Mengenal Michael Olise, Pemain Sepak Bola yang Unik dan Pendiam
Michael Olise bukanlah pesepakbola biasa. Lahir dan besar di Inggris, ia kini menjadi bintang Prancis yang bersinar terang di Piala Dunia 2026. Bermain sebagai gelandang serang atau sayap kanan untuk Bayern Munchen, Olise dikenal karena karakternya yang sangat pendiam—ia jarang merayakan gol, menghindari wawancara, bahkan tidak memiliki kontrak dengan merek perlengkapan olahraga atau sepatu mana pun.
Di usianya yang ke-24, pemain yang pernah memperkuat Reading dan Crystal Palace ini mencatatkan 25 gol dan 28 assist di musim pertamanya bersama Bayern Munchen. Penampilannya membuat banyak pihak menyebutnya sebagai salah satu pemain terbaik dunia saat ini. Menjelang babak 16 besar melawan Paraguay, Olise bahkan menjadi pemain pertama yang mencatat lima assist dalam satu edisi Piala Dunia sejak Thomas Hassler (Jerman) pada 1994.
Orang-orang terdekatnya sejak kecil mengatakan sikapnya yang tertutup bukanlah arogansi—melainkan murni “Michael menjadi dirinya sendiri.”
Masa Kecil: Bakat Luar Biasa yang Tidak Suka Sorotan
Lahir dari Orang Tua Multikultural
Michael Olise lahir di London dari ibu keturunan Prancis-Aljazair bernama Mina dan ayah asal Nigeria, Vincent. Sejak usia muda, bakatnya sudah terlihat jelas. Daniel Coker, guru olahraganya di Dr Triplett’s CE Primary School di Hayes, London, mengingat bagaimana Olise sudah masuk akademi Chelsea saat masih kecil.
“Saat melihatnya bermain di usia 10-11 tahun, saya langsung tahu dia akan menjadi sesuatu yang istimewa,” kata Coker kepada BBC Sport. “Dia bisa unggul di semua cabang olahraga yang dicobanya.”
Namun yang paling menonjol adalah ketidaksukaan Olise terhadap keramaian. “Michael adalah anak pendiam dan pemalu. Ia memberi banyak assist, mencetak banyak gol, tapi tidak pernah merayakan. Dia langsung kembali ke posisi dan ingin bermain lagi,” tambah Coker. “Dia bukan tipe yang menikmati momen. Saat sekarang saya melihatnya di layar kaca tidak merayakan gol, itu persis seperti yang selalu ia lakukan.”
Kepala Sekolah Rachel Anderson bahkan kesulitan membujuk Olise kembali ke kelas setelah bermain sepak bola, apalagi jika timnya kalah. “Dia akan terus menendang bola di dalam kelas. Saya harus berkali-kali bilang, ‘Cukup, Michael, sudah waktunya belajar’,” kenangnya.
Perfeksionis Sejak Kecil
Olise juga dikenal perfeksionis dan suka menganalisis segalanya. Menurut Anderson, ia adalah anak cerdas yang berprestasi secara akademis. Sejak usia dini, ia sudah menunjukkan kecenderungan memilih Prancis sebagai negara yang akan dibelanya. Coker mengatakan Olise sangat menikmati budaya Prancis, sering berkunjung ke sana, dan tertarik belajar bahasanya.
Perjalanan Karir yang Penuh Rintangan
Dicampakkan Chelsea dan Manchester City
Adik Michael, Richard (21), juga pesepakbola profesional yang baru saja dilepas Chelsea—sama seperti Michael satu dekade lalu. Olise sempat bergabung dengan akademi Arsenal, lalu menghabiskan tujuh tahun di Chelsea sebelum dilepas di usia 14 tahun. Kemudian ia singgah sebentar di Manchester City, namun lagi-lagi dilepas.
Nasib Olise mulai berubah saat bergabung dengan Reading yang saat itu bermain di Championship. Brendan Flanagan, kepala rekrutmen Reading, harus meyakinkan pihak klub untuk merekrut pemain berusia 16 tahun yang sudah dua kali dicampakkan itu.
“Karena prasangka di sepak bola, saya butuh waktu lebih lama meyakinkan orang di klub bahwa Michael layak direkrut—dia dilepas Chelsea, dilepas Man City, dan banyak yang melihat itu sebagai masalah besar,” kata Flanagan. Namun Flanagan yakin bahwa sifat pendiam Olise bukanlah kelemahan, melainkan hanya perbedaan yang bisa diakomodasi.
Kepercayaan Diri yang Dibangun Kembali
Flanagan khawatir kehilangan Olise ketika ibunya mengatakan perlu waktu untuk membangun kembali kepercayaan diri sang putra setelah kegagalan di Chelsea dan City. “Dia bilang mereka akan bekerja dengan mentor karena Michael sedang rendah percaya diri. Saya pikir, ‘Sudah, habislah—lain kali saya lihat dia, dia akan bermain melawan kita’,” ujar Flanagan.
Empat minggu kemudian, Mina menelepon dan mengatakan mereka siap. “Dia menepati janjinya. Itulah tipe orang jujur dan tulus yang mereka miliki. Michael datang ke Reading dan kami tidak pernah punya masalah dengannya. Tanpa keraguan, dia adalah pemain terbaik yang pernah saya datangkan ke klub ini.”
Olise sangat antusias datang latihan pagi-pagi buta—kadang sudah berada di tempat parkir sejak pukul tujuh pagi, padahal latihan dimulai pukul sembilan. Ia bahkan tertidur di mobilnya sebelum sesi dimulai.
