikasi penggunaan kanabis maupun kokain. Namun, pemeriksaan lanjutan yang dilakukan di pusat investigasi kepolisian Basingstoke menyimpulkan bahwa ia berada dalam kondisi terpengaruh. Selama proses tersebut, ia mengungkapkan kepada petugas tahanan bahwa dirinya memiliki masalah dengan nitrous oxide.

Persoalan muncul ketika polisi hendak mengambil sampel darah, yang hanya dapat dilakukan dengan persetujuan yang bersangkutan. Sterling meminta waktu untuk memperoleh nasihat hukum sebelum mengambil keputusan, tetapi menurut seorang sersan polisi, ia dinilai sengaja tidak memberikan jawaban yang jelas. Ketidakbersediaannya memberikan sampel inilah yang kemudian menjadi salah satu dakwaan terhadapnya.

Dalam wawancara lanjutan dengan polisi, Sterling mengakui bahwa dirinya adalah pengemudi mobil tersebut. Meski demikian, ia memilih menjawab “tanpa komentar” ketika ditanya soal pengemudiannya. Kombinasi antara pengakuan sebagian dan penolakan memberikan sampel menjadi bahan perdebatan di ruang sidang.

Argumen Jaksa dan Pembela di Persidangan

Kuasa hukum Sterling, Jason Bartfeld KC, tidak membantah bahwa kasus ini masuk kategori paling berat atau top category. Ia mengakui adanya kondisi terpengaruh yang serius, meski menurutnya hal itu hanya terjadi pada periode-periode singkat selama perjalanan berlangsung. Argumen ini berupaya menggambarkan bahwa gangguan tersebut tidak berlangsung sepanjang pengemudian.

Namun, pihak pembela menolak penilaian bahwa kerusakan pada mobil tergolong serius. Mereka juga menyebut ada kebingungan atau confusion terkait kegagalan memberikan sampel, yang mengindikasikan adanya perbedaan tafsir atas rangkaian peristiwa ketika Sterling diminta menyerahkan sampel darah. Perdebatan ini menunjukkan bahwa titik sengketa utama bukan lagi soal siapa yang mengemudi, melainkan seberapa berat tingkat pelanggaran yang bisa dibebankan kepadanya.

Kepolisian Hampshire sebelumnya menyatakan bahwa dakwaan ini berawal dari kecelakaan kendaraan tunggal di dekat M3 arah selatan, tak jauh dari simpang susun Minley. Pihak kepolisian menegaskan tidak ada kendaraan lain yang terlibat dan tidak ada laporan mengenai korban luka dalam insiden tersebut.

Dampak Kasus Mengemudi Berbahaya Raheem Sterling pada Kariernya

Bagi Sterling, perkara ini datang di tengah masa yang sudah sulit dalam kariernya. Setelah meninggalkan Chelsea, ia bergabung dengan Feyenoord di Eredivisie Belanda, tetapi hanya mencatatkan delapan penampilan. Kini ia berstatus tanpa klub, sehingga ketidakpastian hukum membuat posisinya di bursa transfer maupun perundingan kontrak menjadi semakin rumit.

Selama empat tahun memperkuat Chelsea, termasuk menjalani masa peminjaman satu musim di Arsenal, ia mencatatkan 59 penampilan di liga setelah didatangkan dari Manchester City pada 2022. Bersama City, ia meraih empat gelar Premier League, setelah memulai karier seniornya di Liverpool sebelum pindah ke Manchester pada 2015. Pada 2021, dalam daftar penghargaan Queen’s Birthday Honours, Sterling dianugerahi MBE atas jasanya dalam memperjuangkan kesetaraan ras di dunia olahraga.

Rekam jejak tersebut membuat kasus ini berdampak lebih besar dibanding pelanggaran biasa. Bagi publik dan calon klub, bukan hanya sanksi hukum yang diperhitungkan, tetapi juga risiko reputasi dan pembicaraan seputar penggunaan zat terlarang. Hal ini menjelaskan mengapa meski secara teknis ia dibebaskan dengan jaminan, sorotan terhadap perkaranya tetap tinggi.

Langkah Hukum Berikutnya dan Konteks yang Lebih Luas

Hakim Distrik Kirsty Allman memerintahkan penyusunan laporan pra-putusan atau pre-sentence report sebelum sidang berikutnya. Laporan itu akan menjadi dasar baginya untuk menentukan apakah perkara ini akan diputus di pengadilan magistrat atau dilimpahkan ke pengadilan mahkota atau crown court. Sterling dijadwalkan kembali hadir di pengadilan pada 25 November, dan untuk sementara waktu ia telah didiskualifikasi dari mengemudi.

Persoalan nitrous oxide yang mencuat dalam kasus ini sejalan dengan perhatian yang makin besar terhadap penyalahgunaan gas tertawa, terutama di kalangan anak muda dan figur publik. Zat yang kerap dibeli dalam bentuk tabung kecil itu memang banyak digunakan sebagai rekreasi, tetapi penggunaannya saat mengemudi menciptakan risiko ganda: hilangnya kendali atas kendaraan sekaligus pelanggaran hukum. Keterlibatan seorang mantan pemain internasional menjadikan kasus ini contoh nyata dari bahaya tersebut.

Sementara proses hukum berjalan, Sterling berada dalam posisi menunggu tanpa klub dan tanpa hak mengemudi. Kesaksian bahwa ia tampak mendengarkan dengan penuh perhatian di ruang sidang menunjukkan ia mengikuti jalannya persidangan secara serius. Bagaimanapun, keputusan pengadilan pada 25 November nanti akan menjadi penentu utama arah hukum sekaligus langkah karier berikutnya.

Kesimpulan

Raheem Sterling mengakui bersalah atas pengemudian berbahaya di M25, M3, A327, dan Minley Road sebelum kecelakaan Lamborghini pada 28 Mei, serta atas kepemilikan nitrous oxide dan kegagalan memberikan sampel analisis. Kesaksian saksi, laporan polisi, serta hasil pemeriksaan di pusat investigasi Basingstoke membentuk rangkaian fakta yang mengarah pada kategori pelanggaran paling berat.

Dengan laporan pra-putusan yang tengah disiapkan dan sidang lanjutan pada 25 November, nasib hukumnya masih menunggu keputusan hakim. Yang jelas, perkara ini menambah daftar tantangan bagi seorang pemain yang pernah berada di puncak karier, sekaligus mengingatkan bahwa pengemudian di bawah pengaruh zat apa pun membawa risiko besar bagi keselamatan orang banyak.