Manajer Manchester City, Enzo Maresca, menilai sorotan yang terus mengarah pada kontroversi VAR Manchester City setelah kemenangan di markas Manchester United sebagai hal yang “cukup buruk”. Ia menegaskan bahwa kegemilangan performa timnya seolah tertutup oleh perdebatan soal satu keputusan wasit di laga derby tersebut.
Kontroversi itu muncul dari gol Erling Haaland pada menit ke-60 yang mengunci kemenangan 1-0 di Old Trafford. Gol tersebut awalnya dianulir karena offside, lalu disahkan setelah tinjauan VAR. Belakangan, badan perwasitan mengakui keputusan itu keliru, sehingga sorotan媒体 dan publik justru lebih besar daripada pembahasan soal cara City bertahan dengan sepuluh pemain selama mayoritas pertandingan.
Kontroversi VAR Manchester City Bayangi Kemenangan di Old Trafford
City pulang dari Old Trafford dengan tiga poin setelah menang 1-0, tetapi kemenangan itu tidak lepas dari drama. Sebagai tim tamu, City harus bermain dengan sepuluh orang sejak menit ke-23 setelah Phil Foden diganjar kartu merah karena menendang Bruno Fernandes. Kondisi itu memaksa anak asuh Maresca bertahan dan mengatur ritme permainan untuk sisa laga yang berjalan panjang.
Meski kekurangan pemain, City tetap mampu menjaga gawangnya dan mencuri gol lewat Haaland. United sendiri sempat dua kali membentur tiang gawang, masing-masing di sisi berbeda sebelum dan sesudah jeda, sehingga hasil akhir bisa saja berbeda andaikan penyelesaian mereka lebih rapi. Ketajaman Haaland di momen krusial menjadi pembeda tipis antara kedua tim.
Kemenangan tersebut merupakan kemenangan liga keempat beruntun bagi City. Namun, alih-alih membahas konsistensi itu, perbincangan pascapartai lebih banyak didominasi buntut keputusan VAR yang dinilai merugikan tuan rumah dan memunculkan pertanyaan soal kualitas pengambilan keputusan para ofisial.
Kronologi Gol Haaland yang Sempat Dianulir
Gol Haaland mulanya tidak disahkan oleh wasit di lapangan karena dianggap offside. Tinjauan VAR kemudian menilai penyerang asal Norwegia itu berada dalam posisi onside, sehingga gol tersebut akhirnya diberikan dan City unggul. Keputusan inilah yang menjadi titik awal perdebatan panjang setelah pertandingan usai.
Belakangan terungkap bahwa para ofisial seharusnya mengidentifikasi adanya pelanggaran offside lain, yakni dari Enzo Fernandez yang menyelam ke arah bola di posisi tengah dan dianggap mengganggu lawan. Kelalaian mengenali situasi itu membuat keputusan akhir dinilai tidak lengkap, dan badan perwasitan pun mengakui telah terjadi kesalahan.
Maresca menyikapi hal itu dengan tenang dan menganggapnya sebagai bagian dari dinamika sepak bola. Menurutnya, kesalahan sudah diakui dan tidak perlu dibesar-besarkan lebih jauh. Ia mengingatkan bahwa keputusan semacam itu kadang menguntungkan satu tim dan kadang merugikan di kesempatan lain.
Maresca Anggap Fokus ke Satu Insiden Terasa Memalukan
Berbicara dalam konferensi pers sebelum laga putaran ketiga Carabao Cup melawan Norwich City pada Kamis, Maresca menyayangkan mengapa pembahasan hanya berpusat pada satu momen. Ia menekankan bahwa timnya bermain selama 70 sampai 75 menit dengan sepuluh pemain, sehingga menyoroti satu insiden saja terasa tidak adil bagi kerja keras para pemainnya. “Berbicara tentang satu episode atau satu momen setelah pertandingan itu, ketika kami bermain 70-75 menit dengan 10 pemain, saya rasa itu cukup buruk,” ujarnya.
Ia justru memuji penampilan anak asuhnya dan menyatakan kepuasan atas cara timnya menghadapi tekanan di kandang rival. Menurutnya, performa tersebut layak mendapat perhatian lebih besar ketimbang polemik keputusan wasit. “Saya rasa penampilannya luar biasa, dan saya senang dengan penampilan itu,” kata Maresca.
