Piala Dunia 2026 Jadi Momentum Besar bagi MLS
Piala Dunia 2026 telah membuka mata dunia terhadap sepak bola di Amerika Serikat. Tidak hanya sebagai tuan rumah, tetapi juga sebagai ajang promosi besar-besaran bagi Major League Soccer (MLS). Dalam sebuah kampanye iklan, Lionel Messi, Son Heung-min, David Beckham, dan puluhan pemain MLS lainnya mengajak penggemar baru untuk menyaksikan liga ini. Mereka menyampaikan pesan: “Terima kasih dunia, selanjutnya kami yang akan mengurusnya.”
MLS bahkan menawarkan tiket gratis bagi penggemar yang baru pertama kali menonton. “Piala Dunia kini telah memperkenalkan jutaan orang pada Major League Soccer,” ujar Dan Courtemanche, wakil presiden eksekutif MLS yang sudah bergabung sejak 1995. “Kami akan terus memanfaatkan momentum ini.”
Sejarah MLS: Lahir dari Piala Dunia 1994
MLS sendiri merupakan produk warisan dari Piala Dunia 1994. Saat itu FIFA mewajibkan AS mendirikan liga profesional sebagai syarat menjadi tuan rumah. Liga ini memulai perjalanannya pada 1996 dengan 10 klub dan tanpa satu pun stadion khusus sepak bola. Tiga puluh tahun kemudian, MLS memiliki 30 klub dan hampir sebanyak itu stadion sepak bola khusus.
Meskipun banyak yang meragukan kursi kosong karena harga tiket mahal, stadion-stadion justru penuh. Rating siaran juga mengesankan, bahkan setelah tim AS tersingkir. Pertandingan AS vs Belgia di babak 16 besar menjadi siaran sepak bola paling banyak ditonton di satu jaringan dalam sejarah AS, dengan lebih dari 33 juta pemirsa di Fox. Sementara kemenangan Inggris atas Meksiko menarik 45 juta penonton gabungan di Fox dan Telemundo.
Target MLS: Menjadi Liga Elit Seperti Eropa
MLS bercita-cita menjadi liga elite setara kompetisi top Eropa. Komisaris MLS Don Garber mengatakan, “Kami sudah memecahkan kode komersial. Sekarang saatnya memecahkan sisanya.” Liga ini terus menunjukkan pertumbuhan kuat sejak musim pertamanya 30 tahun lalu. Pada Piala Dunia 2026, ada 45 pemain MLS yang berlaga, termasuk Messi dan Rodrigo de Paul di final Argentina.
MLS memang sempat dikenal sebagai tempat pensiun para superstar. Namun Courtemanche menyebut reputasi itu sudah usang. Rata-rata usia pemain internasional baru di MLS kini 23,8 tahun. Banyak dari mereka bercita-cita ke Eropa setelah merasakan MLS. Mulai 2027, kalender MLS akan berubah ke musim semi-musim panas agar lebih selaras dengan Eropa, memudahkan perpindahan pemain.
Investasi pada Pembinaan Usia Muda
Semua tim MLS menjalankan akademi pemuda. Saat LA Galaxy menggelar nonton bareng kemenangan AS atas Bosnia, puluhan anak-anak justru lebih asyik bermain di tiga lapangan terpisah. Mereka sesekali berlari ke layar besar ketika mendengar suara gol. Ini adalah permainan spontan yang jarang terjadi di budaya anak-anak yang sangat terjadwal. Beberapa anak itu bermain untuk tim usia muda MLS.
Seorang bocah 8 tahun bernama Landon—dinamai sesuai bintang AS Landon Donovan—berkata ia bercita-cita menjadi pemain profesional di MLS. “LAFC,” katanya tentang tim impiannya. Namun para kritikus menilai MLS tidak akan bisa bersaing dengan Eropa sebelum menyelesaikan budaya “pay-to-play” dalam pembinaan usia muda. Di level atas, akademi MLS melatih pemain muda secara gratis, seperti di Eropa. Namun untuk mencapai level itu, keluarga biasanya harus membayar ribuan dolar untuk les privat dan tim perjalanan.
Pejabat MLS mengatakan liga terus berkembang dalam hal pembinaan bakat muda. Setiap tim memiliki beasiswa untuk pemain berbakat. Garber menambahkan, “Kami akan terus meningkatkan pembinaan pemain muda agar bisa menyumbang lebih banyak untuk tim nasional pria dan menjadi lebih baik, lebih besar, lebih kuat, lebih cepat.”
Daya Tarik Selebriti dan Bisnis MLS
Messi menjadi magnet terbesar MLS. Namun budaya selebriti menjalar ke seluruh liga. Lebih dari dua lusin penghibur dan atlet memiliki saham klub MLS, seperti Will Ferrell (LAFC), Reese Witherspoon (Nashville SC), Matthew McConaughey (Austin FC), dan Magic Johnson (LAFC). Bisnis ini sangat menguntungkan. Drew Carey menjadi pemilik asli Seattle Sounders saat klub bergabung pada 2009 dengan biaya ekspansi 30 juta dolar. Kini Sounders bernilai lebih dari 900 juta dolar. David Beckham, lewat kontraknya tahun 2007, memperoleh opsi membeli tim ekspansi MLS seharga 25 juta dolar. Ia kini memiliki Inter Miami yang nilainya diperkirakan lebih dari satu miliar dolar.
Tantangan Budaya: Sepak Bola vs Sepak Bola Amerika
Meski demam Piala Dunia melanda AS, banyak yang percaya budaya AS tetap mengutamakan sepak bola Amerika (american football). Brian Udovich, ayah dari pemain muda Croil, mengatakan banyak anak berbakat meninggalkan sepak bola untuk beralih ke american football saat remaja karena gemerlapnya pertandingan Jumat malam. “Bagi budaya lain, sepak bola berarti lebih banyak daripada bagi kami,” ujarnya.
Namun Michael Bradley, pelatih New York Red Bulls, optimistis. “Kami tidak memiliki sejarah sepak bola panjang seperti negara lain. Dulu itu menimbulkan rasa inferior. Tapi sekarang banyak penggemar di AS merasa bangga. Saya pikir kita bisa berkata dengan tegas pada 2026: sepak bola tidak akan ke mana-mana.”
Kesimpulan: Masa Depan Cerah MLS
Piala Dunia 2026 menjadi titik balik bagi MLS. Liga ini telah menunjukkan pertumbuhan pesat, baik dari segi bisnis, pembinaan pemain, maupun basis penggemar. Meski tantangan budaya masih ada, optimisme dan investasi terus mengalir. Dengan perubahan kalender, pengembangan akademi, dan daya tarik bintang dunia, MLS berpeluang besar naik ke level liga elite global. Masa depan sepak bola di Amerika tampak semakin cerah berkat dampak Piala Dunia 2026 pada MLS.
