FIFA secara keras mengecam apa yang disebutnya sebagai “upaya terkoordinasi dan berkelanjutan” untuk melemahkan organisasi serta presidennya, Gianni Infantino. Pengecaman ini muncul setelah laporan Daily Telegraph yang mengklaim bahwa kekasih dugaan Infantino menerima pesangon dari UEFA setelah ia berselingkuh saat menjabat sebagai sekretaris jenderal UEFA. Seorang juru bicara FIFA mengatakan kepada Telegraph bahwa Infantino “sangat membantah” tuduhan tersebut dan menyebutnya “sama sekali tidak benar”.
Ketegangan antara FIFA dan otoritas sepak bola Eropa semakin memanas dalam beberapa pekan terakhir. Infantino berada di bawah tekanan besar dari UEFA dan sejumlah asosiasi sepak bola Eropa terkait proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) yang dibatalkan. UEFA bahkan menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap Infantino dan mengancam akan memboikot berbagai ajang resmi FIFA.
FIFA Kecam Kampanye untuk Jatuhkan Gianni Infantino
Dalam pernyataan resminya pada Sabtu, FIFA menyerang balik apa yang disebutnya sebagai “asumsi tak berdasar dan klaim yang terbukti palsu”. FIFA juga menegaskan bahwa “spekulasi dan sindiran tidak boleh disajikan sebagai fakta”. Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap pemberitaan Daily Telegraph yang mengaitkan Infantino dengan skandal pribadi di masa lalu.
Laporan Telegraph tersebut mengklaim bahwa seorang perempuan yang diduga menjadi kekasih Infantino menerima pembayaran pesangon dari UEFA. Pembayaran itu diduga terjadi setelah Infantino menjalin hubungan gelap saat ia masih berstatus sekretaris jenderal UEFA. Namun, FIFA dengan tegas membantah seluruh tuduhan tersebut dan menilai pemberitaan itu merupakan bagian dari kampanye terencana untuk menjatuhkan presidennya.
FIFA menambahkan bahwa pihak-pihak yang tidak mendapat dukungan dari asosiasi anggota FIFA seharusnya tidak berusaha meraih tujuan melalui tuduhan atau informasi yang menyesatkan. “Mereka yang tidak memiliki dukungan dari asosiasi anggota FIFA tidak boleh berusaha mencapai melalui tuduhan, sindiran, atau misinformasi apa yang tidak bisa mereka capai melalui proses demokrasi FIFA yang mapan,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Sikap ini menunjukkan bahwa FIFA menganggap kritik yang beredar bukan sekadar masukan, melainkan gerakan sistematis untuk menggulingkan kepemimpinan yang sah.
Akar Masalah: Proposal FFE yang Memicu Amarah Eropa
Tekanan terhadap Infantino sebenarnya sudah menguat jauh sebelum tuduhan pribadi tersebut mencuat ke publik. Pemicu utamanya adalah proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akhirnya dibatalkan setelah menuai penolakan keras dari berbagai pihak. Konsep FFE sendiri sebenarnya cukup ambisius dan menuai kontroversi sejak awal:
- FIFA berencana membentuk perusahaan baru untuk mengelola hak komersial dan hak tiket seluruh kompetisinya.
- Sebanyak 21 persen saham perusahaan tersebut akan dijual kepada sebuah perusahaan investasi swasta.
UEFA sebagai induk sepak bola Eropa dengan tegas menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Infantino. Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF), Lise Klaveness, bahkan secara terbuka meminta Infantino untuk mengundurkan diri pada Jumat lalu. Ancaman boikot terhadap ajang-ajang FIFA juga masih tetap berlaku karena UEFA belum menerima jaminan bahwa rencana FFE tidak akan dihidupkan kembali di kemudian hari.
Penolakan dari kubu Eropa ini memperlihatkan adanya perpecahan mendasar antara FIFA dan salah satu konfederasi terbesarnya. Infantino sendiri menegaskan bahwa ia terpilih secara demokratis melalui mekanisme asosiasi anggota FIFA. Menurut FIFA, presidennya itu terus menjabat dengan mandat penuh yang diberikan oleh asosiasi-asosiasi tersebut.
Implikasi: Dukungan Global Memperkuat Posisi Infantino
Meskipun tekanan terhadap Infantino terus menguat, posisinya sebagai presiden FIFA sejauh ini masih terbilang aman. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa oposisi terhadap kepemimpinannya sebagian besar hanya berasal dari dalam Eropa. Sementara itu, dukungan dari berbagai kawasan lain di dunia justru mengalir deras dan solid.
