Pada laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Inggris dan DR Kongo, jeda hidrasi menjadi sorotan utama. Saat istirahat minum pertama berlangsung, suara cemoohan terdengar dari penonton. Sebagian besar ejekan memang ditujukan pada momen yang sering dipandang negatif, namun sebagian lainnya juga untuk penampilan kurang meyakinkan tim asuhan Thomas Tuchel saat itu.
Yang menarik, jeda hidrasi yang kerap dianggap mengganggu ritme justru menjadi titik balik bagi Inggris. Tim tiga singa tertinggal 0-1 sejak menit ketujuh dan tampil buruk. Namun, jeda minum pertama memberi kesempatan bagi Tuchel untuk berbicara langsung dengan para pemainnya dan melakukan penyesuaian taktik. Dua gol Harry Kane di 15 menit akhir memastikan kemenangan 2-1 dan tiket ke babak 16 besar melawan tuan rumah Meksiko.
Perubahan Performa Inggris Setelah Jeda Hidrasi
Sebelum jeda hidrasi pertama, statistik Inggris sangat memprihatinkan. Mereka tidak punya satu pun tembakan dan tidak ada sentuhan di kotak penalti lawan. Setelah jeda, segalanya berubah. Hingga turun minum, Inggris mencatatkan delapan tembakan dan 20 sentuhan di area terlarang. Pola serupa terulang di babak kedua.
Pada babak kedua, sebelum jeda hidrasi berdurasi tiga menit, Inggris hanya punya dua tembakan dan tujuh sentuhan di kotak penalti. Setelahnya, jumlah tembakan meningkat menjadi enam dan sentuhan menjadi 13, termasuk dua gol kunci Kane. Jeda hidrasi benar-benar menjadi momentum yang dimanfaatkan Tuchel untuk mengubah alur pertandingan.
Komentar Para Pakar dan Pelatih
Mantan striker Inggris Alan Shearer mengakui bahwa meski ia tidak setuju dengan adanya jeda hidrasi, momen itu datang tepat waktu untuk Inggris. “Kau bisa lihat Thomas Tuchel berkeliling ke semua pemain karena belum ada satu pun yang tampil baik. Permainan lambat, banyak kesalahan, terlalu terbuka. Harus lebih baik,” ujarnya di Match of the Day.
Tuchel sendiri mengaku memanfaatkan jeda tersebut sebaik mungkin. “Saya tidak terlalu suka jeda hidrasi. Saya lebih suka permainan mengalir dengan momentum alami. Tapi karena sudah ada, kenapa tidak saya manfaatkan? Saya merasa hari ini lebih mudah berbicara dengan pemain, mereka tenang dan reseptif,” kata pelatih asal Jerman itu.
Pandangan Pemain dan Presiden FIFA
Penyerang Inggris Eberechi Eze menambahkan bahwa jeda hidrasi kadang bisa mengubah momentum dan memberi waktu untuk bernapas. “Kali ini kami berada di sisi yang diuntungkan, tapi itu bagian dari permainan,” ucapnya. Sementara itu, Presiden FIFA Gianni Infantino memuji penggunaan jeda hidrasi oleh Inggris. Menurutnya, jeda itu penting untuk memberi istirahat sekaligus kesempatan bagi pelatih berkomunikasi langsung dengan pemain.
Reaksi Suporter dan Kontroversi Jeda Hidrasi
Meski banyak pelatih melihat nilai positif jeda hidrasi, suporter tetap skeptis. Sebagian menganggapnya sebagai bentuk komersialisasi sepak bola karena banyak penyiar menyisipkan iklan. Ada juga yang protes karena jeda tetap dilakukan di stadion ber-AC meski suhu tidak terlalu panas.
Seorang suporter Inggris di Atlanta mengaku tidak yakin jeda hidrasi menjadi penyebab kebangkitan timnya. “Mungkin mereka sadar bahwa ini bisa menjadi pertandingan terakhir untuk empat tahun ke depan. Itu yang lebih berperan,” katanya. Suporter lain menilai dampak jeda tergantung situasi tim: satu pertandingan bisa menguntungkan, di laga lain justru merugikan.
Namun, ada juga yang menyukai jeda hidrasi. “Ini membantu semua tim. Setiap pertandingan yang kami tonton, jeda hidrasi mengubah permainan. Memberi pelatih kesempatan mengubah keadaan. Saya suka,” ujar seorang penggemar.
Kesimpulan: Jeda Hidrasi sebagai Alat Taktik
Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa jeda hidrasi bukan sekadar istirahat minum. Bagi Inggris, momen tersebut menjadi ajang evaluasi dan pembalik keadaan. Meski kontroversial, fakta di lapangan menunjukkan bahwa jeda hidrasi mampu mengubah momentum secara signifikan. Ke depannya, mungkin akan semakin banyak pelatih yang memanfaatkan momen ini sebagai bagian dari strategi pertandingan mereka.