Maresca juga mengungkapkan bahwa City pernah mengalami situasi serupa pada masa lalu. Ketika masih menjadi asisten Pep Guardiola, ia menyaksikan gol yang tidak sah menguntungkan United dalam laga yang berakhir 2-1 pada Januari 2023, dan menurutnya tidak ada permintaan maaf saat itu. “Kami masih menunggu permintaan maaf untuk itu,” tegasnya, merujuk pada perasaan tidak puas yang masih tersisa dari kejadian tersebut.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan posisi Maresca, yang menggantikan Guardiola pada musim panas. Ia tidak ingin timnya terjebak pada narasi korban atau keuntungan keputusan semata, melainkan ingin fokus dibangun dari kualitas permainan yang ia nilai sudah sesuai rencana.
Howard Webb Akui VAR Kurang Cermat Menilai Situasi
Kepala badan perwasitan Premier League, Pro Ref, Howard Webb, secara terbuka mengakui bahwa VAR tidak mempertimbangkan apakah Fernandez berada dalam posisi offside sebelum Haaland menyelesaikan peluangnya. Pengakuan itu disampaikan Webb dalam program ‘Match Officials Mic’d Up’. “Saya benar-benar kecewa dengan hasil ini. Kami semua kecewa,” ucapnya.
Webb menambahkan bahwa kekecewaan terbesar justru dirasakan para ofisial sendiri, karena mereka memiliki kebanggaan pribadi terhadap pekerjaannya. Ia menyebut mereka sedang terluka karena gagal memenuhi standar dalam situasi tersebut. Pernyataan itu menunjukkan bahwa kesalahan bukan hanya diakui secara institusional, tetapi juga berdampak secara personal bagi tim perwasitan.
Menurut Webb, VAR terlalu terpaku pada posisi Haaland sehingga hanya berfokus membuktikan bahwa penyerang itu onside dan golnya sah. Dalam prosesnya, VAR memeriksa apakah Fernandez menyentuh bola, karena hal itu berkaitan dengan kemungkinan bola mengarah ke Haaland yang kemudian mencetak gol. Namun, dampak menyeluruh dari posisi Fernandez dinilai tidak dievaluasi dengan benar.
Dampak bagi City, Kredibilitas VAR, dan Agenda Berikutnya
Bagi City, kontroversi ini tidak mengubah raihan poin, tetapi bisa memengaruhi suasana di dalam tim. Maresca tampak berupaya menutup ruang bagi distraksi dengan mengalihkan perhatian pada performa dan hasil. Pendekatan itu penting mengingat City tengah menjaga momentum kemenangan beruntun di liga.
Di sisi lain, pengakuan terbuka dari badan perwasitan memperlihatkan bahwa tekanan publik terhadap penggunaan VAR semakin besar. Ketika sebuah keputusan disahkan di lapangan lalu dinyatakan keliru setelahnya, kepercayaan terhadap konsistensi teknologi dan para penggunanya menjadi taruhannya. Kasus semacam ini biasanya memicu dorongan untuk perbaikan prosedur, termasuk cara VAR menilai keterlibatan pemain lain dalam situasi offside.
Jadwal City sendiri tidak memberi ruang lama untuk larut dalam polemik. Mereka menjamu Norwich City pada Kamis pukul 19.30 BST di ajang Carabao Cup, sebelum kembali berlaga di liga melawan Sunderland pada Minggu, 20 September pukul 14.00. Dua pertandingan itu menjadi kesempatan bagi Maresca untuk membuktikan bahwa fokus timnya tetap pada sepak bola, bukan pada perdebatan di luar lapangan.
Secara keseluruhan, kemenangan City di Old Trafford menegaskan kualitas mereka dalam situasi sulit, tetapi bintang utamanya justru tercuri oleh keputusan VAR yang berujung pada permintaan maaf yang tak kunjung datang. Maresca memilih membela penampilan timnya, sementara Webb mengakui adanya kekurangan dari sisi perwasitan. Perpaduan dua sikap itu menggambarkan betapa rumitnya menerima hasil pertandingan ketika teknologi ikut menentukan.
Yang tersisa kini adalah bagaimana kedua pihak melangkah maju: City berusaha menjaga konsistensi di tengah sorotan, dan perwasitan dituntut memperbaiki cara kerja agar keputusan serupa tidak lagi menjadi pusat perhatian setelah pertandingan usai.
