Perjuangan Fans Brighton, dari Goldstone hingga Amex

Perjuangan fans Brighton & Hove Albion untuk menyelamatkan klub mereka dari kehancuran pada pertengahan 1990-an kembali dihidupkan, kali ini di atas panggung teater. Sebuah drama bertajuk Stand or Fall karya pendukung Brighton, Mark Brailsford, dijadwalkan tampil selama empat malam mulai 23 September di Theatre Royal, bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-125 klub tersebut.

Kisahnya bukan sekadar nostalgia sepak bola. Semua bermula dari satu telepon pada Juli 1995, ketika Ian Hart — pengusaha rumah duka asal Worthing yang juga menjadi co-editor fanzine Gull’s Eye — menerima kabar bahwa Goldstone Ground, markas Brighton sejak 1902, sudah dijual dan klub berencana pindah ke Portsmouth. Dari situ lahirlah konflik panjang antara suporter dan pemilik klub yang mengubah arah sejarah Brighton selamanya.

Perjuangan Fans Brighton Dimulai dari Satu Telepon

Penelepon itu adalah Gordon Lucking, seorang direktur Crystal Palace. Menurut Hart, Lucking sejak lama ingin masuk ke jajaran direksi Brighton, tetapi tidak diinginkan di sana. Sebaliknya, Ron Noades yang saat itu menjabat chair Crystal Palace justru menyambutnya dengan tangan terbuka, sehingga informasi apa pun tentang kesulitan Brighton menjadi sesuatu yang menarik baginya.

Bocoran itu datang dari jalur yang tak terduga. Salah satu karyawan Lucking ikut dalam sebuah acara golf, lalu di malam harinya seseorang yang mabuk membuka rahasia: Brighton telah menjual Goldstone Ground dan akan pindah ke Portsmouth. Hart menyebut Lucking sangat menyukai kabar tersebut karena bagi Palace, itu seperti satu paku lagi yang ditancapkan ke peti mati Brighton.

Hart awalnya sulit percaya bahwa stadion yang menjadi rumah Brighton selama hampir satu abad bisa berada dalam bahaya. Ia kemudian memutuskan mendatangi kantor chief executive David Bellotti untuk mencari jawaban langsung. Dalam bukunya, Brighton & Hove Albion: From Every Angle yang terbit tahun lalu, Hart menulis bahwa ia memarkir mobil jenazahnya di luar kantor, masuk, dan bertanya terus terang apakah benar stadion telah dijual dan klub akan pindah ke Portsmouth. Bellotti, tulisnya, langsung kehilangan seluruh warna di wajahnya.

Dari Rapat di Pub sampai Aksi di Atas Lapangan

Beberapa hari setelah kabar penjualan Goldstone menyebar, para pendukung menggelar pertemuan di pub Chapman’s — yang kini bernama Railway — di Worthing. Hadir sekitar 40 hingga 50 orang dari berbagai latar belakang, dan dari pertemuan kecil itulah gerakan perlawanan mulai tumbuh. Setahun berselang, jumlahnya meledak: sekitar 500 orang tidak bisa masuk ke lokasi pertemuan dan terpaksa mendengarkan lewat pengeras suara di luar klub malam Concorde ketika situasi kian memanas.

Hart menggambarkan kelompok aksi itu sebagai kumpulan orang dari demografi yang sangat beragam. Di dalamnya ada pengusaha rumah duka, penyair pertunjukan punk, akuntan publik bersertifikat, tukang plester, dan buruh bangunan. Salah satu nama yang menonjol adalah John Baine, penyair punk yang lebih dikenal dengan nama panggung Attila the Stockbroker.

Ketegangan mencapai puncaknya pada April 1996, ketika 600 penonton menyerbu lapangan Goldstone Ground setelah Brighton menang atas Carlisle. Mereka menuntut Bellotti mundur, sebagian merobek kursi di area directors’ box, dan upaya menerobos ruang direksi pun terjadi. Insiden lain yang kemudian masuk cerita rakyat Brighton adalah laga melawan York, saat pendukung menunggu hingga menit ke-16 sebelum masuk ke lapangan sehingga pertandingan terpaksa dibatalkan.

Hart menolak menyebut aksi-aksi itu sebagai kerusuhan. Baginya, itu adalah protes yang sah. Ia menilai FA dan Football League saat itu bersikap seperti Neville Chamberlain di Munich, melambaikan selembar kertas dan meyakinkan semua akan baik-baik saja, seolah bisa memberi janji kosong dan para suporter akan menerimanya begitu saja.

