Masalah Tuchel di Piala Dunia 2026: Inggris Menang Tapi Belum Meyakinkan

Kemenangan Dramatis yang Menyembunyikan Celah

Inggris nyaris menelan malu besar di Piala Dunia 2026 saat melawan Republik Demokratik Kongo. Beruntung, dua gol Harry Kane di menit-menit akhir menyelamatkan mereka dari kekalahan yang bisa menjadi mimpi buruk nasional. Kemenangan 2-1 itu mengantar Inggris ke babak 16 besar menghadapi tuan rumah bersama Meksiko di Stadion Azteca yang legendaris.

Namun, hasil ini tidak berarti masalah Tuchel di Piala Dunia 2026 sudah selesai. Para pengamat dan mantan pemain justru melihat banyak kelemahan yang terus berulang. Jika bukan karena Kane, pelatih asal Jerman itu mungkin harus menghadapi kritik yang jauh lebih pedas, bahkan nyaris serupa dengan kekalahan memalukan melawan Islandia di Euro 2016 atau AS pada Piala Dunia 1950.

Apakah Tuchel Terlalu Bergantung pada Kane dan Bellingham?

Harry Kane dan Jude Bellingham menjadi andalan utama Inggris di turnamen ini. Keduanya mencetak gol di fase grup melawan Kroasia dan Panama, serta menjadi bintang saat melawan DR Kongo. Namun, ketergantungan berlebihan pada dua pemain ini menjadi salah satu masalah Tuchel di Piala Dunia 2026 yang paling kentara.

Anthony Gordon tampil gemilang sebagai pemain pengganti dengan sumbangan assist, tapi Marcus Rashford dan Noni Madueke kesulitan memberikan dampak. Bukayo Saka juga dimainkan dengan hati-hati karena cedera Achilles. Tuchel perlu segera mencari kontributor lain agar tak selalu mengandalkan momen magis Kane dan Bellingham.

Pemain Sayap yang Inkonsisten

Gordon membuktikan dirinya layak menjadi pilihan utama, sementara Rashford masih mencari performa terbaiknya. Madueke juga belum menunjukkan konsistensi. Jika Inggris ingin melangkah jauh, kontribusi dari sektor sayap harus lebih merata.

Kebingungan Taktik di Lini Belakang dan Sisi Sayap

Salah satu masalah Tuchel di Piala Dunia 2026 yang paling mencolok adalah ketidakjelasan susunan pemain terbaiknya. Posisi bek kanan menjadi “racun” akibat cedera dan performa buruk. Tino Livramento dan Reece James tidak bisa dimainkan karena masalah fisik, sementara Djed Spence hanya bertahan 70 menit sebelum ditarik keluar.

Lebih parah lagi, Declan Rice yang merupakan gelandang jangkar kelas dunia harus dipasang sebagai bek kanan demi menambal lubang. Mantan kapten Inggris Alan Shearer berkomentar di BBC Sport: “Ada terlalu banyak celah di lini belakang. Tuchel harus memutuskan apakah Rice tetap di posisi aslinya atau tidak.”

Micah Richards menegaskan, “Jangan mainkan Rice di bek kanan. Energinya sangat dibutuhkan di lini tengah, apalagi melawan Meksiko dengan ketinggian. Saya akan memainkan Ezri Konsa di bek kanan dan memasang John Stones bersama Marc Guehi.”

Wayne Rooney juga menyoroti kelemahan transisi. “Saat kehilangan bola, Inggris begitu terbuka. Melawan tim yang lebih baik, kita akan dalam masalah besar jika tidak segera diperbaiki,” ujarnya. Kebingungan di sisi sayap dan pergantian pemain yang konstan membuat skema Tuchel belum matang.

Krisis Kreativitas: Palmer, Foden, dan Opsi yang Terabaikan

Keputusan Tuchel meninggalkan pemain kreatif seperti Cole Palmer dan Phil Foden dari skuad Piala Dunia terus dipertanyakan. Meski keduanya musim buruk di klub, Morgan Gibbs-White (Nottingham Forest) dan Alex Scott (Bournemouth) juga diabaikan. Akibatnya, Inggris kekurangan daya cipta, terutama saat bermain imbang tanpa gol melawan Ghana.

Jordan Henderson yang kini 36 tahun hanya jadi pemain cadangan. Pertanyaan kembali muncul: bukankah lebih baik memberikan tempat kepada pemain muda kreatif? Foden sempat dicoba sebagai false nine saat melawan Jepang, tapi eksperimen itu gagal total dan praktis mengakhiri harapannya di turnamen ini.

Tanpa kreator alami, Inggris terlalu bergantung pada momen individu Kane dan Bellingham. Jika mereka tidak tampil, tim sulit menciptakan peluang berbahaya. Ini menjadi masalah Tuchel di Piala Dunia 2026 yang harus segera dicarikan solusi.

Cadangan Striker: Toney dan Watkins Hanya Penumpang?

Sebelum turnamen, kekhawatiran terbesar adalah siapa yang akan menjadi pelapis Kane jika ia cedera. Tuchel memilih Ollie Watkins (Aston Villa) dan Ivan Toney (Al-Ahli) sebagai opsi. Namun, dalam empat pertandingan sejauh ini, Toney tidak dimainkan sama sekali, sementara Watkins hanya turun selama 6 menit saat Inggris sudah unggul atas Panama.

Saat Inggris tertinggal dari DR Kongo dan membutuhkan gol, Toney dan Watkins tetap duduk di bangku cadangan. Tuchel mengaku punya rencana waktu tertentu untuk memainkan mereka, tapi faktanya Kane mencetak gol penentu di menit ke-86. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan Tuchel terhadap kedua striker cadangan sangat rendah.

Jika Kane mengalami cedera di babak gugur, Inggris bisa kehilangan senjata utama mereka. Toney dan Watkins yang “didinginkan” sepanjang turnamen mungkin tidak siap tampil maksimal. Ini adalah salah satu masalah Tuchel di Piala Dunia 2026 yang paling berisiko.

Kesimpulan: Tuchel Masih Punya Pekerjaan Rumah Besar

Kemenangan atas DR Kongo memang memperpanjang napas Inggris di Piala Dunia 2026, tetapi tidak menyelesaikan akar permasalahan. Mulai dari ketergantungan pada Kane dan Bellingham, kebingungan di lini belakang, kurangnya kreativitas, hingga minimnya kepercayaan pada pemain cadangan.

Menghadapi Meksiko di Azteca yang bergemuruh, Inggris butuh peningkatan drastis. Tuchel harus segera menentukan tim inti terbaiknya, mendistribusikan beban serangan secara merata, dan memastikan lini belakang tidak mudah bocor. Jika tidak, impian Piala Dunia bisa berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Masalah Tuchel di Piala Dunia 2026 masih jauh dari selesai.