Federasi Sepak Bola Meksiko menjadi contoh nyata pecahnya solidaritas regional dalam isu ini. Meksiko memilih berbeda dari badan pengatur regionalnya, Concacaf, dan secara terang-terangan menyatakan dukungan terhadap Infantino. Beberapa pihak lain juga menunjukkan sikap serupa:
- Conmebol, badan sepak bola Amerika Selatan, menolak upaya memecat Infantino tanpa voting yang melibatkan seluruh 211 negara anggota FIFA.
- Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) memberikan dukungan bulat dari 54 negara anggotanya.
Dengan kombinasi dukungan dari Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian Amerika Utara, mekanisme untuk melengserkan Infantino melalui jalur demokrasi FIFA tampak sangat sulit untuk ditempuh. FIFA sendiri menegaskan bahwa presidennya dipilih secara demokratis oleh asosiasi anggota. Oleh karena itu, peluang keberhasilan kampanye yang digerakkan dari Eropa untuk menjatuhkan Infantino melalui prosedur formal terbilang sangat tipis.
FIFA: Kritik Sah, tetapi Jangan Distorsi Fakta
Dalam menghadapi berbagai serangan tersebut, FIFA mengambil sikap defensif namun tetap tegas. Infantino mengundang anggota dewan manajemen FIFA ke sebuah pertemuan di Rabat, Maroko, pada Rabu lalu. Dalam pertemuan itu, FIFA mengeluarkan pernyataan atas nama Infantino dan sekretaris jenderal Mattias Grafstrom yang meminta maaf atas proposal FFE.
Namun, dalam pernyataan yang sama, FIFA juga menegaskan tidak akan lagi menoleransi serangan terhadap integritas, tata kelola yang baik, dan proses hukum yang selama ini dijalankan organisasi tersebut. Pernyataan yang dirilis pada Sabtu malam itu menekankan bahwa perubahan selalu menantang kepentingan yang mapan. “Ketidaksetujuan terhadap perubahan itu tidak dapat membenarkan upaya untuk merusak mandat demokratis presiden FIFA atau institusi yang dipimpinnya,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
FIFA menegaskan bahwa pihaknya menyambut pengawasan yang sah dari siapa pun, tetapi pengawasan bukan lisensi untuk mendistorsi fakta. “FIFA menyambut pengawasan yang sah. Tetapi pengawasan bukanlah lisensi untuk mendistorsi fakta, memperkuat tuduhan tanpa bukti, atau menciptakan gangguan yang dirancang untuk merusak kemajuan,” tambah FIFA. Organisasi ini juga mengancam akan menantang langsung dan tegas setiap pemberitaan yang dianggap tidak akurat atau menyesatkan.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Situasi antara FIFA dan UEFA saat ini berada pada titik yang sangat rawan. UEFA masih menahan ancaman boikot terhadap ajang-ajang FIFA, sementara FIFA bersikeras bahwa presidennya memiliki mandat demokratis yang kuat. Jika ketegangan ini berlanjut, bukan tidak mungkin akan terjadi perpecahan yang lebih dalam dalam tata kelola sepak bola dunia.
Di sisi lain, Infantino tampaknya masih memiliki pijakan yang kokoh berkat dukungan luas dari Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Kampanye untuk menjatuhkannya yang sebagian besar digerakkan dari Eropa menghadapi jalan terjal di tingkat global. Meskipun demikian, tuduhan-tuduhan baru yang terus beredar di media berpotensi menggerus citra FIFA dan presidennya di mata publik dari waktu ke waktu.
Yang jelas, FIFA telah menyatakan sikapnya untuk tidak tinggal diam menghadapi berbagai kritikan tersebut. Organisasi ini siap menantang langsung setiap laporan yang dianggap tidak akurat atau menyesatkan. Pertarungan antara FIFA dan para pengkritiknya di Eropa masih jauh dari kata selesai.
Pada akhirnya, FIFA menilai kampanye untuk melengserkan Gianni Infantino sebagai upaya terkoordinasi yang tidak berdasar dan sarat kepentingan politik. Meskipun tekanan dari Eropa terus menguat, presiden FIFA itu masih menikmati dukungan luas dari luar Eropa. Kebenaran dari berbagai tuduhan yang beredar kini menunggu proses pembuktian, tetapi yang pasti pertarungan kekuasaan dalam sepak bola dunia belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