Menembus Tim Senior dan Memilih Prancis
Olise menjalani debut untuk Reading pada Maret 2019 melawan Leeds, hanya beberapa hari setelah bergabung dengan latihan tim utama. Selama tiga musim, ia tampil 73 kali dan mencetak tujuh gol. Di Reading pula ia mendapat panggilan pertama ke tim junior Prancis.
“Tidak mengejutkan bahwa ia memilih Prancis, karena merekalah yang pertama menghubunginya,” kata Flanagan. “Di kelompok usia 2001 Inggris, mayoritas pemain dari Manchester City, Chelsea, Man Utd, Arsenal, Tottenham—jarang dari Reading. Michael adalah tipe yang akan berkata, ‘Mereka memilih saya lebih dulu, kalian tidak menginginkan saya saat muda, jadi saya akan ke sana’.”
Bersinar di Premier League hingga Pindah ke Bayern
Reading memiliki klausul rilis senilai £8 juta, yang diaktifkan Crystal Palace yang saat itu dilatih legenda Prancis Patrick Vieira pada Juli 2021. Di Premier League, kualitas Olise segera terlihat meski ia lebih berperan sebagai penyedia assist—19 assist dan enam gol dalam dua musim pertamanya.
Pada musim panas 2023, Chelsea mengaktifkan klausul rilis £35 juta untuk merekrut kembali pemain yang dulu mereka lepas. Namun mengejutkan banyak pihak, Palace mengumumkan bahwa Olise menandatangani kontrak baru. Musim terakhirnya di Selhurst Park benar-benar menunjukkan ketajamannya: 10 gol dan enam assist hanya dari 19 pertandingan (14 starter), meski diganggu cedera.
Setelah musim 2023-24, ia bermain untuk Prancis di Olimpiade Paris di bawah asuhan Thierry Henry dan asisten Gael Clichy. Mantan bek City dan Arsenal itu mengatakan, “Saya sangat berharap City bisa merekrutnya kembali. Saat Olimpiade saya bertemu langsung dengannya, dan sekarang dunia menemukan pemain yang sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi menempuh jalannya sendiri.”
Sebelum Olimpiade dimulai, Bayern Munchen mengumumkan perekrutan Olise dengan biaya sekitar £50 juta. Klub boleh menolak pemain tampil di Olimpiade, dan Bayern melakukannya untuk rekan setimnya Mathys Tel. Namun Clichy mengatakan Olise meminta Bayern mengabulkan satu keinginan: menyelesaikan petualangan Olimpiade. “Ini momen yang benar-benar menonjol. Seorang pemain muda yang baru mendapat transfer besar meminta hal seperti itu jarang terjadi. Saat itulah kami sadar dia bukan hanya pemain hebat, tapi juga pribadi yang luar biasa.”
Olise membantu Prancis mencapai final Olimpiade, meski kalah dari Spanyol setelah perpanjangan waktu.
Menjadi Bintang di Piala Dunia 2026
Bergabung dengan Bayern Munchen yang dilatih Vincent Kompany, performa Olise meroket. Ia langsung menembus tim senior Prancis. Bermain di posisi sayap kanan, ia mencatat 17 gol dan 18 assist di musim pertama, lalu meningkat menjadi 25 gol dan 28 assist di musim kedua—total 88 kontribusi gol dalam dua musim.
Mantan striker Prancis dan pakar BBC, Olivier Giroud, memujinya: “Dia bekerja keras untuk tim, punya bakat, tapi juga pemain tim. Dia begitu rileks saat memotong ke dalam dengan kaki kirinya—mirip Arjen Robben dulu.”
Banyak momen viral Olise di Bayern justru tentang usahanya menghindari sorotan: menjauhi perayaan, menolak wawancara TV, atau trofi Bundesliga yang diangkat setengah hati. Ia juga sering berjalan di lapangan dengan sandal sebelum pertandingan untuk mengecek permukaan. Clichy berkomentar, “Lucu melihatnya berjalan santai dengan sandal jepit di lapangan, tapi itulah dia. Pemain santai yang memiliki sihir di kakinya.”
Kesuksesan Olise membuatnya tak bisa menghindari sorotan. Namanya mulai disebut-sebut sebagai kandidat Ballon d’Or. Peluangnya semakin besar jika ia mampu membawa Prancis juara di Piala Dunia 2026—ia hanya kurang satu assist untuk menyamai rekor Pele (enam assist dalam satu edisi Piala Dunia).
“Suatu hari Michael bisa menjadi pesaing Ballon d’Or,” kata Giroud. “Jika Anda memenangkan trofi, Ballon d’Or akan datang. Tapi menurut saya ia berpikir lebih kolektif dibanding egois. Itulah kepribadiannya. Anda bisa lihat di lapangan, jika ia bisa memberi assist, ia akan memberikan, bahkan jika ia sendiri bisa mencetak gol. Itu yang membuatnya berbeda dan istimewa. Ia bisa mencapai puncak tertinggi.”
Kesimpulan: Keunikan yang Membuat Michael Olise Istimewa
Michael Olise mungkin tidak pernah menjadi bintang panggung yang mencolok. Namun di balik sifatnya yang pendiam, perfeksionis, dan tidak suka sorotan, tersimpan bakat kelas dunia yang kini bersinar di Piala Dunia 2026. Dari masa kecil yang penuh penolakan hingga menjadi andalan Prancis dan Bayern Munchen, perjalanannya membuktikan bahwa menjadi berbeda bukanlah kelemahan. Gaya bermainnya yang tenang namun mematikan, serta kepribadiannya yang rendah hati, menjadikannya salah satu pesepakbola paling unik dan menarik untuk disaksikan.