Harga yang Dibayar dan Titik Balik Brighton

Goldstone Ground akhirnya dibongkar setahun kemudian, setelah Brighton berada hanya 27 menit dari degradasi dari Football League. Klub diselamatkan oleh gol penyama kedudukan Robbie Reinelt melawan Hereford, setelah sebelumnya sempat tertinggal 13 poin di dasar Divisi Tiga yang kini bernama League Two. Musim berikutnya, Brighton kembali finis di posisi ke-91 Football League dan harus memainkan laga kandang di Gillingham setelah Portsmouth membatalkan tawaran berbagi stadion.

Periode nomaden itu meninggalkan luka yang bertahan lama. Hart menyebut klub kehilangan satu generasi pendukung, dan meski kini mereka sudah kembali, selama bertahun-tahun ia melihat tim-tim sepak bola berlatih pada Sabtu pagi di taman-taman Worthing dengan seragam lengkap tetapi tanpa satu pun kaus Brighton. Sebagai pelatih di Worthing United dari kelompok umur di bawah enam hingga di bawah 16 tahun, ia bahkan melarang siapa pun bermain tanpa mengenakan kaus Brighton atau Worthing.

Titik balik datang pada 1997 ketika Dick Knight menjadi chair Brighton melalui konsorsium yang dipimpin suporter. Kepemimpinannya menstabilkan klub, yang kemudian kembali bermain di kota sendiri, meski harus menumpang di Withdean, stadion yang sejatinya diperuntukkan bagi cabang atletik. Baru setelah Tony Bloom mengambil alih kursi chair pada 2009, Brighton benar-benar lepas landas: pindah ke Amex Stadium dua tahun berselang dan promosi ke Premier League pada 2017.

Dari Withdean ke Panggung Eropa

Kebangkitan itu kini terlihat di level tertinggi Eropa. Pada 2024, Brighton mencapai babak 16 besar Europa League pada kampanye Eropa pertama mereka, dan musim ini klub berlaga di Conference League. Pencapaian tersebut menjadi kontras tajam dengan masa ketika klub nyaris kehilangan tempat di Football League dan harus menempuh 70 mil untuk bermain di kandang sendiri.

Hart berharap Brighton bisa melengkapi perjalanan itu dengan trofi mayor. Ia mengingat janji Bloom soal trofi saat reuni final FA Cup 1983 beberapa tahun lalu, dan mengaku sempat berbincang sambil minum bersama Bloom di Tromsø sebelum laga playoff Conference League di Norwegia bulan lalu. Meski begitu, ia tidak ingin terbebani ekspektasi yang berlebihan.

Baginya, daya tarik utama dari kisah ini justru terletak pada naik-turunnya. Dalam drama yang dipentaskan nanti, ada momen-momen tinggi dan rendah, dan menurut Hart, momen tinggi tidak bisa benar-benar dirayakan tanpa melewati masa-masa sulit. Kombinasi itulah yang membuat seluruh cerita Brighton terasa jauh lebih luar biasa.

Pameran dan Drama untuk Mengenang Perang Sipil Klub

Selain pertunjukan teater, sebuah pameran dengan judul yang sama, Stand or Fall, telah dibuka di Brighton Museum sejak Agustus dan akan berlangsung hingga akhir tahun. Pameran itu mendetailkan apa yang disebut Hart sebagai perang sipil klub, lengkap dengan berbagai momen krusial dalam perjuangan suporter mempertahankan klub mereka. Hart sendiri bertindak sebagai produser untuk drama yang akan dipentaskan di Theatre Royal tersebut.

Alur cerita drama ini mengikuti sekelompok pendukung sejak hari-hari terakhir di Goldstone pada 1997. Perjalanan mereka berlanjut ke masa pengasingan 70 mil di Gillingham, lalu ke Withdean Stadium di Brighton, sebelum akhirnya klub menemukan rumah baru di Amex Stadium. Dengan rentang waktu itu, pementasan tersebut sekaligus menjadi potret perjalanan panjang Brighton selama 125 tahun.

Bagi Hart, momen-momen kebersamaan di masa sulit itulah yang paling layak dikenang. Orang-orang dari berbagai profesi dan latar belakang terlempar bersama dalam satu tujuan yang sama, sesuatu yang menurutnya tidak akan terjadi tanpa tekanan sebesar itu. Pengalaman tersebut pula yang membuat kisah perlawanan suporter Brighton tetap relevan untuk diceritakan kembali kepada generasi pendukung saat ini.

Perjalanan Brighton dari Goldstone yang dibongkar hingga Amex Stadium dan panggung Eropa adalah cerita tentang klub yang hampir kehilangan identitasnya. Perjuangan fans Brighton pada 1990-an tidak hanya menyelamatkan stadion, tetapi juga menjaga keberadaan klub di kota yang menjadi akarnya. Lewat drama Stand or Fall dan pameran di Brighton Museum, babak paling gelap sekaligus paling heroik dalam sejarah klub itu kini bisa disaksikan oleh siapa pun, termasuk mereka yang belum pernah mengalami masa-masa itu secara langsung.